TIRANA, LENSA-INDO.COM – Gelombang unjuk rasa antipemerintah di Albania memasuki hari ketujuh pada Senin (19/10/2026). Bentrokan antara demonstran dan polisi kembali pecah di sejumlah titik di ibu kota Tirana, sementara Perdana Menteri Edi Rama menegaskan tidak akan mundur dan menyebut para perusuh telah melewati “garis merah”.
Menurut laporan TRT World, massa berkumpul di depan Kementerian Pendidikan dan kembali menuntut Rama beserta kabinetnya meletakkan jabatan. Di dekat gedung Pengadilan Banding, pengunjuk rasa melempar batu dan petasan hingga memecahkan kaca jendela. Polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata dan meriam air di sekitar Taman Rinia, sedangkan di dekat Kementerian Dalam Negeri massa melemparkan batu, petasan, hingga bom molotov.
Aksi juga meluas ke luar ibu kota. Mahasiswa di Shkodër, Lezhë, Vlorë, dan Elbasan turun ke jalan, sebagian di antaranya memboikot perkuliahan.
Rama: Protes Itu Hak, Kekerasan Itu Kejahatan
Melalui unggahan di Facebook, Rama menulis bahwa “protes adalah hak, sedangkan kekerasan adalah kejahatan,” seperti dilaporkan Knews. Ia menyatakan pemerintah terbuka untuk berdialog dengan demonstran, kecuali dengan pihak yang memakai kekerasan dan partai yang tidak menjaga jarak darinya. Rama juga menuding ada kekuatan asing di balik kerusuhan, tanpa menyebut pihak tertentu.
Pada saat yang sama, Rama mengumumkan bonus 2.500 euro bagi setiap polisi yang bertugas di garis depan serta kenaikan gaji polisi yang signifikan mulai Januari. Sejak Sabtu, aparat juga mulai menggunakan peluru karet untuk membubarkan massa.
Korban dan Penangkapan
Kementerian Dalam Negeri Albania mencatat sekitar 300 orang terluka sejak protes dimulai, hampir dua pertiganya polisi. Sebelumnya, data Kementerian Kesehatan yang dikutip Business Standard menyebut 272 orang terluka per 18 Oktober, termasuk 169 polisi. Reuters, seperti dikutip media yang sama, melaporkan 388 orang telah didakwa melakukan tindak pidana. Pada Minggu (18/10), kebakaran sempat terjadi di gedung Mahkamah Agung.
Pada Senin, otoritas mengonfirmasi lima orang kembali ditangkap, sementara 15 tersangka lain masih diburu.
Konteks: Dari Biaya Kuliah hingga Korupsi
Kerusuhan terbaru bermula pada 13 Oktober, dipicu keluhan mahasiswa soal biaya kuliah, kondisi kampus yang memburuk, dan sempitnya lapangan kerja. Tuntutan itu kemudian melebar menjadi protes nasional terhadap korupsi pejabat dan naiknya biaya hidup.
Dalam beberapa bulan terakhir, warga Albania juga menggelar rangkaian protes yang dijuluki “Revolusi Flamingo” untuk menolak proyek resor mewah di kawasan pesisir dekat lahan basah yang dilindungi. Proyek itu dikaitkan dengan investor Jared Kushner.
Partai Demokrat yang beroposisi mendukung tuntutan perubahan dan mendesak pembentukan pemerintahan sementara serta pemilu dipercepat. Komisi Eropa mengecam aksi kekerasan, namun menegaskan hak warga untuk berunjuk rasa secara damai. Rama sendiri berpendapat kerusuhan justru membahayakan ambisi Albania untuk bergabung dengan Uni Eropa.
Foto: Arsip Juni 2026 — aksi protes “Revolusi Flamingo” di Tirana, Albania. Albinfo / Wikimedia Commons (CC BY 4.0)
Sumber:


