TANEGASHIMA, LENSA-INDO.COM – Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) berhasil meluncurkan wahana Martian Moons eXploration (MMX) dari Pusat Antariksa Tanegashima, Selasa (20/10/2026) pukul 04.41.03 waktu Jepang atau 03.41 WITA. Wahana ini akan menuju Phobos, bulan terbesar Mars, untuk mengambil sampel permukaannya dan membawanya pulang ke Bumi.
Dalam pernyataan resminya, JAXA menyebut roket H3 penerbangan ke-10 terbang sesuai rencana. Wahana MMX terpisah dari roket sekitar 71 menit 13 detik setelah lepas landas dan telah masuk ke orbit yang ditentukan.
Roket H3 Versi Terkuat
Menurut NASASpaceFlight.com, peluncuran ini memakai konfigurasi H3-24L, varian H3 paling bertenaga dengan tinggi sekitar 63 meter. Roket tersebut ditenagai dua mesin LE-9 berbahan bakar oksigen dan hidrogen cair, ditambah empat pendorong roket padat. Wahana MMX sendiri berbobot sekitar 4.480 kilogram.
Kantor berita Antara, mengutip NHK, melaporkan biaya proyek ini mencapai 55,3 miliar yen atau sekitar Rp6,31 triliun. Wahana terdiri atas tiga modul, termasuk perangkat pengambil sampel dan sejumlah instrumen pengamatan.
Perjalanan Panjang hingga 2031
Berdasarkan jadwal di situs resmi misi MMX, wahana akan menempuh perjalanan sekitar satu tahun menuju Mars. NASASpaceFlight.com memperkirakan MMX tiba di Mars pada Agustus 2027, lalu memasuki orbit di sekitar Phobos dan memetakan bulan tersebut lebih dari satu tahun sebelum mendarat.
JAXA merencanakan dua kali pendaratan lunak untuk mengambil sampel dengan target lebih dari 10 gram material Phobos. Wahana dijadwalkan meninggalkan Mars pada 2030, dan kapsul sampel akan mendarat di Australia pada 2031.
Misi ini melibatkan kerja sama internasional. NASA menyumbang instrumen MEGANE dan alat pengambil sampel pneumatik, badan antariksa Prancis (CNES) bersama Jerman (DLR) menyediakan robot penjelajah IDEFIX yang akan dilepas ke permukaan Phobos, sedangkan Badan Antariksa Eropa (ESA) mendukung pelacakan melalui stasiun buminya.
Konteks: Menjawab Asal-usul Bulan Mars
Phobos dan bulan Mars lainnya, Deimos, hingga kini masih menyimpan teka-teki. Para ilmuwan memperdebatkan apakah keduanya merupakan asteroid yang tertangkap gravitasi Mars atau terbentuk dari serpihan tabrakan besar di planet tersebut. Sampel langsung dari Phobos diharapkan membantu menjawab pertanyaan itu sekaligus memberi petunjuk tentang sejarah awal Tata Surya.
MMX melanjutkan rekam jejak Jepang dalam misi pengambilan sampel antariksa. Sebelumnya, wahana Hayabusa2 berhasil membawa pulang sampel dari asteroid Ryugu pada 2020. Jika berhasil, MMX akan menjadi misi pertama yang membawa sampel dari bulan milik planet lain ke Bumi.
Arti bagi Indonesia
Bagi pelajar dan mahasiswa di Indonesia, termasuk di Sulawesi Utara, misi seperti MMX menunjukkan bagaimana sains, teknik, dan kerja sama lintas negara berjalan beriringan dalam proyek jangka panjang. Data dari misi ini nantinya juga dapat dimanfaatkan komunitas ilmiah dunia untuk riset planet dan antariksa.
Foto: Ilustrasi – Citra berwarna Phobos yang diambil kamera HiRISE wahana Mars Reconnaissance Orbiter, 2008. NASA/JPL-Caltech/University of Arizona / Wikimedia Commons (Domain publik)
Sumber:


