BMKG: El Niño Kian Menguat, Musim Hujan Mundur di 61 Persen Wilayah; Sulut Masih Kemarau

Diagram kondisi El Niño di Samudra Pasifik Ilustrasi: Diagram El Niño. Fred the Oyster (berdasarkan NOAA/PMEL/TAO) / Wikimedia Commons (Domain publik)

JAKARTA, LENSA-INDO.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat fenomena El Niño terus menguat. Anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 Samudra Pasifik mencapai +3,33°C pada awal Oktober 2026, naik dari +2,83 pada akhir Agustus 2026. Kondisi ini membuat sebagian besar Indonesia, termasuk Sulawesi Utara, masih bertahan dalam musim kemarau hingga pertengahan Oktober.

Angka Utama dari BMKG

  • Anomali suhu muka laut Niño 3.4: +3,33°C (awal Oktober 2026), naik 0,50 poin dari +2,83 (akhir Agustus 2026)
  • Indeks ENSO tiga bulanan: +3,08 (Agustus–September–Oktober), naik dari +2,63 (Juli–September)
  • Indeks Dipole Mode (IOD) September: +0,72, naik dari +0,376 pada Agustus
  • Wilayah yang sudah masuk musim hujan per dasarian I Oktober: 7,6 persen (53 zona musim); yang masih kemarau 76,2 persen (533 zona musim)
  • Awal musim hujan 2026/2027 lebih lambat dari normal di 529 zona musim atau 61,08 persen wilayah

Dalam siaran pers 22 September 2026, BMKG menyebut El Niño berada pada kategori sangat kuat. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan kombinasi El Niño dan IOD positif yang terjadi bersamaan ikut “memperparah dan memperpanjang periode kekeringan”.

Kapan Musim Hujan Datang?

BMKG memprediksi awal musim hujan berlangsung bertahap. Sebanyak 185 zona musim (24,66 persen wilayah) diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026, disusul 266 zona musim (17,31 persen) pada Desember 2026. Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember 2026 di 155 zona musim, Januari 2027 di 162 zona musim, dan Februari 2027 di 190 zona musim.

Musim hujan kali ini juga diperkirakan lebih singkat dari biasanya di 482 zona musim (51,90 persen). Meski begitu, sifat hujannya diprediksi normal di 510 zona musim. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengingatkan potensi lonjakan curah hujan yang dapat memicu banjir dan tanah longsor, serta peningkatan kasus demam berdarah setelah puncak musim hujan.

Posisi Sulawesi Utara

Berdasarkan pemutakhiran BMKG untuk dasarian I Oktober 2026 yang dikutip CNBC Indonesia, Sulawesi Utara bersama Gorontalo dan Sulawesi Tenggara masih tergolong dalam musim kemarau. Dalam prediksi musim hujan, BMKG memasukkan sebagian Sulawesi Utara ke dalam daftar wilayah yang puncak musim hujannya diperkirakan jatuh pada Desember 2026.

Laporan prakiraan cuaca sepekan BMKG periode 16–22 Oktober juga mencatat masih adanya titik panas dan kabut asap di sebagian besar Pulau Sulawesi. Pada 14 Oktober, BMKG mendeteksi 66 titik panas di Sulawesi dari total 1.297 titik panas di Indonesia.

Artinya bagi Warga Sulut

Dengan musim hujan yang mundur, warga Sulut perlu bersiap menghadapi kemarau yang lebih panjang beberapa pekan ke depan. BMKG merekomendasikan sejumlah langkah, antara lain:

  • Petani: menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas berumur pendek.
  • Rumah tangga: menghemat air dan menambah kapasitas penampungan air.
  • Lingkungan: tidak membakar lahan atau sampah karena memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan.
  • Kesehatan: menjaga sirkulasi udara di rumah saat kualitas udara menurun, serta mulai menggalakkan pemberantasan sarang nyamuk menjelang musim hujan.

Karena prakiraan dapat diperbarui, warga disarankan memantau informasi resmi dari BMKG dan Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, bukan dari kabar yang belum terverifikasi.

Foto: Ilustrasi – Diagram kondisi El Niño di Samudra Pasifik. Fred the Oyster, berdasarkan diagram NOAA/PMEL/TAO / Wikimedia Commons (Domain publik)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *