TOMPASO, LENSA-INDO.COM – Di lereng perbukitan Tompaso, Kabupaten Minahasa, sebongkah batu besar berukir menyimpan salah satu kisah terpenting dalam sejarah orang Minahasa. Namanya Watu Pinawetengan. Bagi masyarakat setempat, batu ini bukan sekadar benda purbakala, melainkan penanda tempat para leluhur bermusyawarah, membagi wilayah, dan mengikat janji untuk bersatu.
Hingga kini, Watu Pinawetengan rutin didatangi warga lokal, diaspora Minahasa, hingga wisatawan mancanegara. Berikut hal-hal yang perlu diketahui tentang situs bersejarah ini.
Makna Nama: Batu Tempat Pembagian
Kata pinawetengan berasal dari weteng atau meweteng yang berarti membagi. Karena itu, Watu Pinawetengan kerap diterjemahkan sebagai “batu tempat pembagian”. Dalam penggunaan bahasa Minahasa lama, kata ini juga dimaknai sebagai janji atau sumpah bersama yang disepakati dalam sebuah musyawarah.
Situs ini berada di Desa Pinabetengan, kawasan Tompaso, Kabupaten Minahasa, di kaki pegunungan Tonderukan dan lereng Gunung Soputan. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari Manado atau kira-kira satu jam perjalanan darat. Batu ini juga dikenal dengan sebutan Watu Rerumeran ne Empung, yang berarti batu tempat para leluhur berunding.
Legenda Musyawarah Para Leluhur
Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, keturunan Toar dan Lumimuut, leluhur orang Minahasa, semakin banyak dan menyebar mencari tanah baru. Perselisihan soal wilayah pun muncul. Untuk menyelesaikannya, para pemimpin adat yang disebut tonaas dikumpulkan di batu tersebut untuk bermusyawarah.
Hasil perundingan itu membagi wilayah dan mata pencaharian, sekaligus menandai lahirnya kelompok-kelompok subetnis Minahasa. Sejumlah sumber menyebut sembilan subetnis, yaitu Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Toulour, Tonsawang, Pasan, Ponosakan, Bantik, dan Siao. Versi lain hanya menyebut empat kelompok utama dalam pembagian awal, yakni Tonsea, Toulour, Toumayesu, dan Tountemboan.
Musyawarah itu juga melahirkan tekad untuk bersatu menghadapi ancaman dari luar. Dari semangat inilah, menurut sebagian penutur, sebutan Malesung bergeser menjadi Mina Esa atau Maesa, yang berarti menjadi satu, dan kemudian berkembang menjadi Minahasa.
Ukiran yang Menyimpan Teka-teki
Permukaan batu dipenuhi goresan berupa figur manusia, simbol yang menyerupai alat kelamin laki-laki dan perempuan, motif daun, serta garis-garis tak beraturan. Sebagian ukiran diyakini merekam hasil perundingan para pemimpin adat, sementara sebagian lain belum diketahui maknanya dengan pasti.
Warga setempat memiliki tafsiran beragam. Ada yang melihat bentuk batu sebagai peta wilayah Minahasa, ada pula yang menganggapnya menyerupai sosok manusia yang sedang bersujud kepada Sang Pencipta.
Musyawarah di Watu Pinawetengan juga dikaitkan dengan nilai-nilai yang masih dipegang orang Minahasa, seperti masawawangan (saling menolong), masasan (bersatu), dan malioliosan (saling berbuat baik).
Kapan Musyawarah Itu Terjadi? Ada Beberapa Versi
Waktu musyawarah di Watu Pinawetengan belum disepakati para peneliti. Beberapa pendapat yang beredar antara lain:
- Perhitungan berdasarkan silsilah oleh peneliti Belanda J.G.F. Riedel menempatkannya sekitar tahun 670 Masehi, sejalan dengan tradisi lisan yang menyebut abad ke-7.
- Pendapat lain memperkirakan musyawarah berlangsung antara abad ke-2 hingga ke-4 Masehi.
- Ada pula peneliti yang menduga ukiran batu jauh lebih tua, berasal dari masa kedatangan penutur Austronesia ribuan tahun sebelum Masehi; sebagian tulisan bahkan menyebut sekitar 1000 SM.
Catatan sejarah menyebut situs ini ditemukan kembali oleh Riedel pada 1881. Ukiran di batu tersebut kemudian terungkap melalui penggalian pada 1888. Perbedaan versi ini wajar karena sebagian besar kisahnya bersumber dari tradisi lisan.
Ziarah 3 Januari dan Pentas Budaya 7 Juli
Watu Pinawetengan tetap hidup dalam tradisi masyarakat. Setiap 3 Januari, kawasan ini menjadi tujuan ziarah yang kerap diiringi tarian Kabasaran. Sementara pada 7 Juli, situs ini menjadi panggung pertunjukan seni dan budaya Minahasa, termasuk tradisi yang mulai jarang ditampilkan.
Selain itu, banyak keluarga Minahasa datang untuk berkumpul dan mempererat tali persaudaraan, seolah mengulang semangat musyawarah para leluhur.
Etika Berkunjung
- Ingat bahwa situs ini dianggap sakral oleh sebagian masyarakat. Bersikaplah sopan dan berpakaian pantas.
- Jangan menyentuh, memanjat, menggores, atau mencoret batu, karena ukirannya rapuh dan tak tergantikan.
- Ikuti arahan juru pelihara atau pemandu setempat, terutama saat ada ritual atau acara adat.
- Jalan menuju desa cukup sempit, jadi berkendaralah dengan hati-hati dan parkir di tempat yang disediakan.
- Bawa kembali sampah Anda agar kawasan tetap bersih.
Watu Pinawetengan mengajarkan bahwa perbedaan dapat diselesaikan lewat musyawarah. Pesan yang terpahat sejak ratusan, bahkan mungkin ribuan, tahun silam itu tetap relevan bagi masyarakat Sulawesi Utara hari ini.
Foto: Ilustrasi – Peta perkiraan wilayah subetnis Minahasa berdasarkan batas kecamatan saat ini, 2020. CakalangSantan / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Sumber:


