MINAHASA, LENSA-INDO.COM – Tari Katrili adalah tarian pergaulan khas Minahasa yang dibawakan berpasangan oleh penari pria dan wanita, dipandu seorang pemimpin yang meneriakkan aba-aba. Berbeda dari Kabasaran yang lahir dari tradisi perang atau Maengket yang berakar pada syukur panen, Katrili merupakan hasil perjumpaan budaya Minahasa dengan Eropa. Namanya sendiri berasal dari quadrille, dansa berpasangan asal Prancis yang populer di Eropa pada abad ke-18 dan ke-19.
Kajian koreografi yang disusun Sri Sunarmi, Riris Setyo Sundari, dan Widyata Nikbert Sarayar dalam jurnal Dinamisia (Desember 2025) menyebut Katrili kini tergolong “tari kreasi baru” di Minahasa. Gerakannya sederhana dan simbolis, sehingga mudah dipelajari pelajar maupun mahasiswa seni. Di balik kesederhanaan itu, tersimpan cerita panjang tentang bagaimana masyarakat Minahasa menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan jati dirinya.
Asal-usul Tari Katrili: Jejak Portugis, Spanyol, dan Prancis
Menurut kajian Sunarmi dan rekan, Katrili berawal dari kedatangan pedagang Portugis dan Spanyol ke Sulawesi Utara untuk membeli hasil bumi. Setelah transaksi besar, mereka menggelar pesta yang diisi dansa berpasangan. Masyarakat setempat kemudian meniru dan mengembangkan tarian tersebut. Pada masa pengaruh Spanyol, tarian pergaulan ini dikenal dengan nama Lansee.
Ada beberapa versi mengenai siapa yang paling berperan membentuk Katrili. Kajian arsitektur budaya Tondano yang ditulis Gissela Fiska Tinggogoy dan rekan dalam jurnal DeSciArs Universitas Negeri Manado menyebut tarian ini dibawa orang Portugis dan Spanyol. Namun, nama “Katrili” dan aba-aba berbahasa Prancis yang dipakai hingga kini menunjukkan jejak quadrille Prancis, yang kemungkinan masuk belakangan melalui pergaulan pada masa kolonial. Kajian Dinamisia mencatat bahwa pada masa Spanyol aba-aba diberikan dalam campuran bahasa Portugis-Spanyol, sebelum kemudian dikenal dalam bahasa Prancis.
Menariknya, Katrili juga dihubungkan dengan tarian lokal yang lebih tua, yakni Lalaya’an ne Kawasaran, di mana para penari membentuk dua barisan berhadapan lalu bertukar tempat. Pola bertukar posisi ini masih tampak dalam Katrili. Unsur lalayaan sendiri dikenal sebagai salah satu bagian dalam Kabasaran maupun Maengket, sebagaimana diulas Good News From Indonesia.
Gerak, Aba-aba, dan Formasi
Katrili dipimpin seorang pemandu yang disebut kapel atau ketapel. Ia meneriakkan aba-aba yang menentukan gerakan berikutnya, sehingga para penari harus menyimak dengan saksama. Struktur dasarnya, menurut kajian Dinamisia, terdiri dari dua jenis langkah: langkah wals dengan birama 3/4 dan langkah gallop dengan birama 2/4.
Urutan umumnya dapat diringkas sebagai berikut:
- Masuk barisan. Penari memasuki arena dengan berjalan dalam barisan menyerupai baris-berbaris.
- Saling memberi hormat. Setiap penari pria menundukkan kepala kepada pasangannya, lalu dibalas sang pasangan. Gerakan ini melambangkan sikap saling menghormati.
- Bergandengan dan berputar. Pasangan saling bergandengan tangan, berputar, lalu bertukar posisi dengan pasangan lain.
- Katrili bundar. Seluruh penari membentuk lingkaran besar.
- Variasi pola lantai. Formasi simetris seperti lingkaran, garis sejajar, segitiga, dan huruf V.
Karena seluruh gerak bergantung pada aba-aba kapel, kekompakan menjadi kunci. Penari tidak cukup menghafal urutan, tetapi juga harus peka terhadap pasangan dan kelompok lain. Inilah yang membuat Katrili sering dipakai sebagai sarana belajar menari bersama di sekolah: sederhana, tetapi melatih disiplin, kerja sama, dan rasa hormat kepada sesama penari.
Jumlah penarinya beragam. Kajian tersebut mencatat Katrili bisa dibawakan 4 sampai 8 pasang, dengan 8 pasang sebagai kebiasaan yang umum, ditambah satu orang pemimpin.
Musik dan Busana
Secara tradisional, Katrili diiringi kolintang, alat musik pukul khas Minahasa, sering kali dengan lagu daerah atau mars dan kadang disertai vokal. Alternatif lain adalah suling bambu dengan tambur. Iramanya lembut dan teratur, tetapi tetap bernuansa riang; kajian Dinamisia menyebut irama wals dan irama “Caca” sebagai pengiring. Kini, banyak pertunjukan menggunakan rekaman musik digital.
Busananya mencerminkan pengaruh Eropa: penari wanita mengenakan gaun, sedangkan pria memakai jas dan topi. Sejumlah sanggar juga mengembangkan kostum kreasi dengan warna cerah. Pembaca yang ingin mengenal lebih jauh alat musik pengiringnya dapat membaca ulasan kolintang, dari bilah kayu hingga warisan budaya dunia UNESCO.
Makna dan Keberadaannya di Sulut Kini
Katrili melambangkan keterbukaan dan keramahan orang Minahasa dalam menyambut tamu, sekaligus nilai saling menghormati, persatuan, dan kebersamaan. Di Tondano, tarian ini disebut sebagai salah satu dari tiga tarian tradisional bersama Maengket dan Kabasaran, dan biasa dibawakan pada pesta perkawinan.
Selain di pesta pernikahan, Katrili tampil dalam acara penyambutan tamu, pelantikan pejabat, upacara resmi, kegiatan sekolah, peringatan Hari Kemerdekaan, hingga lomba. Meski begitu, kajian Dinamisia mencatat tarian ini kini makin jarang dibawakan. Para peneliti mendorong pemanfaatan dokumentasi koreografinya sebagai bahan ajar mata kuliah tari di Universitas Negeri Manado serta pengamatan latihan di sanggar-sanggar di Minahasa dan Manado.
| Aspek | Katrili | Maengket | Kabasaran |
|---|---|---|---|
| Akar | Akulturasi Minahasa–Eropa | Syukur panen padi | Tarian perang |
| Penari | Berpasangan, dipimpin kapel | Berpasangan, dipimpin pemimpin lagu | Penari pria (waranei) |
| Suasana | Riang, pergaulan | Khidmat, syukur | Gagah, tegas |
Bagi yang ingin membandingkan, ulasan lengkap tentang tari Maengket juga tersedia di Lensa Indo.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Dari mana nama Katrili berasal?
Nama Katrili berasal dari kata Prancis quadrille, sejenis dansa berpasangan yang populer di Eropa.
Siapa yang memimpin tari Katrili?
Seorang pemandu yang disebut kapel atau ketapel, yang meneriakkan aba-aba untuk setiap pergantian gerak.
Berapa jumlah penarinya?
Umumnya 4 sampai 8 pasang penari pria dan wanita, dengan 8 pasang sebagai kebiasaan yang lazim.
Di acara apa Katrili biasa ditampilkan?
Pesta perkawinan, penyambutan tamu, upacara resmi, kegiatan sekolah, perayaan kemerdekaan, dan festival budaya.
Penutup
Katrili menunjukkan bahwa budaya Minahasa tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh dari perjumpaan dengan dunia luar. Dari dansa pesta para pedagang Eropa, tarian ini menjadi milik masyarakat Minahasa dengan iringan kolintang dan nilai saling menghormati. Menjaga Katrili tetap hidup, baik di sanggar, sekolah, maupun pesta keluarga, berarti merawat salah satu cerita akulturasi paling khas di Sulawesi Utara.
Foto: Ilustrasi, pasangan pengantin Kristen bersama keluarga dan pengiring di Manado pada masa kolonial; Katrili lazim dibawakan di pesta perkawinan Minahasa. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Sumber:


