MINAHASA, LENSA-INDO.COM – Bunyinya renyah, hangat, dan mudah dikenali: tong untuk nada rendah, ting untuk nada tinggi, dan tang untuk nada tengah. Dari bunyi-bunyi itulah, menurut cerita yang paling sering dituturkan, alat musik kebanggaan Minahasa ini mendapat namanya: kolintang.
Kini kolintang tidak hanya terdengar di acara adat dan pesta di Sulawesi Utara. Alat musik pukul dari bilah kayu ini telah tampil di berbagai negara dan, sejak Desember 2024, tercatat dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO.
Asal-usul Nama: Tong, Ting, Tang
Masyarakat Minahasa dahulu disebut mengajak orang bermain musik dengan ungkapan “ber-tong-ting-tang” atau dalam bahasa daerah Maimo Kumolintang. Lama-kelamaan, ajakan itu melekat menjadi nama alat musiknya. Penjelasan ini dikutip dari pendiri Sanggar Bapontar, Beiby Sumanti, dalam artikel DJKN Kementerian Keuangan, dan juga dimuat dalam penelitian di jurnal Kompetensi Universitas Negeri Manado (UNIMA).
Selain itu, ada pula legenda rakyat tentang seorang penyanyi cantik bernama Lintang yang bersedia dinikahi pemahat kayu bernama Makasiga, asalkan ia mampu menciptakan alat musik yang bunyinya lebih merdu daripada seruling emas. Dari upaya Makasiga itulah, menurut kisah tersebut, lahir cikal bakal kolintang. Seperti banyak tradisi lisan, cerita ini punya beberapa versi dan sebaiknya dipahami sebagai legenda, bukan catatan sejarah.
Dari Ritual Leluhur hingga Pesta Pernikahan
Pada bentuk awalnya, kolintang hanyalah beberapa bilah kayu yang dijajarkan di atas kaki pemain yang duduk di tanah. Penelitian di jurnal Kompetensi UNIMA mencatat bahwa kolintang dahulu kerap mengiringi upacara adat penghormatan kepada leluhur. Dalam perkembangannya, kolintang menjadi pengiring setia pesta pernikahan; sejak masa Perang Dunia II hingga awal 2000-an, hampir setiap hajatan pernikahan di Minahasa diramaikan oleh kolintang.
Bilah kayu kemudian diletakkan di atas peti kayu yang berfungsi sebagai ruang resonansi, seperti bentuk yang dikenal sekarang. Penelitian yang sama menyebut tokoh Nelwan Katuuk sebagai salah satu figur penting yang memperkenalkan kembali kolintang dalam bentuk ansambel modern.
Kayu Pilihan dan Penalaan yang Teliti
Kolintang dibuat dari kayu lokal yang ringan tetapi padat, dengan serat sejajar yang rapi. Jenis yang disebut dalam berbagai sumber antara lain kayu telur, wenang, cempaka, waru, bandaran, dan kakinik. Perbedaan sumber ini wajar karena perajin di tiap daerah memakai kayu yang tersedia di sekitarnya.
Proses menala nada dilakukan dengan mengikis bagian bawah bilah sedikit demi sedikit hingga mencapai nada yang diinginkan. Kesalahan pada satu nada dapat merambat ke nada-nada berikutnya, sehingga dibutuhkan kepekaan tinggi.
Wilayah nadanya pun berkembang. Menurut penelitian UNIMA, pada 1954 kolintang masih bertangga nada diatonis dengan jangkauan sekitar dua setengah oktaf. Sekitar 1960 jangkauannya bertambah menjadi tiga setengah oktaf, dan kini kolintang dapat mencapai enam oktaf dengan tangga nada kromatis.
Satu Ansambel, Banyak Suara
Kolintang jarang dimainkan sendirian. Dalam ansambel modern, ada kolintang melodi sebagai pembawa lagu, lalu pengiring seperti ukulele (juk), banyo, gitar, selo, dan bas. Kombinasi ini membuat kolintang luwes memainkan lagu daerah, lagu rohani, hingga lagu populer.
Diakui Dunia Bersama Balafon
Kolintang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2013. Pengakuan internasional menyusul pada sidang ke-19 Komite Antarpemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Takbenda UNESCO di Paraguay, 5 Desember 2024.
Kolintang diakui dalam berkas bersama dengan balafon, gambang kayu dari Mali, Burkina Faso, dan Pantai Gading, karena kemiripan bahan, bentuk, fungsi, dan cara pewarisannya. Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat itu menyebut kolintang sebagai simbol harmoni, persatuan, dan kreativitas masyarakat Indonesia, seperti dilaporkan Antara.
UNESCO menyoroti bahwa pewarisan kolintang melibatkan pemusik, perajin, peneliti, dan akademisi, serta menjangkau anak muda dan perempuan melalui pendidikan dan kegiatan budaya.
Tantangan Pelestarian
Pengakuan dunia tidak otomatis menjamin kelestarian. Penelitian di jurnal Kompetensi mencatat sejumlah tantangan: modernisasi, maraknya keyboard elektronik di pesta, berkurangnya kelompok kolintang, pelatih yang berpindah, minat generasi muda yang lemah, serta dukungan yang terbatas. Sekolah, sanggar, gereja, dan pemerintah daerah punya peran besar agar bunyi tong-ting-tang tetap terdengar di Tanah Minahasa.
Foto: Pemain kolintang, arsip 2008. Sakurai Midori / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Sumber:


