MANADO, LENSA-INDO.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi cuaca ekstrem di tujuh kabupaten/kota di Sulawesi Utara pada Minggu (1/11/2026), meski El Niño berintensitas sangat kuat masih berlangsung. Wilayah yang perlu waspada adalah Kota Tomohon, Kota Bitung, Kabupaten Minahasa, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Bolaang Mongondow, dan Bolaang Mongondow Utara. Secara nasional, BMKG memperkirakan musim hujan mulai datang bertahap pada November dan mencapai puncaknya pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
Peringatan Cuaca Ekstrem Sulut
Peringatan untuk Sulut disampaikan Koordinator Bidang Operasional Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, Karina Husna, seperti dilaporkan Metro TV yang mengutip Antara. BMKG meminta warga mewaspadai hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang, serta peningkatan akumulasi curah hujan.
Sehari sebelumnya, Sabtu (31/10), potensi cuaca ekstrem diprakirakan terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara, dan Kepulauan Talaud. Adapun hingga Jumat (30/10), cuaca Sulut diprakirakan cerah hingga hujan ringan.
Mengapa Hujan Turun saat El Niño Sangat Kuat?
Kondisi ini terdengar bertolak belakang. Menurut paparan BMKG Manado, El Niño saat ini berintensitas sangat kuat dengan indeks NINO 3.4 sebesar +2,76 dan Southern Oscillation Index (SOI) -19,7. El Niño menghambat pertumbuhan awan sehingga mengurangi curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran.
Namun, ada faktor lain yang bekerja dalam skala lebih pendek. BMKG menyebut Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi mendukung pembentukan awan di Sulut pada akhir pekan, ditambah labilitas atmosfer lokal yang kuat. Dalam penjelasan terpisah yang dikutip CNBC Indonesia, BMKG juga menyebut uap air dari suhu muka laut yang hangat, pertemuan angin (konvergensi), serta aktivitas gelombang atmosfer seperti gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial sebagai pemicu hujan lebat lokal di tengah musim kemarau.
Prakiraan Awal November: Hujan Mulai Bertambah
Untuk dasarian I (sepuluh hari pertama) November 2026, BMKG memprakirakan 67,62 persen wilayah Indonesia masuk kategori curah hujan menengah (50–100 mm per dasarian), 30,57 persen kategori rendah (0–50 mm), dan 1,81 persen kategori tinggi (150–300 mm). Wilayah bercurah hujan rendah terkonsentrasi di Lampung, Banten, Jakarta, pantai utara Jawa, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Sulawesi dan Maluku.
Dalam prakiraan periode 30 Oktober–1 November yang dikutip CNBC Indonesia, Sulawesi Utara termasuk provinsi yang berpotensi hujan intensitas sedang. Artinya, peringatan cuaca ekstrem dari BMKG Manado bersifat lokal dan sesaat, bukan tanda musim hujan sudah tiba sepenuhnya.
Dampaknya bagi Warga Sulut
Kombinasi kemarau panjang akibat El Niño dan hujan lebat sesaat membawa dua risiko sekaligus. Di satu sisi, warga dan petani masih perlu menghemat air serta mewaspadai kebakaran lahan. BMKG mengimbau masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan sembarangan dan segera melaporkan titik api. Kekeringan juga berpengaruh pada pasokan dan harga komoditas hortikultura, yang sebelumnya ikut mendorong inflasi Sulut September 2026.
Di sisi lain, hujan lebat yang turun tiba-tiba di wilayah berbukit seperti Tomohon, Minahasa, dan Bolaang Mongondow dapat memicu genangan, banjir bandang, dan tanah longsor. Warga diminta memantau pembaruan peringatan dini dari BMKG, menghindari berteduh di bawah pohon besar saat petir, serta waspada di tepi sungai dan lereng saat hujan deras.
Untuk kebutuhan sehari-hari saat cuaca panas, BMKG juga menyarankan masyarakat memakai pelindung kulit dan minum cukup air, terutama bagi yang bekerja di luar ruangan pada siang hari.
Foto: Ilustrasi – peta lama kawasan Manado dan sekitarnya. Atlas of Mutual Heritage / Nationaal Archief / Wikimedia Commons (Public domain)
Sumber:

