MANADO, LENSA-INDO.COM – Inflasi tahunan (year on year) Sulawesi Utara pada September 2026 mencapai 7,59 persen, tertinggi di antara seluruh provinsi di Indonesia dan lebih dari dua kali lipat inflasi nasional yang sebesar 3,28 persen. Data Badan Pusat Statistik (BPS) ini menunjukkan tekanan harga di Bumi Nyiur Melambai melonjak tajam hanya dalam satu bulan, terutama dipicu harga cabai, tomat, dan ikan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan seluruh provinsi mengalami inflasi, “tapi tertinggi itu di Sulawesi Utara, yaitu sebesar 7,59%,” seperti dikutip CNBC Indonesia saat rilis resmi BPS, 1 Oktober 2026. Sebagai pembanding, inflasi terendah tercatat di Sumatera Selatan sebesar 2,55 persen.
Angka Utama Inflasi Sulut September 2026
- Inflasi tahunan (yoy): 7,59 persen, naik tajam dari 1,57 persen pada September 2025.
- Inflasi bulanan (mtm): 3,53 persen, jauh di atas Agustus 2026 yang hanya 0,29 persen dan inflasi bulanan nasional 0,30 persen.
- Inflasi tahun kalender (Januari–September 2026): 7,35 persen.
- Kelompok makanan, minuman, dan tembakau: naik 16,08 persen secara tahunan dengan andil 5,29 poin persen, atau sekitar dua pertiga dari total inflasi Sulut.
Kelompok lain yang ikut mendorong inflasi tahunan adalah transportasi (naik 7,01 persen, andil 0,85 poin), perawatan pribadi dan jasa lainnya (naik 8,56 persen, andil 0,55 poin), serta pendidikan (naik 5,37 persen, andil 0,18 poin).
Cabai, Tomat, dan Ikan Tude Jadi Pemicu
Kepala BPS Provinsi Sulawesi Utara, Watekhi, dalam konferensi pers di Manado menyebut komoditas pendorong inflasi bulanan antara lain cabai rawit, tomat, cabai merah, ikan selar atau ikan tude, dan kangkung. Secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau melonjak 9,85 persen.
Sebaliknya, beberapa komoditas tercatat menahan laju inflasi karena harganya turun, yakni tarif angkutan udara, bawang putih, minyak goreng, sabun detergen bubuk, dan emas perhiasan.
Di tingkat kabupaten/kota yang dihitung indeks harganya, Minahasa Utara mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 5,50 persen dengan inflasi tahunan 9,05 persen. Kotamobagu mencatat inflasi bulanan 3,61 persen, Minahasa Selatan 3,12 persen, dan Manado 3,02 persen, seperti dihimpun Dataloka dari data BPS.
Artinya bagi Warga Sulut
Inflasi 7,59 persen berarti, secara rata-rata, keranjang belanja yang setahun lalu bernilai Rp1 juta kini membutuhkan sekitar Rp1,076 juta. Karena kenaikan terbesar ada pada bahan pangan segar seperti rica (cabai), tomat, dan ikan—bahan wajib di dapur warga Sulut—rumah tangga berpenghasilan rendah paling merasakan dampaknya, sebab porsi pengeluaran mereka untuk makanan lebih besar.
BPS mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas pasokan pangan segar, terutama cabai dan hortikultura, agar inflasi bisa dikendalikan pada triwulan IV. Tekanan tambahan juga perlu diwaspadai dari gangguan distribusi BBM yang sempat memicu antrean panjang di SPBU Manado pada pertengahan Oktober.
Bagi warga, langkah sederhana seperti membandingkan harga di beberapa pasar, memanfaatkan operasi pasar atau gerakan pangan murah pemerintah daerah, serta menanam cabai dan tomat di pekarangan dapat membantu menekan pengeluaran. Data inflasi Oktober 2026 dijadwalkan dirilis BPS pada awal November mendatang.
Foto: Ilustrasi tomat dan cabai rawit. JumadilM / Wikimedia Commons (CC0)
Sumber:


