Waruga, Makam Batu Leluhur Minahasa: Sejarah, Makna Ukiran, dan Etika Mengunjunginya

Kompleks Waruga Sawangan di Minahasa Utara Kompleks Waruga Sawangan, Minahasa Utara. Foto: Marcky Bolung / Wikimedia Commons (CC BY 3.0)

MINAHASA UTARA, LENSA-INDO.COM – Di antara rimbun pepohonan di Desa Sawangan, Kabupaten Minahasa Utara, berjajar ratusan kotak batu beratap segitiga yang sekilas menyerupai rumah mungil. Itulah waruga, makam batu leluhur orang Minahasa yang menjadi salah satu peninggalan megalitik paling khas di Sulawesi Utara. Bagi masyarakat Minahasa, waruga bukan sekadar kuburan tua, melainkan penanda identitas dan hubungan spiritual dengan para leluhur.

Apa Itu Waruga?

Waruga terdiri atas dua bagian batu. Bagian bawah berbentuk kotak persegi dan menjadi tempat jenazah diletakkan, sedangkan bagian atas berupa penutup berbentuk segitiga atau prisma yang menyerupai atap rumah. Sebagian kecil waruga berbentuk bulat atau segi delapan. Setiap bagian umumnya dipahat dari satu bongkah batu utuh, dengan bobot yang diperkirakan berkisar ratusan kilogram.

Ukurannya beragam. Ensiklopedia Wikipedia bahasa Indonesia mencatat waruga kecil berukuran sekitar 50 x 50 x 100 sentimeter, sementara yang besar bisa mencapai sekitar 150 x 100 x 145 sentimeter.

Asal-usul nama waruga ditafsirkan dengan beberapa cara. Salah satu penjelasan menghubungkannya dengan kata dalam bahasa Tombulu yang berarti “rumah” dan “hancur”, yakni rumah tempat tubuh perlahan kembali ke tanah. Peneliti Belanda C.T. Bertling, seperti diulas Denni R. Pinontoan di laman CRCS UGM, juga mengaitkan nama itu dengan gagasan tempat tubuh luruh sepenuhnya.

Dimakamkan dalam Posisi Duduk Meringkuk

Yang membuat waruga unik adalah cara jenazah ditempatkan. Jenazah tidak dibaringkan, melainkan didudukkan dengan posisi meringkuk: tumit menempel pada bokong dan kepala menyentuh lutut, mirip posisi janin dalam kandungan. Posisi ini kerap dimaknai sebagai simbol bahwa manusia kembali ke asalnya sebagaimana ia lahir.

Sejumlah sumber populer juga menyebut jenazah dihadapkan ke arah utara, yang dikaitkan dengan kepercayaan bahwa leluhur Minahasa datang dari utara. Dalam kepercayaan Minahasa lama, tubuh boleh hancur, tetapi roh tetap hidup. Karena itu, waruga dipandang sakral dan dalam kajian akademik juga disebut sebagai tempat yang diyakini dihuni roh leluhur.

Satu waruga bisa dipakai untuk lebih dari satu jenazah, biasanya anggota keluarga yang sama. Hal ini membuat waruga juga berfungsi sebagai makam keluarga.

Sejak Kapan Waruga Digunakan? Ada Beberapa Versi

Usia tradisi waruga masih menjadi perdebatan. Sebagian sumber menyebut praktik ini telah berlangsung sejak sekitar abad ke-10, bermula di kawasan Likupang lalu menyebar ke wilayah Tonsea dan bagian Minahasa lainnya. Arkeolog Peter Bellwood, menurut tulisan di CRCS UGM, cenderung memperkirakan sekitar tahun 1500 Masehi, sedangkan Bertling menilainya sangat tua tanpa menyebut angka pasti. Karena itu, angka tahun yang beredar sebaiknya dibaca sebagai perkiraan.

Tradisi ini meredup pada abad ke-19. Menurut sejumlah catatan, sekitar tahun 1860 pemerintah kolonial Belanda melarang penguburan di waruga karena khawatir wabah penyakit seperti kolera dan tifus menyebar melalui celah kotak batu. Seiring meluasnya agama Kristen di Minahasa, masyarakat beralih ke pemakaman di dalam tanah. Waruga yang semula tersebar di kebun dan permukiman kemudian sebagian dikumpulkan dalam kompleks-kompleks tertentu.

Makna Ukiran pada Waruga

Banyak waruga, terutama dari wilayah Tonsea di bagian utara Minahasa, dihiasi ukiran. Motifnya beragam: manusia (adegan melahirkan, menari, atau berpakaian), hewan (ular, anjing, burung manguni, anoa), tumbuhan, hingga pola geometris seperti tumpal, spiral ganda, dan meander. Bertling mencatat ornamen cenderung lebih sederhana di bagian selatan dan barat Minahasa, sementara di utara lebih kaya hiasan.

Tafsiran atas ukiran itu juga tidak tunggal. Ada yang memaknainya sebagai penolak roh jahat dan simbol kemakmuran. Penjelasan lain menyebut ukiran menggambarkan profesi atau cara orang yang dimakamkan meninggal, misalnya sosok berburu untuk seorang pemburu, atau figur dengan posisi melahirkan bagi perempuan yang wafat saat bersalin.

Mengunjungi dan Menjaga Waruga

Kompleks Taman Purbakala Waruga di Sawangan, Kecamatan Airmadidi, merupakan lokasi yang paling mudah dikunjungi, dengan lebih dari 140 waruga. Selain Sawangan, waruga juga dapat dijumpai di sejumlah desa lain di Minahasa Utara dan wilayah Minahasa lainnya, sebagian masih berada di halaman rumah atau kebun warga.

Waruga dilindungi sebagai cagar budaya, tetapi tetap menghadapi ancaman, mulai dari pelapukan hingga pembangunan. Pinontoan mencatat puluhan waruga sempat terdampak pembangunan Bendungan Kuwil-Kawangkoan, dan rencana relokasinya menuai pro dan kontra. Pegiat budaya Rinto Taroreh mengingatkan bahwa menurut adat, waruga tak dapat dipisahkan dari tanah tempat ia pertama kali didirikan.

Bagi pengunjung, ada beberapa etika sederhana: jangan duduk atau memanjat waruga, jangan mencoret atau menyentuh ukiran secara berlebihan, jangan memindahkan batu penutup, dan berpakaian sopan karena lokasi ini dianggap sakral. Mengunjungi waruga dengan hormat adalah cara kecil untuk ikut menjaga warisan leluhur Minahasa agar tetap lestari bagi generasi berikutnya.

Foto: Kompleks Waruga Sawangan, Minahasa Utara. Marcky Bolung / Wikimedia Commons (CC BY 3.0)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *