JAKARTA, LENSA-INDO.COM – Kurs dolar AS kembali menguat terhadap rupiah. Pada penutupan perdagangan Senin (26/10/2026), rupiah melemah ke level Rp18.110 per dolar AS menurut data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia, turun 0,39 persen dari posisi Jumat (23/10) di Rp18.040. Penutupan itu menjadi yang terlemah sejak awal Juni 2026, atau dalam sekitar empat bulan terakhir.
Angka sedikit berbeda dilaporkan Beritasatu, yang mencatat rupiah spot ditutup di Rp18.135 per dolar AS, melemah 55 poin atau 0,30 persen dari Rp18.080 pada akhir pekan lalu. Selisih ini lazim terjadi karena tiap penyedia data memakai acuan harga yang berbeda. Kata kunci “dolar” pun ikut menjadi salah satu pencarian teratas di Google Trends Indonesia sejak Senin.
Bergerak Melemah Sepanjang Hari
Tekanan sudah terasa sejak pagi. Antara melaporkan rupiah dibuka di Rp18.089 per dolar AS, melemah 9 poin dari penutupan sebelumnya. Data Refinitiv menunjukkan rupiah sempat menyentuh Rp18.130 sebelum sedikit memangkas pelemahan menjelang penutupan.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, seperti dikutip Beritasatu, menilai tekanan datang dari memanasnya geopolitik Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi ke fasilitas di Arab Saudi dan gangguan keamanan di Laut Merah. Kondisi itu mendorong harga minyak, yang berisiko memperbesar tagihan impor energi Indonesia. Ia juga menyebut kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dalam negeri.
Dari dalam negeri, CNBC Indonesia mencatat pelaku pasar mencermati konsultasi MSCI terkait kemungkinan reklasifikasi pasar saham Indonesia. Dari luar, pekan ini pasar menanti keputusan suku bunga bank sentral AS (The Fed) serta rilis data pertumbuhan dan inflasi AS. Sejumlah mata uang Asia lain juga melemah, dengan peso Filipina mencatat penurunan terdalam 0,54 persen.
Sikap Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan BI tetap hadir di pasar dan memantau pergerakan rupiah yang menurutnya bergantung pada permintaan dan penawaran. “Ini volatilitas biasa, tapi kita akan terus monitor,” ujarnya seperti dikutip CNBC Indonesia. Destry belum merinci penyebab utama tekanan dan menyatakan akan mencermati perkembangan lebih lanjut.
Sebelumnya, BI menahan suku bunga acuan di 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 20–21 Oktober 2026 dengan alasan menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Ulasan lengkapnya dapat dibaca di BI-Rate Bertahan 5,75 Persen Empat Bulan Beruntun.
Dampaknya bagi Warga Sulut
Bagi Sulawesi Utara, pelemahan rupiah ibarat pisau bermata dua. Harga barang impor, suku cadang, dan bahan bakar nonsubsidi berpotensi terdorong naik, menambah beban di tengah inflasi daerah yang sudah tinggi. BPS mencatat inflasi tahunan Sulut pada September 2026 mencapai 7,59 persen, tertinggi secara nasional (baca selengkapnya).
Sebaliknya, eksportir komoditas unggulan Sulut, seperti produk kelapa dan hasil perikanan, berpeluang menerima pendapatan rupiah lebih besar dari setiap dolar penjualan. Warga yang memiliki kebutuhan valuta asing, misalnya untuk biaya pendidikan atau perjalanan ke luar negeri, disarankan memantau kurs resmi bank dan tidak tergesa-gesa membeli dalam jumlah besar saat pasar sedang bergejolak.
Foto: Ilustrasi – kantor Bank Indonesia, arsip koleksi Tropenmuseum. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Sumber:


2 thoughts on “Kurs Dolar AS Tembus Rp18.100, Rupiah Terlemah Sejak Juni; BI Sebut Volatilitas Biasa”