JAKARTA, LENSA-INDO.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,99 persen pada perdagangan Selasa (27/10/2026). Indeks berakhir di level 5.266,13, turun 106,96 poin dari penutupan sebelumnya di 5.373,09, setelah tekanan jual melanda hampir seluruh sektor sepanjang hari.
Data RTI Business yang dikutip Infobanknews mencatat nilai transaksi mencapai Rp17,94 triliun dengan volume 36,43 miliar saham dan frekuensi 1,91 juta kali. Dari ratusan saham yang diperdagangkan, hanya 100 saham menguat, sementara 611 saham melemah dan 82 saham tidak bergerak. Rasio ini menunjukkan pelemahan yang meluas, bukan hanya pada segelintir emiten.
Saham Berkapitalisasi Besar Jadi Pemberat
Bloomberg Technoz, mengutip data Bloomberg, melaporkan IHSG sempat bergerak di rentang sekitar 5.182 hingga 5.418 selama sesi perdagangan. Pemberat terbesar indeks datang dari saham-saham berbobot besar, yakni Barito Renewables Energy (BREN), Barito Pacific (BRPT), dan Chandra Asri Pacific (TPIA).
Secara sektoral, penurunan terdalam terjadi pada sektor energi dan bahan baku yang masing-masing terkoreksi sekitar 3,32 persen. Sektor teknologi turun sekitar 3,16 persen, infrastruktur 2,95 persen, dan transportasi 2,83 persen.
Sentimen Global dan Domestik Menekan Pasar
Dalam ulasan penutupan pasar yang dikutip Infobanknews, Phintraco Sekuritas menyebut sejumlah faktor yang membebani pasar. Di antaranya harga minyak yang masih tinggi, potensi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) pada Desember, pelemahan rupiah, serta naiknya credit default swap (CDS) lima tahun Indonesia dan imbal hasil obligasi pemerintah.
Pelaku pasar juga disebut mengantisipasi penyesuaian (rebalancing) indeks MSCI pada November, yang mendorong aksi jual. Rebalancing indeks global kerap memicu pergeseran dana asing karena manajer investasi menyesuaikan portofolio dengan bobot indeks acuan yang baru.
Konteks: Rupiah Juga Tertekan
Koreksi IHSG terjadi ketika nilai tukar rupiah berada di kisaran terlemahnya dalam beberapa bulan terakhir. Pada perdagangan Senin (26/10/2026), rupiah ditutup melemah ke sekitar Rp18.110 per dolar AS, seperti diulas dalam laporan kurs dolar AS tembus Rp18.100. Kombinasi rupiah yang melemah dan kekhawatiran suku bunga global yang lebih tinggi biasanya membuat investor asing lebih berhati-hati terhadap aset di negara berkembang.
Bank Indonesia sebelumnya mempertahankan suku bunga acuannya, sebagaimana tercatat dalam ulasan BI-Rate bertahan 5,75 persen. Arah kebijakan The Fed menjelang Desember akan menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar dalam beberapa pekan ke depan.
Dampaknya bagi Investor dan Warga Sulut
Bagi investor ritel, termasuk di Sulawesi Utara yang jumlahnya terus bertambah seiring maraknya aplikasi perdagangan saham, penurunan tajam dalam sehari seperti ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan risiko. Investasi saham bersifat fluktuatif; dana yang dibutuhkan untuk keperluan jangka pendek, seperti biaya sekolah atau dana darurat, sebaiknya tidak ditempatkan pada instrumen berisiko tinggi.
Pelemahan rupiah yang menyertai tekanan pasar juga berpotensi merambat ke harga barang impor dan bahan baku. Bagi pelaku usaha di Sulut yang bergantung pada bahan impor, pergerakan kurs perlu dipantau. Sebaliknya, eksportir komoditas seperti hasil perikanan dan kelapa justru bisa menerima rupiah lebih banyak untuk setiap dolar penjualan.
Investor disarankan merujuk informasi resmi dari Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan, serta tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan rumor di media sosial. Artikel ini bersifat informasi, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu.
Foto: Kawasan pusat bisnis Jakarta (ilustrasi). Kontributor Wikimedia Commons / Wikimedia Commons (lisensi bebas, lihat halaman berkas)
Sumber:


