MINAHASA, LENSA-INDO.COM – Di antara kekayaan seni pertunjukan Sulawesi Utara, Maengket menempati tempat istimewa. Tarian yang dibawakan berpasang-pasangan ini bukan sekadar rangkaian gerak, melainkan juga nyanyian bersama yang lahir dari kehidupan agraris masyarakat Minahasa. Dari ungkapan syukur selepas panen padi, Maengket kini tampil di berbagai panggung, mulai dari upacara adat, penyambutan tamu, hingga festival budaya.
Asal Nama: Komunitas yang Bernyanyi
Nama Maengket umumnya dijelaskan berasal dari dua unsur kata, yakni ma yang berarti sedang melakukan, dan engket yang berarti mengangkat suara atau menyanyikan lebih dulu. Penjelasan ini antara lain merujuk buku Profil Kebudayaan Minahasa karya Turang, sebagaimana diulas detikEdu. Secara sederhana, Maengket dapat dimaknai sebagai komunitas yang sedang bernyanyi.
Ada pula penafsiran lain yang mengaitkan kata engket-engket dengan gerakan mengangkat tumit naik-turun mengikuti irama lagu, gerak bersama, bahkan istilah dalam tradisi kerja gotong royong mapalus. Ragam penafsiran ini menunjukkan betapa eratnya Maengket dengan keseharian masyarakat Minahasa.
Sejumlah rujukan menyebut Maengket pada mulanya merupakan nyanyian sakral yang berkaitan dengan ritual pertanian. Ensiklopedia Wikipedia bahasa Indonesia, misalnya, mencatat tarian ini dahulu dipersembahkan sebagai ungkapan terima kasih kepada dewi kesuburan setiap selesai panen. Seiring masuknya agama dan perubahan zaman, pesan syukur itu kini lebih banyak dimaknai sebagai syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tiga Babak, Tiga Pesan
Pertunjukan Maengket lazimnya terdiri atas tiga babak. Masing-masing membawa pesan yang berbeda, meski penamaan dan penekanannya bisa sedikit berlainan di tiap sumber dan kelompok seni.
1. Maowey Kamberu. Babak pertama ini berkaitan dengan panen padi dan menjadi puncak ungkapan syukur masyarakat petani atas hasil bumi yang melimpah. Dalam sejumlah uraian, babak ini juga disebut sebagai upaya mempersatukan warga dalam kegiatan panen. Sebagian sumber menuliskannya sebagai Makamberu atau Maowey Makamberu.
2. Marambak. Babak kedua menggambarkan semangat gotong royong ketika membangun rumah baru, sekaligus syukuran saat rumah itu mulai ditempati. Formasi melingkar dalam babak ini kerap dimaknai sebagai simbol kebersamaan sekaligus “menguji” kekokohan rumah. Beberapa tulisan mengejanya Maramba.
3. Lalayaan. Babak terakhir menampilkan pergaulan muda-mudi Minahasa pada masa lalu dalam mencari pasangan atau mempererat hubungan sosial. Penari pria dan wanita saling berhadapan, bergandengan tangan, dan bergerak lebih riang.
Pembagian tiga babak ini juga dicatat dalam penelitian Zefanya Christofel Sumarandak dan kawan-kawan dari Universitas Negeri Manado (2024) yang mengkaji kelompok Maengket di Desa Kaweng, Kecamatan Kakas, Kabupaten Minahasa. Kelompok di desa itu disebut telah aktif sejak 1968.
Penari, Pemimpin, dan Iringan
Maengket biasanya dibawakan oleh sejumlah pasangan penari pria dan wanita; detikEdu menyebut formasi yang lazim adalah 12 pasang. Karena melibatkan banyak penari, Maengket kerap digolongkan sebagai tari massal.
Dua peran penting menentukan jalannya pertunjukan. Tumutuur (juga ditulis tumuutuur) adalah orang yang memulai setiap nyanyian, lalu diikuti penari lainnya. Sementara itu, seorang perempuan yang disebut kapel memimpin pergantian pola gerak, pola lantai, syair, dan lagu dari satu babak ke babak berikutnya.
Gerakannya relatif sederhana: langkah-langkah kecil, berjinjit, dan hentakan kaki ke lantai. Para penari membawa lenso atau sapu tangan yang diayunkan naik-turun mengikuti lirik dan irama, sebagai simbol ikatan dan kasih sayang. Iringan utamanya adalah tambur. Sejumlah sumber menyebut iringan lain seperti tetengkoren dan bonang, sementara dalam perkembangannya tifa dan kolintang juga kerap dilibatkan.
Syair Maengket dilantunkan dalam bahasa daerah. Goodnews from Indonesia menyebut syairnya banyak memakai dialek Tombulu, salah satu subetnis Minahasa yang wilayahnya mencakup Tomohon dan sekitarnya. Namun, kelompok di daerah lain dapat membawakannya dengan bahasa atau dialek setempat.
Busana Penari
Penari perempuan umumnya mengenakan kebaya, rok adat Minahasa, sanggul atau konde, serta hiasan bunga. Penari pria memakai kemeja, celana panjang, ikat pinggang, dan penutup kepala. Tumutuur biasanya mengenakan warna yang sedikit berbeda agar mudah dikenali. Beberapa kelompok memilih busana dominan putih, seperti yang dicatat Wikipedia bahasa Indonesia.
Dari Ritual ke Panggung Festival
Seiring waktu, fungsi Maengket meluas. Selain sebagai bagian dari upacara, tarian ini kini menjadi sarana pendidikan karakter, ajang kompetisi antarkelompok, hiburan, dan promosi pariwisata. Maengket kerap tampil pada Tomohon International Flower Festival, peringatan hari besar nasional, perayaan HUT Provinsi Sulawesi Utara, hingga penyambutan tamu kehormatan.
Bagi generasi muda Sulawesi Utara, mempelajari Maengket berarti ikut menjaga ingatan kolektif tentang nilai-nilai yang membentuk masyarakat Minahasa: syukur atas berkah alam, semangat gotong royong, dan pergaulan yang santun. Dengan terus dipentaskan dan diwariskan, Maengket dapat tetap hidup tidak hanya di panggung, tetapi juga dalam keseharian warganya.
Foto: Ilustrasi – pemandangan Tomohon, wilayah subetnis Tombulu yang dialeknya banyak dipakai dalam syair Maengket. Kondephy / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Sumber:


