MINAHASA, LENSA-INDO.COM – Legenda Toar dan Lumimuut adalah cerita asal-usul yang diyakini masyarakat Minahasa sebagai kisah leluhur pertama mereka. Inti ceritanya: seorang perempuan bernama Lumimuut melahirkan anak laki-laki bernama Toar, keduanya berpisah atas petunjuk seorang perempuan bijak bernama Karema, lalu bertemu kembali tanpa saling mengenali dan menikah. Dari keturunan mereka, menurut tradisi lisan, lahirlah orang Minahasa. Kisah ini hidup dalam beberapa versi, dan hingga kini tetap menjadi rujukan penting dalam memahami cara pandang orang Minahasa tentang asal-usul, peran perempuan, dan persatuan.
Alur Cerita Legenda Toar dan Lumimuut
Salah satu versi yang dirangkum Febriani Pincerulyna Tarigan dalam Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies Universitas Kristen Duta Wacana (2023), dengan merujuk karya Al Qurtuby dan Kholiludin (2019), membuka kisah dengan sosok Karema, seorang perempuan pemimpin ritual (imam) yang selamat dari air bah besar. Seorang perempuan lain, Lumimuut, kemudian datang dari arah barat daya.
Keduanya tinggal di sebuah gua di dataran tinggi hingga air surut. Karema lalu meminta Lumimuut menghadap ke empat penjuru angin sambil berdoa. Ketika menghadap ke barat, Lumimuut dikisahkan mengandung oleh hembusan angin barat, lalu melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Toar.
Toar dibesarkan oleh Karema. Setelah dewasa, ia tidak lagi mengenali Lumimuut sebagai ibunya. Karema kemudian memberi keduanya masing-masing sebatang tongkat (tu’is) dengan pesan: bila kelak bertemu, ukurlah tongkat itu. Jika panjangnya tidak sama, berarti mereka bukan ibu dan anak. Lumimuut berjalan ke arah kiri, Toar ke kanan. Ketika akhirnya bertemu kembali, tongkat Toar ternyata lebih panjang. Sesuai petunjuk Karema, mereka pun menikah, dan keturunannya membentuk masyarakat Minahasa.
Versi yang Berbeda-beda
Sebagai tradisi lisan, legenda ini tidak memiliki satu naskah baku. Penelitian Cynthia Pingkan Tanuwijaya dan rekan dari Universitas Kristen Petra, misalnya, menyebut Karema sebagai ibu dari Lumimuut, bukan sekadar perempuan bijak yang ditemui setelah air bah. Dalam versi itu, ibu dan anak (Lumimuut dan Toar) berkelana atas petunjuk Karema, lalu bertemu dan menjadi suami-istri. Pesan moral yang ditekankan adalah pentingnya mengikuti petuah dan amanat orang tua.
Perbedaan juga muncul dalam rincian lain, seperti asal kedatangan Lumimuut, cara ia mengandung, dan arah perjalanan keduanya. Bagi pembaca, perbedaan ini sebaiknya dipahami sebagai kekayaan tradisi lisan yang diwariskan dari kampung ke kampung, bukan sebagai pertentangan yang harus dipilih benar-salahnya.
Makna dan Tafsir: Perempuan, Kelahiran Kembali, dan Kesetaraan
Para peneliti membaca legenda ini dari berbagai sudut. Aryl Timothy Madilah dalam kajian simbolisme alur mitos Toar dan Lumimuut menyimpulkan bahwa kisah ini menggambarkan kelahiran kembali setelah bencana besar serta upaya mengisi kembali bumi—tema yang juga ditemukan dalam banyak mitos banjir di dunia.
Tarigan menyoroti hal lain: dua tokoh kunci dalam penciptaan dan kelangsungan hidup orang Minahasa adalah perempuan, yakni Karema dan Lumimuut. Menurutnya, mitos ini tidak menempatkan perempuan pada posisi subordinat, sehingga dapat dibaca ulang sebagai landasan budaya bagi kesetaraan gender dan pengakuan kepemimpinan perempuan dalam masyarakat, agama, dan keluarga.
Tafsir ini relevan dengan kenyataan bahwa dalam sejarah Minahasa dikenal pemimpin ritual perempuan. Arsip foto Tropenmuseum Belanda, misalnya, mendokumentasikan seorang pendeta adat perempuan Minahasa dengan hiasan kepala tradisional—gambaran yang mengingatkan pada sosok Karema dalam legenda.
Dari Toar-Lumimuut ke Watu Pinawetengan
Legenda Toar dan Lumimuut sering dituturkan berlanjut dengan kisah pembagian wilayah. Menurut ringkasan sejarah Minahasa yang dihimpun Wikipedia dari sejumlah literatur akademik, keturunan Toar dan Lumimuut berkembang menjadi tiga kelompok dengan sebutan berbasis bilangan: Makatelu-pitu (tiga kali tujuh), Makarua-siouw (dua kali sembilan), dan Pasiowan-telu (sembilan kali tiga).
Ketika jumlahnya bertambah, muncul perselisihan. Para pemimpin (tona’as) kemudian bermusyawarah, dan dari musyawarah itu lahir pembagian kelompok seperti Tonsea, Tombulu, dan Tontemboan, sementara kelompok yang menetap di sekitar danau besar dikenal sebagai Toulour atau Tondano, “orang air”. Musyawarah besar para leluhur ini dikaitkan dengan batu bersejarah Watu Pinawetengan di Tompaso, yang namanya berarti “batu pembagian”.
Cara Mengenal Legenda Ini Lebih Dekat
Bagi warga Sulut maupun wisatawan yang ingin memahami legenda Toar dan Lumimuut, beberapa langkah berikut bisa dilakukan:
- Kunjungi situs budaya. Watu Pinawetengan di Kabupaten Minahasa menjadi tempat yang paling erat dikaitkan dengan kisah leluhur Minahasa.
- Dengarkan penuturan tetua. Karena berbentuk tradisi lisan, versi tiap daerah bisa berbeda. Mencatat penuturan tetua kampung membantu melestarikan ragam versi tersebut.
- Baca kumpulan cerita rakyat. Salah satu rujukan yang dikenal adalah buku Cerita Rakyat dari Minahasa karya Pangkerego (Gramedia Widiasarana, 1993), yang dicatat dalam penelitian Universitas Kristen Petra.
- Hormati situs adat. Saat berkunjung ke situs budaya, jaga kebersihan, jangan mencoret atau memindahkan batu, dan ikuti arahan pengelola atau tokoh adat setempat agar nilai sakral tempat itu tetap terjaga.
- Kenalkan kepada anak. Penelitian Tanuwijaya dan rekan justru lahir dari upaya membuat media visual agar cerita rakyat Minahasa lebih dikenal generasi muda.
Legenda ini juga terhubung dengan tradisi Minahasa lain yang menekankan kebersamaan dan rasa syukur, seperti Pengucapan Syukur.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Siapa Toar dan Lumimuut?
Dalam tradisi lisan Minahasa, Lumimuut adalah perempuan leluhur dan Toar adalah anaknya. Keduanya dikisahkan berpisah, bertemu kembali tanpa saling mengenali, lalu menikah dan menurunkan orang Minahasa.
Siapa Karema?
Karema adalah tokoh perempuan bijak yang memberi petunjuk kepada Lumimuut dan Toar. Ada versi yang menyebutnya pemimpin ritual yang selamat dari air bah, ada pula yang menyebutnya ibu Lumimuut.
Apa arti tongkat dalam legenda ini?
Tongkat (tu’is) menjadi alat ukur yang diberikan Karema. Panjang tongkat yang berbeda saat Toar dan Lumimuut bertemu kembali dimaknai sebagai tanda keduanya boleh menikah.
Apakah legenda ini fakta sejarah?
Tidak. Toar dan Lumimuut adalah mitos asal-usul (cerita rakyat) yang bernilai budaya dan simbolis, bukan catatan sejarah yang dapat dibuktikan.
Penutup
Legenda Toar dan Lumimuut lebih dari sekadar dongeng pengantar tidur. Kisah ini menyimpan gagasan tentang ketahanan setelah bencana, kepatuhan pada nasihat, peran sentral perempuan, dan asal-usul persatuan walak-walak Minahasa. Merawat ragam versinya berarti merawat ingatan kolektif orang Minahasa sendiri.
Foto: Ilustrasi – pendeta adat perempuan Minahasa dengan hiasan kepala, foto arsip Tropenmuseum. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Sumber:


