Pengucapan Syukur Minahasa: Asal-usul, Makna, Nasi Jaha dan Dodol, hingga Rangkaian Perayaannya

Arsip penari cakalele di Minahasa, ilustrasi tradisi Pengucapan Syukur Minahasa Arsip. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

MINAHASA, LENSA-INDO.COM – Pengucapan Syukur Minahasa adalah tradisi tahunan masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara, untuk mensyukuri hasil panen dan berkat sepanjang tahun. Perayaannya memadukan ibadah syukur di gereja dengan jamuan makan terbuka di rumah-rumah warga, tempat kerabat, sahabat, bahkan tamu dari luar daerah disambut dengan nasi jaha, dodol, dan aneka masakan khas. Di balik meja makan yang penuh itu, tersimpan sejarah panjang yang berakar pada ritual panen leluhur Minahasa.

Tulisan ini merangkum asal-usul, makna, rangkaian perayaan, kuliner wajib, serta perdebatan seputar tradisi pengucapan, berdasarkan kajian akademik dan liputan media.

Asal-usul: Dari Ritual Panen ke Ibadah Syukur

Menurut kajian Sonya Indriati Sondakh dan M. Yoesoef dari Universitas Indonesia yang terbit di Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal (2022), akar pengucapan syukur adalah ritual pra-Kristen bernama foso rumages um banua (dalam sejumlah tulisan dieja foso rumege um banua). Ritual ini digelar setelah panen sebagai persembahan kepada Opo Empung Wailan Wangko dan arwah leluhur. Persembahan (rages) diberikan melalui leluhur, lalu dilanjutkan dengan makan bersama yang disebut kuman kan weru, disertai nyanyian pujian.

Kajian yang sama mencatat, setelah agama Kristen masuk pada masa Hindia Belanda, ritual itu berangsur berubah bentuk menjadi pengucapan syukur atau cukup disebut “pengucapan”. Mengutip penelitian Regar (2018) di Sulu’un-Tareran, perayaan berbasis Kristen diperkirakan mulai berlangsung sekitar tahun 1940-an. Dengan kata lain, unsur syukur atas panen tetap dipertahankan, tetapi alamat syukurnya beralih kepada Tuhan dalam kerangka ibadah gereja.

Laman Good News From Indonesia (GNFI) mengutip budayawan sekaligus akademisi Universitas Sam Ratulangi, Ivan R.B. Kaunang, yang menyebut bahwa ketika Kristen datang, masyarakat memilah unsur tradisi yang sesuai dan yang tidak. Menurut Kaunang, inti pengucapan hingga kini tetaplah ungkapan bakti kepada Tuhan.

Makna Pengucapan bagi Orang Minahasa

Pada awalnya, pengucapan sangat terkait dengan kehidupan agraris. Seiring waktu, banyak warga Minahasa tidak lagi bertani, tetapi tradisi ini tetap hidup. Kajian Inaray dan Tondok di jurnal Santhet (2025) menyebut cakupan syukurnya meluas, dari hasil panen menjadi syukur atas segala bentuk mata pencaharian dan berkat hidup. Studi literatur itu juga menyimpulkan bahwa tradisi ini memperkuat ikatan sosial dan mendukung kesejahteraan psikologis warga, dilihat dari teori rasa syukur.

Ada beberapa lapis makna yang biasa disebut dalam kajian-kajian tersebut:

  • Religius: ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas berkat, yang diawali ibadah di gereja.
  • Sosial: ajang mempererat silaturahmi. GNFI mencatat tradisi ini lekat dengan kebiasaan berkunjung atau pasiar ke rumah kerabat, sahabat, dan kolega.
  • Berbagi: Sondakh dan Yoesoef menyebut berbagi makanan sebagai unsur terpenting; tuan rumah berupaya menjamu tamu sebaik-baiknya.
  • Identitas: kuliner pengucapan menjadi penanda identitas Minahasa, termasuk bagi diaspora di Belanda dan Amerika Serikat yang tetap menggelar ibadah pengucapan.

Semangat kebersamaan ini sejalan dengan tradisi gotong royong Mapalus, yang menurut kajian yang sama masih berlangsung dalam persiapan pengucapan.

Waktu dan Rangkaian Perayaan

Pengucapan tidak dirayakan serentak di seluruh Minahasa. Menurut Sondakh dan Yoesoef, jadwalnya tersebar dari Juni hingga September setiap tahun, bergantian antarwilayah. Liputan GNFI, misalnya, mencatat Kabupaten Minahasa Selatan merayakannya pada hari Minggu, 9 Juli 2023. Karena tanggalnya berbeda-beda, warga satu daerah bisa bertamu ke daerah lain saat gilirannya tiba, lalu menerima kunjungan balik ketika daerahnya sendiri merayakan.

Secara umum, rangkaian perayaan dapat digambarkan sebagai berikut:

TahapKegiatan
Beberapa hari sebelumnyaBelanja bahan di hutan, pasar tradisional, dan pedagang musiman di tepi jalan; menyiapkan bambu dan bumbu.
Menjelang hari HMemasak nasi jaha dan masakan dalam bambu secara bergotong royong; membuat dodol.
Hari H (pagi)Ibadah syukur di gereja, termasuk persembahan syukur jemaat.
Hari H (siang–malam)Rumah-rumah terbuka bagi tamu; jamuan makan dan kunjungan antarkeluarga.

Tradisi ini juga terus menyesuaikan diri dengan zaman. GNFI mencatat, persembahan ke gereja kini ada yang dilakukan melalui transfer rekening bank.

Kuliner Wajib: Nasi Jaha dan Dodol

Dua sajian disebut wajib hadir: nasi jaha dan dodol. Nasi jaha adalah nasi yang dimasak di dalam bambu. Sondakh dan Yoesoef mencatat, hasil panen pertama dahulu dipersembahkan kepada Opo Empung Wailan Wangko dan Opo Wananatas. Dodol dibuat dari beras berkualitas baik. Keduanya melambangkan hasil panen terbaik.

Dodol bahkan punya makna sosial tersendiri. Di sejumlah desa, dodol digantung di depan rumah sebagai simbol kedekatan; teksturnya yang lengket dimaknai sebagai eratnya hubungan warga desa. Selain itu, tersaji pula masakan dalam bambu lainnya, ikan bakar, ayam, ikan laut, dan ikan air tawar, dengan bumbu khas seperti goraka (jahe), rica (cabai), balakama (kemangi), dan goramakusu (serai).

Cara memasak dalam bambu juga mencerminkan perubahan peran gender. Dahulu, menurut kajian itu, pemilihan dan pembakaran bambu menjadi tugas laki-laki, sementara perempuan menyiapkan bumbu dan daging. Kini pembagian kerja itu sudah lebih cair di banyak tempat, meski di Desa Tareran pembagian tradisional masih terlihat saat penelitian dilakukan. Bagi pembaca yang ingin mengenal kuliner Minahasa lainnya, simak juga ulasan tinutuan, bubur Manado kaya sayur.

Kritik dan Imbauan Perayaan Sederhana

Pengucapan kerap dikritik sebagai pemborosan karena belanja makanan yang besar. GNFI mencatat Kaunang memandangnya berbeda: orang yang menerima berkat Tuhan membagikannya kepada sesama, sebagai wujud kasih kepada sesama. Di sisi lain, aparat dan pemerintah daerah setiap tahun mengimbau perayaan yang sederhana. Pada pengucapan Minahasa Selatan 2023, misalnya, polisi menurunkan sekitar 300 personel gabungan dan mengimbau warga merayakan tanpa pesta berlebihan, menjaga ketertiban, serta mematuhi aturan parkir.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa pengucapan adalah tradisi yang hidup: maknanya terus dibicarakan dan dinegosiasikan oleh masyarakatnya sendiri.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu pengucapan syukur Minahasa?

Tradisi tahunan masyarakat Minahasa untuk mensyukuri hasil panen dan berkat hidup, diawali ibadah gereja lalu dilanjutkan jamuan makan terbuka bagi tamu.

Kapan pengucapan dirayakan?

Tidak serentak. Menurut kajian Sondakh dan Yoesoef (2022), jadwalnya tersebar dari Juni hingga September, bergiliran antarwilayah; contohnya Minahasa Selatan pada Minggu, 9 Juli 2023.

Apa makanan wajib saat pengucapan?

Nasi jaha yang dimasak dalam bambu dan dodol. Keduanya melambangkan hasil panen terbaik.

Apa asal-usul tradisi ini?

Ritual panen pra-Kristen foso rumages um banua, yang berubah menjadi ibadah syukur Kristen sejak masa Hindia Belanda; versi berbasis gereja diperkirakan mulai sekitar 1940-an.

Penutup

Pengucapan Syukur Minahasa memperlihatkan bagaimana sebuah ritual panen kuno bertahan dengan berganti rupa. Ladang mungkin tak lagi menjadi sumber nafkah utama bagi banyak keluarga, tetapi nasi jaha, dodol, dan pintu rumah yang terbuka bagi tamu tetap menjadi cara orang Minahasa merawat rasa syukur dan persaudaraan dari generasi ke generasi.

Foto: Arsip — penari cakalele di Minahasa, Sulawesi Utara, masa kolonial. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *