JAKARTA, LENSA-INDO.COM – Sebuah buku berjudul “Inside China’s Secret Prisons: An Undercover Exposé and Its Lasting Legacy” yang diterbitkan tahun 2026 mengungkap kembali investigasi rahasia terhadap sistem penjara kerja paksa China yang dilakukan pada 1991. Buku karya Orville Schell, pengamat China terkemuka, ini menceritakan misi jurnalisme berisiko tinggi yang membuktikan ekspor barang hasil tenaga narapidana China ke Amerika Serikat.
Pada 1991, tim media CBS melakukan perjalanan terselubung ke China dengan kamera tersembunyi, dipandu Harry Wu, mantan tahanan yang menghabiskan 19 tahun di kamp penahanan tersebut. Tujuan mereka adalah mendokumentasikan pelanggaran hukum federal AS terkait impor produk yang dibuat oleh narapidana China.
Sistem Laogai dan Reformasi Pemikiran
Massimo Introvigne, sosiolog dan direktur CESNUR yang mengulas buku tersebut, menjelaskan bahwa sistem yang didokumentasikan adalah laogai (laodong gaizao), yang berarti reformasi melalui buruh. “Schell membandingkannya dengan gulag Soviet yang sama-sama mengeksploitasi tahanan sebagai tenaga kerja murah, namun dengan tambahan khas ala China Maois, yakni reformasi pemikiran,” kata Introvigne.
Berbeda dengan kamp kerja paksa pada umumnya, laogai menggabungkan eksploitasi tenaga kerja dengan program indoktrinasi intensif. Para tahanan dipaksa mengikuti sesi kritik diri di depan umum dan mengakui kejahatan yang tidak mereka lakukan, dengan tujuan merombak mental mereka agar setia kepada Partai Komunis China.
Penundaan Publikasi Selama Puluhan Tahun
Schell sempat menulis laporan investigasi untuk majalah New Yorker namun memutuskan menyimpannya selama puluhan tahun. Keputusan tersebut didorong kekhawatiran akan keselamatan keluarga istrinya yang lahir di China, serta risiko kehilangan akses sebagai jurnalis dan akademisi.
Menurut Introvigne, pengakuan terbuka Schell tentang ketakutannya memberikan gambaran langka mengenai cara Beijing menggunakan intimidasi untuk menciptakan penyensoran mandiri di kalangan jurnalis, akademisi, dan pebisnis asing.
Evolusi ke Xinjiang dan Teknologi Pengawasan
Introvigne menyebut bahwa metode yang didokumentasikan Wu dan Schell tidak hilang, melainkan berkembang ke wilayah Xinjiang. Ratusan ribu warga Uyghur dan Muslim Turkik ditahan di fasilitas yang disebut “pusat pelatihan kejuruan” dan dipaksa bekerja di pabrik yang terhubung dengan rantai pasokan global.
Sistem pengawasan kini diperkuat teknologi canggih seperti pengenalan wajah, pengumpulan data biometrik, dan penyensoran daring. Akibat pengetatan informasi dan penolakan visa, investigasi serupa seperti yang dilakukan CBS pada 1991 hampir mustahil diulang saat ini.
Konteks
Buku Schell terbit di tengah perdebatan tentang arah politik China. Harapan bahwa keterlibatan ekonomi akan meliberalisasi rezim—yang sempat tampak realistis di era Deng Xiaoping—kini runtuh di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping. PKC kembali memperkuat kontrol tersentralisasi dengan basis Leninis yang kaku.
Schell menekankan bahwa meski jurnalis dan peneliti tidak dapat lagi memasuki kamp secara langsung, mereka tetap memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung inisiatif hak asasi manusia, menyuarakan para disiden di pengasingan, dan menolak sikap bungkam yang dipaksakan China.
Foto: Ilustrasi. David from Washington, DC / Wikimedia Commons (CC BY 2.0)
Sumber:


