LONDON, LENSA-INDO.COM – Pemerintah Inggris memutuskan untuk mengerahkan jet tempur Typhoon milik Angkatan Udara Kerajaan (RAF) ke Arab Saudi guna membantu melindungi wilayah udara negara itu dari ancaman serangan kelompok Houthi asal Yaman, menyusul rentetan serangan yang menyasar bandara dan fasilitas energi di dalam negeri Saudi.
Misi Defensif, Bukan Serangan
Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan bahwa pengerahan ini bersifat defensif semata. Pesawat-pesawat Typhoon akan menjalankan misi pertahanan udara untuk menangkal serangan rudal dan drone, tanpa digunakan untuk menyerang posisi Houthi. Selain jet tempur, Inggris juga akan mengerahkan pesawat angkut Airbus A400M Atlas untuk mendukung pergerakan peralatan dan personel di kawasan Timur Tengah, serta mengirimkan penasihat militer guna membantu perwira staf Arab Saudi.
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting mengecam keras serangan-serangan yang telah berlangsung. “Serangan terus-menerus dari kelompok Houthi terhadap sekutu kita, Arab Saudi, sungguh tercela,” ujar Streeting, seperti dikutip CNBC International. Ia menilai penargetan bandara di Riyadh mencerminkan upaya Houthi memperlebar ketegangan di kawasan.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Pertahanan Inggris juga menegaskan bahwa Arab Saudi dan Republik Yaman memiliki hak membela diri, sekaligus mengecam serangan Houthi terhadap sasaran sipil, termasuk Bandara Internasional King Khalid, seperti dikutip Al Jazeera.
Ancaman Houthi Meluas
Di sisi lain, kelompok Houthi mempertegas ancamannya melalui kantor berita Saba yang mereka kelola. Sebuah sumber militer Houthi menyatakan bahwa wilayah udara Arab Saudi tidak aman, kecuali di atas Kota Mekkah dan Madinah, seperti dikutip dari Middle East Monitor. Houthi turut mendesak para pemegang saham perusahaan minyak Saudi Aramco agar segera melepas investasi mereka untuk menghindari kerugian.
Serangan Houthi sebelumnya telah menimbulkan korban jiwa. Menurut CNN Indonesia, salah satu serangan ke Bandara Internasional King Khalid menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Pertahanan Sipil Arab Saudi juga melaporkan enam orang terluka akibat proyektil yang menghantam kawasan permukiman di Kota Najran, sementara koalisi pimpinan Saudi mengaku telah menghancurkan dua rudal balistik yang ditembakkan ke arah Khamis Mushait. Adapun Al Jazeera melaporkan sedikitnya 53 orang tewas setelah Houthi meluncurkan tiga rudal balistik ke sebuah kamp militer di Yaman selatan pada Senin, meski laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Konteks
Konflik antara Houthi dan Arab Saudi pada dasarnya telah berlangsung sejak 2015, ketika Saudi mengintervensi perang saudara Yaman dengan berpihak pada pemerintah yang diakui secara internasional. Babak baru ketegangan dalam putaran terkini dipicu oleh insiden di bandara Sanaa pada Juli lalu, dengan masing-masing pihak saling tuduh sebagai dalangnya. Eskalasi semakin intensif sejak awal Oktober, mendorong koalisi pimpinan Saudi mengumumkan operasi berskala besar untuk menghancurkan kemampuan militer Houthi.
Inggris memperingatkan bahwa ketidakstabilan di kawasan Teluk berpotensi berdampak langsung pada perekonomian domestiknya, mulai dari kenaikan biaya hidup, gangguan pasokan energi, hingga tekanan terhadap dunia usaha. Pengerahan jet tempur Typhoon ini melengkapi dukungan militer Inggris yang sebelumnya telah lebih dulu ditempatkan di Arab Saudi.
Foto: Ilustrasi. [null Courtesy] / Wikimedia Commons (Public domain)
Sumber:


