Ekspor Sulut Agustus 2026 Capai US$110,69 Juta, Naik 44,93 Persen Dibanding Tahun Lalu

Pelabuhan Samudera Bitung dengan fasilitas minyak goreng di latar Ilustrasi – Pelabuhan Samudera Bitung, arsip 2009. Sakurai Midori / Wikimedia Commons (CC BY 2.5)

MANADO, LENSA-INDO.COM – Nilai ekspor Sulawesi Utara pada Agustus 2026 mencapai US$110,69 juta, naik 44,93 persen dibanding Agustus 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara yang dirilis 1 Oktober 2026 juga menunjukkan neraca perdagangan Sulut kembali surplus, yakni US$96,50 juta, karena impor hanya US$14,19 juta.

Kepala BPS Sulut Watekhi menyebut kelompok lemak dan minyak hewani/nabati masih menjadi penggerak utama ekspor daerah ini. “Nilai ekspor Sulawesi Utara masih jauh lebih besar dibandingkan nilai impornya,” katanya seperti dikutip IndiNews.

Angka Utama Perdagangan Sulut

  • Ekspor Agustus 2026: US$110,69 juta, naik 44,93 persen secara tahunan (Agustus 2025 sekitar US$76,4 juta)
  • Dibanding Juli 2026 (US$96,51 juta): naik sekitar 14,7 persen (hitungan redaksi)
  • Impor Agustus 2026: US$14,19 juta, naik 16,41 persen secara tahunan
  • Surplus Agustus 2026: US$96,50 juta, naik 50,35 persen dari US$64,19 juta pada Agustus 2025
  • Ekspor Januari–Agustus 2026: US$848,70 juta, naik 7,34 persen secara tahunan
  • Surplus Januari–Agustus 2026: US$699,87 juta, naik 2,57 persen

Bertumpu pada Minyak dan Hasil Laut

Sepanjang Januari–Agustus 2026, kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) menyumbang US$613,76 juta atau 72,32 persen dari total ekspor Sulut, menurut laporan Barometer berdasarkan rilis BPS. Komoditas berikutnya adalah ikan, krustasea, dan moluska senilai US$61,39 juta, yang turun 1,49 persen, serta olahan daging dan ikan senilai US$54,59 juta yang naik 23,96 persen.

Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$186,57 juta (21,98 persen), disusul China US$157,92 juta, Filipina US$127,57 juta, Belanda US$101,22 juta, dan Korea Selatan US$75,56 juta.

Bangkit Setelah Juli yang Lesu

Kinerja Agustus menjadi kabar baik setelah ekspor Juli 2026 turun 29,17 persen secara tahunan menjadi US$96,51 juta, seperti dilaporkan Antara. Pada periode Januari–Juli, impor Sulut melonjak hampir 40 persen, terutama bahan bakar mineral, sehingga surplus sempat tertekan.

Secara nasional, BPS mencatat ekspor Indonesia pada Agustus 2026 sebesar US$26,61 miliar, naik 6,72 persen secara tahunan. Artinya, laju pertumbuhan ekspor Sulut pada bulan itu jauh lebih cepat dibanding rata-rata nasional, meski dengan basis nilai yang jauh lebih kecil.

Artinya bagi Warga Sulut

Dominasi produk minyak, yang di Sulut erat kaitannya dengan rantai pengolahan hasil kebun, membuat kinerja ekspor sangat bergantung pada harga komoditas global dan permintaan segelintir negara. Kenaikan ekspor berpotensi menopang pendapatan petani, pekerja pabrik pengolahan, dan pelaku usaha logistik di sekitar Bitung.

Namun, ketergantungan pada satu kelompok komoditas juga menjadi risiko. Diversifikasi produk olahan, termasuk hasil perikanan yang justru melemah, dapat menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah dan pelaku usaha. Data ekspor-impor September 2026 dijadwalkan dirilis BPS pada awal November.

Foto: Ilustrasi – Pelabuhan Samudera Bitung, arsip 2009. Sakurai Midori / Wikimedia Commons (CC BY 2.5)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *