Gelombang Protes Berujung Bentrokan di Sejumlah Kota Besar Eropa

Ilustrasi Gelombang Protes Berujung Bentrokan di Sejumlah Kota Besar Eropa Ilustrasi. Unknown authorUnknown author / Wikimedia Commons (Public domain)

PARIS, LENSA-INDO.COM – Serangkaian aksi demonstrasi besar-besaran melanda sejumlah kota di Eropa pada Sabtu (24/10), mencakup Prancis, Italia, Albania, Spanyol, Belgia, dan Portugal. Para pengunjuk rasa turun ke jalan memperjuangkan berbagai isu, mulai dari kebijakan pensiun, keterjangkauan perumahan, pendidikan, korupsi, hingga penolakan terhadap perang.

Prancis dan Italia: Jutaan Orang di Jalan

Di Prancis, demonstrasi yang awalnya berlangsung damai di Paris dan Marseille berubah menjadi bentrokan saat malam tiba. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat 410.000 peserta unjuk rasa di seluruh negeri, meski serikat pekerja mengklaim jumlah sebenarnya dua kali lipat lebih besar dari angka resmi itu. Di Marseille, massa membakar tempat sampah untuk memblokir jalan dan melemparkan batu serta botol ke arah aparat keamanan. Kota-kota lain yang turut bergolak antara lain Lyon, Bordeaux, Grenoble, Lille, Rennes, Nantes, dan Toulouse.

Situasi serupa terjadi di Italia. Ribuan orang turun ke jalan di Milan, Roma, Turin, Napoli, Bologna, dan Florence, sebagaimana dilaporkan Euronews. Polisi Italia menyatakan telah melakukan sembilan penangkapan dan menahan sementara 371 orang di delapan kota. Dari jumlah yang ditahan, 110 di antaranya merupakan anak di bawah umur.

Albania, Spanyol, Portugal, dan Belgia Ikut Bergolak

Di Tirana, ibu kota Albania, protes anti-pemerintah kembali berkobar. Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Pihak berwenang menyebutkan lebih dari 300 demonstran dan polisi terluka dalam serangkaian bentrokan yang telah berlangsung sejak pertengahan Oktober. Gedung-gedung pemerintah dilaporkan menjadi sasaran serangan massa, dan puluhan peserta aksi ditahan.

Di Barcelona, Spanyol, demonstrasi berlabel ‘anti-sistem’ berujung pada penjarahan dan pembakaran di alun-alun kota, dengan 100 orang ditangkap. Sementara di Madrid, tuntutan peserta aksi lebih spesifik: kenaikan nilai pensiun berbasis inflasi aktual, penaikkan pensiun minimum agar setara upah minimum, penyempitan kesenjangan pensiun antara gender, serta perlindungan sistem pensiun publik dari privatisasi.

Portugal menghadapi krisis perumahan yang disebut sebagai salah satu yang paling parah di Eropa. Harga rumah dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017, sementara sewa untuk kontrak baru hampir melonjak dua kali lipat. Ribuan orang berunjuk rasa di Lisbon pada Sabtu dan mendirikan lebih dari 100 tenda di sepanjang salah satu jalan utama ibu kota. Namun pada Minggu (25/10) dini hari, polisi membubarkan perkemahan tersebut dan melakukan beberapa penangkapan.

Di Brussels, ibu kota Belgia, polisi menggunakan gas air mata dan merica untuk menghadapi pengunjuk rasa. Gelombang protes di Belgia dalam beberapa bulan terakhir menuntut peningkatan anggaran pendidikan sekaligus mempersoalkan dugaan kekerasan berlebihan oleh aparat kepolisian.

Konteks

Gelombang protes yang hampir bersamaan di berbagai negara Eropa ini mencerminkan ketidakpuasan yang meluas terhadap kebijakan ekonomi dan sosial di benua itu. Tekanan biaya hidup, termasuk lonjakan harga perumahan dan ketidakpastian jaminan pensiun, menjadi pemantik utama kemarahan publik. Eskalasi bentrokan di beberapa titik menunjukkan betapa rentannya stabilitas sosial ketika tuntutan warga tidak tertampung melalui saluran kebijakan yang ada.

Foto: Ilustrasi. Unknown authorUnknown author / Wikimedia Commons (Public domain)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *