TOMOHON, LENSA-INDO.COM – Di sepanjang jalan menuju Danau Linow, deretan rumah kayu bertiang tinggi berdiri rapi di halaman bengkel-bengkel pertukangan. Itulah rumah panggung Woloan, produk khas Kelurahan Woloan, Kecamatan Tomohon Barat, yang mewarisi bentuk rumah adat Minahasa sekaligus menjadi komoditas ekspor. Keistimewaannya: rumah ini bisa dibongkar, dikirim ke tempat jauh, lalu dipasang kembali.
Dari Rumah Pohon hingga Rumah Panggung
Dalam sebuah webinar kajian rumah Woloan yang digelar Ikatan Dosen Katolik Indonesia bersama Pemerintah Kota Tomohon pada Oktober 2021, sebagaimana dilaporkan Industry.co.id, dijelaskan bahwa hunian orang Minahasa berkembang dari rumah yang ditopang pohon, lalu rumah panjang, hingga bentuk rumah panggung yang bertahan sampai kini. Bentuk tersebut sudah tercatat dalam penelitian WR van Hoevell pada 1850.
Kajian itu menyebut dua tipe rumah panggung Minahasa: wale weiwangin yang bertumpu pada tiang batu, dan wale meito’tol yang bertumpu pada tiang balok kayu. Tipe kedua inilah yang kini banyak dibuat dan dijual di Woloan. Istilah wale meito’tol juga dipakai para perajin untuk menyebut rumah bongkar pasang, seperti diuraikan CNN Indonesia.
Rumah ditinggikan bukan tanpa alasan. Buku Adat Istiadat Daerah Sulawesi Utara yang dimuat Wikisumber mencatat, tiang rumah tradisional Minahasa dulu bisa setinggi 5 hingga 10 meter untuk melindungi penghuni dari binatang buas dan serangan dari luar.
Bagian-bagian Rumah
Menurut sumber yang sama, rumah tradisional Minahasa umumnya terbagi menjadi beberapa ruang:
- Kolong. Ruang di bawah lantai yang dulu dipakai untuk menyimpan hasil panen, yang disebut godong, serta tempat berlindung ternak.
- Sekey. Ruang depan tempat menerima tamu.
- Pores. Ruang tengah yang bisa berfungsi sebagai ruang keluarga, ruang makan, atau tempat tidur.
- Kamar tidur dan dapur. Dapur berada di bagian belakang, tempat memasak dan makan.
Istilah bagian rumah dapat berbeda antarsubetnis dan antarwilayah Minahasa, sehingga pembaca mungkin menjumpai sebutan lain di daerahnya masing-masing.
Arsitek Krismanto Kusbiantoro, dalam kajian yang sama, menggambarkan rumah Woloan sebagai bangunan tiga bagian: tiang dengan ruang terbuka di bawahnya, badan rumah berdinding papan dengan pintu dan jendela, serta atap pelana. Bukaan yang lebar membantu sirkulasi udara di dataran tinggi Tomohon, sedangkan atap yang lebar melindungi rumah dari hujan lebat.
Rumah yang “Hidup”
Bagi masyarakat Minahasa, membangun rumah bukan sekadar urusan teknik. Budayawan Minahasa Paul Ricardo Renwarin menyebutnya sebagai rumah yang hidup, karena tindakan, doa, dan simbol para tukang menyertai pembangunan sejak peletakan batu pertama hingga syukuran naik rumah baru.
Catatan adat istiadat Sulawesi Utara juga menggambarkan upacara naik rumah baru pada masa lalu yang terdiri atas ritual adat yang dipimpin tonaas atau walian dan ibadah keagamaan. Ritual adat itu diiringi tari marambak, bagian dari rangkaian maengket yang melambangkan kegembiraan atas rumah baru, lalu ditutup dengan jamuan bersama.
Kayu Besi, Kayu Cempaka, dan Keterampilan Turun-temurun
Perajin Woloan umumnya memakai kayu besi untuk rangka dan kayu cempaka untuk bagian lain. Seorang perajin yang diwawancarai CNN Indonesia menyebut rumah buatan mereka mampu bertahan lebih dari 50 tahun; rumah milik kakeknya yang dibangun pada 1920 masih kokoh.
Keterampilan ini diyakini sudah ada sejak lama, lalu makin berkembang setelah pelatihan pertukangan yang dipimpin misionaris Bruder Van Den Linden SJ untuk membangun gereja, rumah sakit, dan sekolah. Salah satu jejaknya adalah gereja paroki di Kembes, Minahasa, yang berdiri pada 1933 dan dikerjakan tukang-tukang Woloan.
Proses membuat satu rumah dari kayu gelondongan bisa memakan waktu sekitar dua bulan, sementara pemasangan rumah bertingkat dengan empat kamar dapat rampung dalam kurang lebih dua pekan. Harga sangat bergantung pada ukuran, jenis kayu, dan biaya pengiriman.
Menembus Pasar Mancanegara
Pemerintah daerah menetapkan Woloan sebagai kawasan industri rumah panggung. Pada 2014, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut mencatat pengiriman rumah Woloan ke Australia dan Papua Nugini, seperti dilaporkan Republika dan Antara. Pejabat daerah saat itu menyebut rumah Minahasa juga sudah menjangkau pasar Eropa, Asia, dan Amerika.
Tantangannya kini adalah menjaga nilai budaya di tengah tuntutan pasar. Pengusaha Anton J. Supit, dalam kajian 2021, mendorong sentuhan arsitektur modern tanpa meninggalkan kearifan lokal, sekaligus menjadikan deretan rumah yang belum terjual sebagai daya tarik wisata.
Bagi wisatawan yang melintas ke Danau Linow atau Bukit Doa Mahawu, singgah sejenak di Woloan menjadi kesempatan melihat langsung bagaimana warisan arsitektur Minahasa terus hidup, dari bengkel kayu di Tomohon hingga halaman rumah di negeri seberang.
Foto: Ilustrasi – pemandangan Tomohon dari ketinggian, arsip koleksi Tropenmuseum. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Sumber:


