RI Siapkan Forum Global di Washington untuk Danai Konservasi Segitiga Terumbu Karang

Pemandangan bawah laut Taman Laut Bunaken, Manado Taman Laut Bunaken (arsip 2008). Sakurai Midori / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

JAKARTA, LENSA-INDO.COM – Pemerintah Indonesia menyiapkan forum kemitraan global di Washington, D.C., Amerika Serikat, untuk menggalang dukungan pendanaan bagi konservasi terumbu karang di kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle). Rencana itu dibahas Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono bersama Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo dalam pertemuan di Jakarta, Jumat (23/10/2026), seperti dilaporkan Antara dan Liputan6.

Forum yang digagas KBRI Washington bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu direncanakan berlangsung pada musim semi 2027. Lembaga yang diharapkan terlibat antara lain Bank Dunia, IUCN, WWF, The Nature Conservancy, World Resources Institute, Conservation International, dan Global Environment Facility (GEF).

Bukan Sekadar Urusan Ekosistem

Menurut Indroyono, perlindungan terumbu karang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, ekonomi biru, dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Karena itu, ia menilai upaya konservasi membutuhkan dukungan dari luar negeri. “Diperlukan kolaborasi internasional yang kuat,” ujarnya seperti dikutip Antara. Forum tersebut diharapkan menghasilkan skema pembiayaan, pertukaran pengetahuan, dan program konkret yang menyentuh masyarakat pesisir.

Kawasan Segitiga Terumbu Karang mencakup enam negara, yakni Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste. Wilayah lautnya lebih dari 6 juta kilometer persegi dan menjadi habitat lebih dari 3.000 spesies ikan karang serta sekitar 76 persen spesies karang dunia. Dari sekitar 75.000 kilometer persegi terumbu karang di kawasan itu, sekitar 60.000 kilometer persegi berada di perairan Indonesia.

Nilai ekonominya juga besar. Antara mencatat estimasi nilai tahunan sekitar 3 miliar dolar AS dari perikanan karang, 1,5 miliar dolar AS dari perikanan tuna, dan 12 miliar dolar AS dari wisata alam. Lebih dari 120 juta orang bergantung langsung pada laut di kawasan ini.

Melanjutkan Program Sebelumnya

Indonesia sebelumnya menjalankan program COREMAP sejak 1998. Fase terakhirnya, COREMAP-CTI yang berakhir pada 2022, didanai pinjaman Bank Dunia 47,38 juta dolar AS, hibah GEF 10 juta dolar AS, dan kontribusi pemerintah 5,74 juta dolar AS. Saat ini berjalan program Oceans for Prosperity (LAUTRA) senilai 210 juta dolar AS yang dikelola KKP bersama Bappenas untuk memperkuat pengelolaan 8,3 juta hektare kawasan konservasi laut di 11 provinsi kawasan timur Indonesia.

Dampaknya bagi Sulawesi Utara

Bagi Sulawesi Utara, isu ini punya kedekatan khusus. Sekretariat Regional Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF), wadah kerja sama enam negara tersebut, berkantor di Kairagi Dua, Mapanget, Manado. Laman resmi CTI-CFF bahkan menyebut Sulut sebagai provinsi kelahiran inisiatif ini.

Perairan Sulut, termasuk Taman Nasional Bunaken, menjadi andalan wisata bahari sekaligus sumber penghidupan nelayan. Bila forum di Washington berhasil menarik pendanaan baru, kawasan konservasi di Sulut berpeluang ikut merasakan manfaatnya, baik untuk rehabilitasi karang maupun penguatan ekonomi masyarakat pesisir.

Foto: Ilustrasi – pemandangan bawah laut Taman Laut Bunaken, arsip 2008. Sakurai Midori / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *