Sulut Bersiap Jadi Tuan Rumah Pesparani Katolik Nasional IV 2027, Sekitar 10 Ribu Peserta Ditargetkan Hadir

Foto arsip pemandangan Kota Tomohon dari ketinggian Ilustrasi – pemandangan Tomohon dari ketinggian, arsip koleksi Tropenmuseum. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

LENSA-INDO.COM, MANADO — Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mematangkan persiapan menjadi tuan rumah Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional IV Tahun 2027. Kegiatan nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 16–21 November 2027 itu akan melibatkan Kota Manado dan Tomohon sebagai lokasi penyelenggaraan, dengan perkiraan sekitar 10.000 peserta dari 38 provinsi.

Wakil Gubernur Sulawesi Utara sekaligus Ketua Umum Panitia Pelaksana Pesparani Nasional IV, J. Victor Mailangkay, menekankan bahwa perhelatan tersebut diharapkan memperkuat persaudaraan dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat. Pernyataan itu disampaikan dalam rangkaian koordinasi kepanitiaan di Manado pada Jumat, 6 November 2026, dan diberitakan ANTARA pada Minggu, 8 November 2026.

Manado dan Tomohon disiapkan sebagai lokasi penyelenggaraan

Kementerian Agama sebelumnya mengonfirmasi bahwa kegiatan Pesparani IV dijadwalkan pada 16–21 November 2027, termasuk agenda praacara dan penutupan. Berdasarkan penjelasan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, rangkaian kegiatan direncanakan berlangsung di dua kota, yakni Manado dan Tomohon. Informasi lokasi tersebut penting untuk persiapan fasilitas, penginapan, transportasi, serta koordinasi panitia dengan pemerintah daerah.

Perkiraan jumlah peserta sekitar 10.000 orang merupakan proyeksi penyelenggara, bukan angka kehadiran yang sudah terkonfirmasi. Jumlah final delegasi, komposisi peserta, dan rincian lokasi setiap lomba masih dapat berubah sesuai keputusan resmi berikutnya.

Victor Mailangkay tekankan toleransi dan persaudaraan

Victor mengatakan kepercayaan kepada Sulawesi Utara sebagai tuan rumah merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar. Selain sebagai panggung musik gerejawi, Pesparani diharapkan menjadi ruang perjumpaan lintas daerah yang memperlihatkan keramahan masyarakat Sulawesi Utara serta tradisi hidup berdampingan dalam perbedaan.

Ia menilai keberhasilan perhelatan tidak hanya bergantung pada panitia atau dukungan pemerintah. Keterlibatan masyarakat, relawan, komunitas seni, serta pelaku usaha di daerah juga akan menentukan pengalaman para tamu. Karena itu, gotong royong dan keterbukaan disebut sebagai unsur penting dalam persiapan.

Rangkaian lomba dan kegiatan budaya

Menurut penjelasan resmi Kementerian Agama pada 29 September 2026, jenis lomba yang direncanakan mencakup paduan suara anak, paduan suara remaja Gregorian, paduan suara Orang Muda Katolik campuran, paduan suara dewasa wanita, paduan suara dewasa pria Gregorian, serta paduan suara dewasa campuran.

Selain kategori kelompok, ada lomba perseorangan, antara lain bermazmur untuk beberapa kelompok usia, cerdas cermat rohani, dan bertutur Kitab Suci anak. Kegiatan pendukung dirancang meliputi pembukaan dan penutupan dengan misa, pameran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), malam persaudaraan, konser budaya, seminar, lokakarya, dan defile peserta.

Agenda tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan tidak hanya berpusat pada kompetisi bernyanyi. Ada kesempatan memperkenalkan karya seni serta tradisi budaya Sulawesi Utara kepada delegasi dari berbagai provinsi. Namun, jadwal rinci setiap lomba maupun susunan penampil tetap harus menunggu pengumuman panitia.

Dukungan Kementerian Agama dan pembiayaan

Pemerintah pusat telah mengesahkan kepanitiaan melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 1179 Tahun 2026. Pada akhir September, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyerahkan keputusan tersebut kepada pihak panitia. Langkah ini menjadi dasar penguatan koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga penyelenggara.

Dalam pembahasan lanjutan pada Oktober 2026, Kementerian Agama dan DPRD Sulawesi Utara juga membicarakan dukungan anggaran, kesiapan teknis, dan kemungkinan partisipasi pihak swasta. Meski demikian, belum tepat menyebut total anggaran final atau nilai komitmen pendanaan jika belum diumumkan melalui dokumen resmi yang dapat diperiksa.

Peluang bagi usaha dan pariwisata daerah

Jika jumlah delegasi mendekati proyeksi, penyelenggaraan dapat meningkatkan kebutuhan akomodasi, transportasi lokal, konsumsi, layanan wisata, dan produk UMKM. Manado dan Tomohon berpotensi memperkenalkan kuliner, kerajinan, serta destinasi kepada pengunjung yang datang dari berbagai daerah Indonesia.

Namun, dampak ekonomi tetap berupa potensi, bukan pendapatan yang sudah terealisasi. Pengalaman pengunjung juga akan bergantung pada kesiapan sarana, informasi perjalanan, harga yang wajar, aksesibilitas, dan koordinasi pelayanan. Bagi pelaku UMKM, kesempatan mengikuti pameran perlu disertai mekanisme seleksi dan informasi biaya yang transparan.

Pekerjaan rumah menuju November 2027

Panitia masih menghadapi sejumlah pekerjaan, mulai dari finalisasi tempat penyelenggaraan, kesiapan teknis perlombaan, akomodasi peserta, pengaturan lalu lintas, fasilitas kesehatan, hingga rencana pelayanan bagi delegasi. Koordinasi lintas lembaga akan menjadi penting karena kegiatan mencakup dua kota dan melibatkan masyarakat dari berbagai provinsi.

Dalam pengumuman resmi, Pesparani Nasional IV 2027 direncanakan membawa tema “Satu Harmoni, Berjalan Bersama dari Sulawesi Utara untuk Indonesia Rukun dan Bersaudara.” Semangat tersebut menjadi arah penyelenggaraan yang diharapkan tidak hanya sukses secara organisasi, tetapi juga memperkuat kehidupan bersama di daerah.

Sumber utama: ANTARA Sulawesi Utara, 8 November 2026; Direktorat Jenderal Bimas Katolik Kemenag, 29 September 2026 — Agenda, tema, lokasi, dan jenis lomba; Kementerian Agama, 14 Oktober 2026 — Koordinasi persiapan dan pembiayaan.

Foto unggulan merupakan arsip pemandangan Kota Tomohon, salah satu lokasi yang direncanakan menjadi tempat kegiatan, bukan foto rapat panitia atau penyelenggaraan Pesparani 2027.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *