Lapas Manado Kembangkan Budidaya Pakcoi dan Ketimun untuk Bekal Keterampilan Warga Binaan

Tanaman sayur pakcoi di kebun sebagai ilustrasi budidaya sayuran warga binaan Lapas Manado Ilustrasi tanaman pakcoi di kebun Assam, India, bukan dokumentasi Lapas Manado. Neelam Dutta / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.

LENSA-INDO.COM, MANADO — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Manado, Sulawesi Utara, terus mengembangkan kegiatan budidaya sayuran sebagai bagian dari pembinaan keterampilan dan kemandirian warga binaan. Jenis tanaman yang dibudidayakan antara lain pakcoi dan ketimun, dengan pemanfaatan lahan yang tersedia di lingkungan lapas.

Kepala Lapas Kelas IIA Manado, Krisman Ziliwu, menyampaikan bahwa pertanian menjadi salah satu sarana pengembangan kreativitas, kedisiplinan, dan tanggung jawab warga binaan. Keterangan tersebut disampaikan di Manado pada Jumat, 6 November 2026, dan diberitakan ANTARA pada Sabtu, 7 November.

Belajar dari pengolahan lahan sampai panen

Program tidak hanya menempatkan warga binaan sebagai peserta kegiatan panen. Mereka diarahkan untuk mempelajari tahapan budidaya, mulai dari menyiapkan media tanam, menanam bibit, merawat tanaman, hingga proses pemanenan. Setiap tahapan memiliki kebutuhan keterampilan yang berbeda.

Dalam pengolahan media tanam, peserta dapat mengenal kondisi lahan dan kebutuhan dasar tanaman. Ketika memasuki masa pemeliharaan, mereka perlu memahami pengairan, pengamatan pertumbuhan, serta kebersihan area tanam. Pengalaman tersebut merupakan keterampilan praktis yang dapat digunakan di kebun rumah tangga maupun untuk aktivitas usaha pertanian skala kecil setelah bebas.

Pakcoi dan ketimun menjadi bagian kegiatan produktif

Pakcoi merupakan sayuran daun yang lazim dikonsumsi masyarakat, sedangkan ketimun termasuk tanaman sayuran buah. Keduanya memerlukan pendekatan pemeliharaan yang berbeda, sehingga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi peserta program. Dalam keterangannya, Krisman menegaskan bahwa pemanfaatan lahan lapas diarahkan untuk mendukung kegiatan produktif sekaligus berkontribusi pada program ketahanan pangan.

Meski demikian, laporan yang menjadi dasar berita ini tidak merinci jumlah warga binaan peserta program, luasan lahan, ataupun total produksi panen. Karena itu, angka hasil panen atau pendapatan dari penjualan sayuran belum dapat disimpulkan. Manfaat kegiatan yang dikemukakan pengelola lebih berfokus pada pengalaman belajar dan pembentukan kebiasaan kerja.

Pembinaan kemandirian sebagai persiapan kembali ke masyarakat

Krisman mengatakan pembinaan keterampilan perlu memberi bekal yang dapat dimanfaatkan warga binaan setelah menyelesaikan masa pidananya. Kegiatan bercocok tanam dinilai membantu peserta mengembangkan produktivitas sekaligus mengisi masa pembinaan dengan aktivitas terarah.

Dalam konteks pemasyarakatan, keterampilan kerja menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung reintegrasi sosial. Orang yang kembali ke masyarakat mungkin menghadapi tantangan mencari penghasilan, menyesuaikan diri dengan lingkungan, atau membangun kembali kepercayaan keluarga. Pengalaman kerja yang terstruktur dapat menjadi salah satu modal untuk menghadapi tantangan tersebut.

Namun, kegiatan pelatihan saja tidak menjamin seluruh peserta langsung memperoleh pekerjaan atau usaha setelah bebas. Pendampingan lanjutan, akses alat, pengetahuan pemasaran, serta jejaring dukungan di lingkungan tempat tinggal juga dapat menentukan apakah keterampilan benar-benar dimanfaatkan.

Peran disiplin dan tanggung jawab

Merawat tanaman membutuhkan konsistensi. Penyiraman, penyiangan, pemantauan hama, dan penentuan waktu panen tidak dapat dilakukan hanya sekali. Kegiatan yang berulang dengan tujuan jelas dapat membantu melatih ketekunan dan tanggung jawab terhadap pekerjaan.

Manfaat pendidikan semacam ini tetap perlu diukur secara wajar. Perubahan perilaku individu berbeda-beda, dan tidak semua peserta memiliki pengalaman atau minat pertanian yang sama. Penyelenggara dapat mengevaluasi program dari kehadiran, penguasaan keterampilan, dan keterlibatan peserta, tanpa mengklaim perubahan karakter secara pasti hanya karena satu kegiatan panen.

Kontribusi pada ketahanan pangan

Pemanfaatan area kosong untuk pertanian dapat menambah ketersediaan sayuran di lingkungan lembaga. Dalam skala lebih luas, kegiatan tersebut sejalan dengan gagasan ketahanan pangan yang menekankan kemampuan memproduksi dan mengakses bahan makanan. Namun, sumbangan aktual terhadap kebutuhan pangan harus dilihat dari volume panen dan pola pemanfaatan hasil.

Program pertanian di lembaga pemasyarakatan juga membutuhkan standar keselamatan dan kesehatan kerja. Penggunaan alat kebun, pupuk, bahan pengendali hama, serta pengaturan kegiatan di bawah pengawasan perlu dilakukan sesuai prosedur agar pembinaan tidak menimbulkan risiko baru bagi peserta.

Program berkelanjutan tetap menjadi perhatian

Krisman menyampaikan Lapas Manado akan terus mengoptimalkan program pembinaan kemandirian melalui kegiatan produktif dan inovatif. Keberlanjutan menjadi faktor penting karena keterampilan pertanian membutuhkan latihan berkala, bukan hanya satu kali penyuluhan atau panen simbolis.

Bagi masyarakat, kegiatan ini dapat dilihat sebagai upaya membangun kesempatan belajar bagi warga binaan tanpa mengabaikan tujuan pemasyarakatan. Informasi lebih rinci tentang jumlah peserta, hasil pelatihan, dan pemanfaatan panen perlu menunggu pembaruan resmi dari Lapas Manado.

Sumber utama: ANTARA Sulawesi Utara, 7 November 2026 — Lapas Manado tingkatkan keterampilan warga binaan budidaya sayuran.

Foto unggulan adalah ilustrasi tanaman pakcoi di kebun Assam, India, bukan dokumentasi kegiatan di Lapas Manado. Neelam Dutta / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *