NAIROBI, LENSA-INDO.COM – Kenya mengonfirmasi kasus Ebola kedelapan pada Minggu (18/10/2026), dua pekan setelah pasien pertama di negara itu meninggal di sebuah rumah sakit di Nairobi. Pasien terbaru adalah seorang pria berusia 49 tahun yang bertugas sebagai petugas pendamping pasien dan diduga tertular saat merawat kasus pertama.
Direktur Jenderal Kesehatan Kenya, Patrick Amoth, kepada Citizen TV mengatakan 38 orang dites pada hari Minggu dan satu di antaranya positif, seperti dilaporkan Al Jazeera. Pria tersebut mengalami demam, sakit kepala, dan nyeri otot, lalu langsung dikarantina dan diperiksa.
Petugas Kesehatan Ikut Tertular
Sehari sebelumnya, Sabtu (17/10/2026), Kementerian Kesehatan Kenya mengumumkan empat kasus baru sehingga totalnya menjadi tujuh. Tiga di antaranya adalah tenaga kesehatan yang merawat pasien pertama, sedangkan satu lainnya kerabat pasien yang sudah dikarantina sejak 6 Oktober, menurut Antara.
Pasien pertama adalah pria Kenya berusia 40 tahun yang bepergian dari Republik Demokratik Kongo melalui Uganda, tiba di Nairobi pada 3 Oktober, dan meninggal dua hari kemudian. Hingga Minggu, sekitar 128 kontak erat telah dilacak dan dikarantina, sementara pasien lain dilaporkan dalam kondisi stabil, menurut ABC News Australia.
Meski jumlah kasus bertambah, Amoth menyatakan belum ada bukti penularan di tengah masyarakat dan risiko bagi publik masih rendah. Kenya tidak memberlakukan pembatasan perjalanan maupun kegiatan publik, tetapi memperketat skrining di perbatasan, membuka saluran darurat, dan menyiapkan gerbang khusus di bandara utama Nairobi untuk penerbangan dari negara terdampak.
Konteks: Wabah Terburuk dalam Sejarah Kongo
Kasus di Kenya merupakan limpahan dari wabah di Republik Demokratik Kongo yang berlangsung sejak Mei 2026. Berbagai laporan menyebut wabah itu telah menyebabkan lebih dari 9.000 kasus dan lebih dari 4.000 kematian, menjadikannya yang terburuk dalam sejarah negara tersebut. Pada Minggu, virus dilaporkan telah mencapai provinsi kedelapan, Ubangi Utara, dengan Provinsi Ituri sebagai episentrum.
Wabah ini disebabkan virus Bundibugyo, jenis Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus yang disetujui. Direktur Regional WHO untuk Afrika, Mohamed Yakub Janabi, menyebut kasus di sejumlah kantong mulai menurun, tetapi sebaran geografisnya meluas. Uganda mencatat 20 kasus terkonfirmasi, sebagian besar kasus impor, sementara Tanzania memperketat pemeriksaan di perbatasan.
Dampaknya bagi Indonesia
Ebola menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi, seperti seprai dan pakaian, bukan lewat udara seperti flu. Kementerian Kesehatan RI sebelumnya menyatakan belum ada kasus Ebola di Indonesia dan telah memperketat pengawasan di bandara serta pelabuhan internasional, terutama bagi pelaku perjalanan dari negara terdampak.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menekankan pentingnya kejujuran pelaku perjalanan mengenai riwayat perjalanannya untuk memutus rantai penularan, seperti dikutip Antara. Warga yang baru kembali dari negara terdampak dan mengalami demam atau gejala perdarahan dalam 21 hari diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Bagi masyarakat umum, termasuk di Sulawesi Utara, langkah terpenting adalah tidak panik, menjaga kebersihan tangan, dan merujuk informasi resmi Kemenkes agar tidak termakan hoaks seputar Ebola.
Foto: Ilustrasi – Gambar mikroskop elektron partikel virus Ebola. CDC/Cynthia Goldsmith / Wikimedia Commons (Public domain)
Sumber:
