LENSA-INDO.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda, Kalimantan Timur, memastikan seorang balita yang meninggal dunia setelah sekitar sepekan mengalami sesak napas bukan merupakan korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih, menyampaikan hal itu pada Sabtu (17/10/2026). Menurutnya, pihaknya telah melakukan penelusuran dan surveilans ke rumah sakit terakhir tempat balita tersebut dirawat, dan hasilnya menunjukkan kematian tidak berkaitan dengan karhutla. Meski demikian, Ismed tidak merinci penyebab medis kematian dan meminta hal itu ditanyakan langsung kepada dokter yang menangani.
Sempat Bolak-balik Berobat
Balita berusia 1 tahun 2 bulan itu berasal dari Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran. Berdasarkan keterangan ibunya, sang anak pertama kali dibawa ke rumah sakit pada Kamis (8/10). Saat itu kondisinya dinilai belum berat dan kadar oksigennya masih normal.
Pada Rabu (14/10), anak tersebut kembali dibawa ke puskesmas. Dokter mendengar adanya suara napas tambahan dan menyarankan rawat inap. Belakangan, dokter spesialis anak juga menemukan tarikan pada dinding dada saat bernapas.
Sang ibu menyebut anaknya tidak punya riwayat asma, namun rutin kontrol setiap dua pekan karena keterlambatan tumbuh kembang. Ia juga mengaku hampir setiap pagi mendapati abu dan jelaga di sekitar rumah akibat asap yang terbawa angin, tetapi tidak bisa memastikan apakah asap itu berpengaruh pada kondisi anaknya.
Kabut Asap Masih Meluas
Kasus ini mencuat di tengah kabut asap karhutla yang menyelimuti sebagian Sumatra dan Kalimantan. Data pemantauan kualitas udara yang dikutip Katadata pada 12 Oktober menunjukkan sejumlah daerah, seperti Barito Kuala, Kapuas, dan Palangka Raya, berada pada kategori berbahaya. Dampaknya bahkan sampai ke Malaysia, yang menutup sekolah di beberapa negara bagian.
Kenali Tanda Bahaya pada Anak
Bagi orang tua di daerah terdampak asap, beberapa langkah berikut dapat membantu melindungi anak:
- Pantau kualitas udara harian dan batasi aktivitas anak di luar ruangan saat udara buruk.
- Tutup jendela dan pintu saat asap pekat, serta jaga kebersihan ruangan.
- Untuk anak di atas 2 tahun, gunakan masker yang ukurannya pas. Masker tidak dianjurkan untuk bayi dan anak di bawah 2 tahun, sehingga mereka sebaiknya tetap berada di dalam ruangan.
- Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan bila muncul napas cepat, tarikan dinding dada, bibir kebiruan, sulit menyusu atau makan, atau anak tampak sangat lemas.
Foto: Ilustrasi kabut asap kebakaran hutan. Zenibas / Wikimedia Commons (CC0)
Sumber:
