Prancis Diguncang Demo Nasional soal Biaya Hidup, Puluhan Orang Ditahan di Paris

Arsip unjuk rasa rompi kuning di Paris, Februari 2019 Arsip: unjuk rasa rompi kuning di Paris, 9 Februari 2019. Thomon / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

PARIS, LENSA-INDO.COM – Gelombang unjuk rasa melanda berbagai kota di Prancis pada Sabtu (17/10/2026). Serikat pekerja, warga dari gerakan “rompi kuning” (gilets jaunes), hingga pelajar turun ke jalan memprotes kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar.

Euronews melaporkan puluhan orang ditahan di Paris setelah terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan. Di Marseille, sekelompok demonstran bertopeng sempat mendobrak pintu balai kota sebelum dihalau polisi, sementara sejumlah tempat sampah dibakar sejak pagi.

Ratusan Aksi di Seluruh Negeri

Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan sekitar 500 aksi digelar di seluruh negeri. Mengutip BFMTV, pemerintah memperkirakan 30.000 hingga 60.000 orang berunjuk rasa di Paris, dan 90.000 hingga 170.000 orang di seluruh Prancis.

Sebagai langkah antisipasi, kepolisian Paris melarang aksi di sekitar kediaman Presiden Emmanuel Macron dan perdana menteri. Sejumlah stasiun metro juga ditutup sementara atas permintaan polisi. Ribuan personel polisi dan unit antihuru-hara disiagakan, dan banyak toko memasang papan pelindung di etalase.

Biaya Hidup dan Protes Pelajar

Pengunjuk rasa menyoroti naiknya biaya hidup dan harga BBM, yang menurut Euronews dikaitkan dengan dampak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Aksi ini juga menyatu dengan protes pelajar yang sudah berlangsung sekitar empat pekan, menuntut perbaikan pendidikan, kelas yang tidak terlalu padat, dan fasilitas sekolah yang layak.

Perdebatan anggaran negara, langkah penghematan, dan parlemen yang terbelah turut memperpanas situasi politik.

Respons Pemerintah

Presiden Macron menegaskan hak untuk berunjuk rasa dihormati sepenuhnya, namun harus disertai penghormatan terhadap orang lain dan properti. Ia menyerukan semua pihak tetap tenang.

Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menyatakan aparat dapat menggunakan granat kejut bila terjadi kekerasan serius. Ia juga menyebut 36 penyelidikan atas dugaan kekerasan polisi telah dibuka. Adapun Perdana Menteri Sébastien Lecornu mengungkapkan, sejak gelombang protes dimulai, 937 polisi dan gendarmerie terluka, demikian pula 248 pelajar dan 149 tenaga pengajar.

Akar Gerakan Rompi Kuning

Gerakan rompi kuning atau gilets jaunes pertama kali muncul pada November 2018 sebagai protes terhadap rencana kenaikan pajak bahan bakar. Nama gerakan itu diambil dari rompi reflektif yang wajib dibawa setiap pengendara di Prancis. Dalam perkembangannya, tuntutan mereka meluas ke soal daya beli, ketimpangan, dan jarak antara pemerintah dengan warga di daerah pinggiran.

Kemunculan kembali simbol rompi kuning dalam aksi kali ini menunjukkan isu biaya hidup masih menjadi titik sensitif dalam politik Prancis. Bagi pembaca di Indonesia, situasi ini relevan karena gejolak harga energi global juga berdampak pada harga bahan bakar dan barang impor di dalam negeri. Perkembangan di Eropa kerap menjadi penanda arah harga minyak dunia, yang pada gilirannya memengaruhi kebijakan subsidi dan harga BBM di banyak negara.

Foto: Arsip: unjuk rasa rompi kuning di Paris, 9 Februari 2019. Thomon / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *