Nilai Tukar Petani Sulut November 2025 Turun 0,61 Persen, Hortikultura Paling Tertekan

MANADO, LENSA-INDO.COM – Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara pada November 2025 tercatat 133,42, turun 0,61 persen dibanding Oktober 2025 yang sebesar 134,24. Data ini disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara yang dipimpin Aidil Adha, seperti dilaporkan Manado Bacirita di Kumparan.

Penurunan terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun 1,74 persen, lebih dalam dibanding penurunan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 1,14 persen. Harga tomat dan gabah menjadi penyebab utama turunnya pendapatan petani, sedangkan turunnya harga cabai rawit dan beras membuat pengeluaran rumah tangga petani ikut berkurang.

Hortikultura Turun, Subsektor Lain Naik

Dari lima subsektor, hanya hortikultura yang mencatat penurunan, yakni 7,91 persen, sejalan dengan anjloknya harga tomat. Empat subsektor lain justru naik: perikanan 2,52 persen, peternakan 1,37 persen, tanaman pangan 0,96 persen, dan tanaman perkebunan rakyat 0,89 persen.

Meski turun secara bulanan, posisi NTP Sulawesi Utara masih jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya. NTP naik 14,51 persen secara tahunan dan 11,65 persen sejak awal tahun.

Cara Membaca NTP

NTP adalah perbandingan antara harga yang diterima petani dari hasil panennya dan harga yang harus mereka bayar untuk kebutuhan rumah tangga serta biaya produksi. Angka di atas 100 berarti pendapatan petani dari kenaikan harga hasil panen lebih besar daripada kenaikan biaya hidup dan produksinya. Dengan NTP 133,42, daya beli petani Sulawesi Utara secara umum masih tergolong kuat.

Konteks: Sulut Pernah Catat Kenaikan Tertinggi

Pada Februari 2025, BPS mencatat Sulawesi Utara sebagai provinsi dengan kenaikan NTP tertinggi di Indonesia, yakni 4,14 persen. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti saat itu menyebut 22 provinsi mengalami kenaikan NTP dengan peningkatan tertinggi di Sulawesi Utara.

Di Pulau Sulawesi, pada November 2025 hanya Sulawesi Selatan (naik 0,22 persen) dan Sulawesi Tenggara (naik 0,16 persen) yang mencatat kenaikan NTP. Empat provinsi lainnya turun, dengan penurunan terdalam di Sulawesi Barat sebesar 2,80 persen.

Dampaknya bagi Petani

Bagi petani hortikultura, khususnya petani tomat di sentra sayur seperti Modoinding dan dataran tinggi Tomohon, anjloknya harga menjadi sinyal untuk mengatur pola tanam agar panen tidak menumpuk pada waktu yang sama. Sementara itu, petani perkebunan, peternak, dan nelayan menikmati harga yang lebih baik pada bulan tersebut.

Catatan redaksi: Artikel ini diperbarui pada 18 Oktober 2026 dan dilengkapi data serta keterangan resmi dari sumber yang tercantum di bawah.


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *