MINAHASA, LENSA-INDO.COM – Kain Bentenan adalah kain tenun tradisional Minahasa, Sulawesi Utara, yang dibuat dengan teknik ikat ganda dan dahulu hanya dipakai dalam upacara adat penting. Kain ini sempat hilang dari kehidupan masyarakat selama sekitar dua abad, sebelum dihidupkan kembali oleh perajin, budayawan, dan pemerintah daerah. Kini motif Bentenan kembali tampil, mulai dari seragam sekolah di Manado hingga selendang yang dikenakan Presiden pada perayaan Natal Nasional.
Asal-usul Nama dan Sejarah Kain Bentenan
Nama Bentenan diambil dari Bentenan, sebuah teluk dan pulau di pesisir Minahasa Tenggara. Menurut kajian Febhimaesuri dan rekan dalam jurnal Cipta (2022), kawasan ini pada abad ke-15 hingga ke-17 menjadi pelabuhan dagang, dan dari sanalah kain tenun Minahasa pertama kali diekspor. Karena itu, meskipun kain ini ditenun di berbagai wilayah Minahasa, namanya tetap melekat pada pelabuhan tersebut. Kajian yang sama mencatat desa itu bernama Weteng hingga 1879 sebelum berganti nama menjadi Bentenan.
Tradisi berkain di Minahasa sendiri jauh lebih tua. Penelitian mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra menyebut, sekitar abad ke-7 Masehi masyarakat Minahasa sudah mengenal kain dari kulit kayu (fuya), serat nanas (koffo), dan bambu (wa’u). Kain Bentenan kemudian berkembang sebagai tenunan yang lebih halus dan rumit.
Ada beberapa versi tentang kapan tradisi ini terhenti. Orami, mengutip peneliti tekstil Hetty Nooy-Palm, menyebut kain terakhir diperkirakan ditenun sekitar 1880, sementara sumber lain menyebut akhir abad ke-18 di Ratahan. Pemberitaan Antara dan Bisnis.com menyebut kain ini tidak diproduksi selama lebih dari 200 tahun. Penyebaran agama baru oleh misionaris Belanda serta anggapan bahwa tenun tradisional sudah kuno disebut ikut mendorong kain ini ditinggalkan.
Teknik Ikat Ganda dan Bahan Alami
Keistimewaan kain Bentenan terletak pada teknik ikat ganda (double ikat), yaitu benang lungsin dan benang pakan sama-sama diikat dan diwarnai sebelum ditenun. Dalam bahasa setempat, benang pakan disebut sa’lange dan benang lungsin wasa’lene. Teknik ini tergolong sulit dan jarang ditemukan di daerah lain karena motif baru terbentuk sempurna ketika kedua kelompok benang bertemu tepat pada posisinya.
Kain ditenun tanpa putus sehingga berbentuk tabung atau silinder. Bahan bakunya berasal dari serat kulit kayu pohon Lahendong dan Sawukouw, serat nanas, hingga bambu. Pewarnaannya memakai bahan alami dari tumbuhan lokal seperti pohon Taun, Lelenu, Sangket, dan Semak Lenu, sebagaimana dicatat Antara dan Bisnis.com.
Tujuh Motif Kain Bentenan dan Cirinya
Kain Bentenan dikenal memiliki tujuh motif utama. Ciri masing-masing motif menurut kajian Universitas Kristen Petra dirangkum dalam tabel berikut.
| Motif | Ciri utama |
|---|---|
| Pinatikan | Garis menyerupai jala dan bentuk segi enam; disebut sebagai motif yang pertama kali ditenun di Minahasa |
| Tinonton Mata | Menampilkan gambar figur manusia |
| Tinompak Kuda | Aneka motif yang berulang |
| Kaiwu Patola | Motif patola yang mendapat pengaruh kain patola dari India |
| Kokera | Motif bunga berwarna-warni yang disulam manik-manik |
| Sinoi | Benang berwarna-warni dengan pola garis |
| Tonilama | Kain dari benang putih tanpa warna |
Motif Kaiwu Patola punya posisi istimewa. Museum Nasional Indonesia di Jakarta menyimpan sarung Bentenan bermotif patola yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-18, seperti ditampilkan dalam koleksi Google Arts & Culture. Kain jenis ini biasanya dikenakan perempuan pemimpin upacara adat.
Fungsi dalam Kehidupan Adat Minahasa
Pada masa lalu, kain Bentenan bersifat sakral. Orami mencatat kain ini hanya dikenakan Tonaas (pemimpin adat) dan Walian (pemimpin ritual) dalam upacara mendirikan rumah, menentukan masa tanam, dan persiapan perang. Kain ini juga hadir dalam upacara daur hidup: menyelimuti bayi yang baru lahir, perkawinan, hingga upacara kedukaan. Kajian Universitas Kristen Petra menambahkan bahwa kain ini juga berfungsi sebagai mas kawin dan penanda status sosial.
Fungsi tersebut sejalan dengan tradisi Minahasa lain yang memadukan kehidupan sehari-hari dengan ritual leluhur, seperti tari perang Kabasaran dan musyawarah leluhur di Watu Pinawetengan.
Kebangkitan Kembali Kain Bentenan
Jumlah kain Bentenan asli yang tersisa sangat sedikit, meski angkanya berbeda antarsumber. Jurnal Cipta menyebut hanya 28 lembar yang tersisa di dunia, tersebar di Museum Nasional Jakarta, Tropenmuseum Amsterdam, museum etnografi di Rotterdam, Frankfurt, dan Dresden. Orami menyebut jumlahnya kurang dari sepuluh, dua di antaranya di Museum Nasional.
Upaya menghidupkan kembali kain ini, menurut kajian Universitas Kristen Petra, bermula ketika pendiri Yayasan Kreasi Masyarakat Sulawesi Utara (KAREMA) melihat kain Bentenan di sebuah museum di Belanda. Ia lalu bekerja sama dengan budayawan Yessy Wenas merancang ulang motifnya. KAREMA, yang berdiri pada Oktober 2006, memproduksi kembali kain tenun Bentenan dengan motif utama Kaiwu Patola, Tinonton Mata, dan Tinompak Kuda. Satu lembar kain tenun disebut memerlukan waktu sekitar lima hingga enam bulan.
Produksi masa kini mengalami penyesuaian: pewarna kimia dan benang katun banyak menggantikan bahan alami, karena alat tenun asli sudah tidak ditemukan. Di sisi lain, kain cetak bermotif Bentenan berkembang luas dan dijual mulai sekitar Rp100.000, tergantung motif dan ukuran.
Konteks Sulawesi Utara dan Nasional
Pemerintah Kota Manado ikut mendorong pelestarian dengan memakai motif Bentenan pada seragam sekolah dan aparatur sipil negara, sebagaimana dicatat jurnal Cipta. Popularitas kain ini juga naik di tingkat nasional ketika Presiden Prabowo Subianto mengenakan selendang Bentenan pada Puncak Perayaan Natal Nasional 2024 di Indonesia Arena, Jakarta, 28 Desember 2024. Selendang itu diserahkan Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, menurut Antara.
Meski demikian, kajian Universitas Kristen Petra mencatat minat generasi muda perkotaan masih rendah, sehingga tenun Bentenan tetap berisiko punah. Membeli produk perajin lokal dan mempelajari makna motifnya menjadi cara sederhana untuk ikut menjaga warisan ini.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Dari mana nama kain Bentenan berasal?
Dari Bentenan, teluk dan pulau di pesisir Minahasa Tenggara yang pada abad ke-15 hingga ke-17 menjadi pelabuhan tempat kain ini pertama kali diekspor.
Apa teknik pembuatan kain Bentenan?
Teknik ikat ganda, yaitu benang lungsin dan pakan sama-sama diikat dan diwarnai sebelum ditenun, menghasilkan kain berbentuk tabung.
Berapa motif utama kain Bentenan?
Tujuh: Pinatikan, Tinonton Mata, Tinompak Kuda, Kaiwu Patola, Kokera, Sinoi, dan Tonilama.
Di mana kain Bentenan asli bisa dilihat?
Antara lain di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dan Tropenmuseum di Amsterdam, menurut jurnal Cipta.
Penutup
Kain Bentenan adalah bukti kecanggihan teknik tenun leluhur Minahasa sekaligus cermin jalur dagang Nusantara masa lalu. Setelah dua abad menghilang, kain ini kembali dikenal berkat kerja perajin, budayawan, dan dukungan pemerintah daerah. Tantangannya kini adalah memastikan generasi muda Sulawesi Utara tidak hanya memakai motifnya, tetapi juga memahami cerita di balik setiap helai benang.
Foto: Seorang walian (pemimpin ritual perempuan) Minahasa dengan hiasan kepala, foto arsip (ilustrasi). Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Sumber:

