Sam Ratulangi: Doktor Matematika dari Tondano, Gubernur Sulawesi Pertama, dan Makna Si Tou Timou Tumou Tou

Potret Sam Ratulangi, pahlawan nasional asal Tondano Potret Dr. G.S.S.J. Ratulangi (arsip). IPPHOS / Wikimedia Commons (Public domain)

TONDANO, LENSA-INDO.COM – Sam Ratulangi adalah putra Minahasa kelahiran Tondano yang menjadi doktor matematika, wakil rakyat di Volksraad, anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dan Gubernur Sulawesi pertama. Ia wafat sebagai tahanan Belanda pada 1949 dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 1961. Warisan terbesarnya bagi orang Sulut adalah falsafah Si Tou Timou Tumou Tou: manusia baru sungguh menjadi manusia bila ia memanusiakan sesamanya.

Menjelang peringatan hari lahirnya pada 5 November, berikut riwayat hidup, gagasan, dan jejak Sam Ratulangi yang masih terasa di Sulawesi Utara hingga kini.

Masa Kecil di Tondano dan Pendidikan hingga Zurich

Nama lengkapnya Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi. Ia lahir di Tondano, Minahasa, pada 5 November 1890 dari pasangan Jozias Ratulangi dan Augustina Gerungan. Menurut catatan biografis di Wikipedia bahasa Indonesia, ia bersekolah di sekolah dasar Belanda dan Hoofdenschool di Tondano, lalu melanjutkan ke sekolah teknik Koningin Wilhelmina School di Batavia dan lulus pada 1908.

Ratulangi kemudian berangkat ke Belanda dan meraih sertifikat guru matematika serta pedagogi pada 1913. Ia sempat kuliah di Amsterdam sekitar dua tahun, tetapi tidak dapat menyelesaikan gelar di sana karena tidak memiliki ijazah sekolah menengah yang disyaratkan. Jalan keluar ia temukan di Swiss: pada 1919 ia meraih gelar doktor (Dr. Phil.) bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam dari Universitas Zurich. Sebagian sumber populer, seperti Good News From Indonesia, menyebut gelar doktornya diraih di Jerman; namun catatan biografis yang lebih rinci menyebut Universitas Zurich. Kecerdasannya membuat ia dijuluki “Einstein dari Hindia” dan pernah memimpin Vereeniging van Indonesische Academici, perkumpulan kaum terpelajar Indonesia.

Dari Ruang Kelas ke Panggung Politik

Sepulang ke tanah air pada 1919, Ratulangi mengajar matematika dan ilmu alam di sekolah menengah di Yogyakarta hingga 1922. Kariernya kemudian bergeser ke politik. Ia menjadi sekretaris Minahasa Raad (dewan daerah Minahasa) pada 1924–1927. Menurut Good News From Indonesia, dewan ini antara lain menghapus kerja rodi (herendienst), membuka lahan untuk pertanian rakyat, dan mendirikan yayasan dana belajar. Ia lalu bersama R. Tumbelaka mendirikan partai Persatuan Minahasa pada 16 Agustus 1927. Pada tahun yang sama ia duduk di Volksraad, dewan rakyat Hindia Belanda, sebagai wakil Minahasa.

Sikap politiknya membuatnya berhadapan dengan pemerintah kolonial. Pada 1937 ia ditahan beberapa bulan di Penjara Sukamiskin, Bandung. Pada tahun yang sama terbit bukunya, Indonesia in den Pacific, yang memperingatkan bahaya militerisme Jepang dan menekankan pentingnya kawasan Pasifik bagi masa depan Indonesia. Gagasan itu terbukti relevan beberapa tahun kemudian ketika Jepang menduduki Nusantara.

PPKI, Gubernur Sulawesi, dan Pembuangan ke Serui

Pada 1945, Ratulangi menjadi anggota PPKI mewakili Sulawesi, panitia yang mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945. Setelah proklamasi, Presiden Soekarno mengangkatnya sebagai Gubernur Sulawesi pertama. Menurut IDX Channel, di Makassar ia bekerja sama dengan Andi Zainal Abidin menyebarkan kabar proklamasi ke seluruh Sulawesi melalui radio dan para pemuka daerah; proklamasi diumumkan di harian Pewarta Selebes pada 29 Agustus 1945.

Kembalinya Belanda membuat perjuangannya berat. Ia menghimpun 540 tanda tangan pemuka Sulawesi yang menegaskan bahwa Sulawesi adalah bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia. Pada 5 April 1946 ia ditangkap polisi militer Belanda dan dibuang ke Serui di Kepulauan Yapen, Papua. Ia dibebaskan pada 23 Maret 1948 setelah Perjanjian Renville, tetapi kembali ditangkap pada 25 Desember 1948 saat Agresi Militer Belanda II dan dikenai tahanan rumah di Jakarta. Sam Ratulangi wafat dalam tahanan pada 30 Juni 1949, sekitar lima bulan sebelum Belanda mengakui kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar. Jenazahnya sempat dimakamkan di Tanah Abang, Jakarta, sebelum dibawa ke Manado dan dimakamkan kembali di tanah kelahirannya, Tondano, pada awal Agustus 1949.

Makna Si Tou Timou Tumou Tou

Ungkapan Si Tou Timou Tumou Tou berasal dari bahasa Minahasa dan sering diterjemahkan secara bebas sebagai “manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain”. IDX Channel merumuskannya sebagai ajaran bahwa seseorang baru menjadi manusia seutuhnya bila menjunjung kemanusiaan orang lain. Falsafah ini sejalan dengan tradisi gotong royong Minahasa seperti mapalus, dan kini menjadi semboyan yang lekat dengan identitas warga Sulawesi Utara.

Dalam kehidupan sehari-hari, semboyan ini dapat dimaknai dalam tiga hal:

  • Pendidikan sebagai jalan mengangkat martabat sesama, sesuai latar Ratulangi sebagai guru dan ilmuwan.
  • Pengabdian publik: jabatan dipahami sebagai sarana melayani, bukan hak istimewa.
  • Persaudaraan lintas golongan, nilai yang ikut menopang kerukunan di Sulut.

Gelar Pahlawan dan Jejaknya Kini

Menurut daftar penerima gelar Pahlawan Nasional yang diterbitkan Kementerian Sekretariat Negara, Dr. G.S.S.J. Ratulangi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 590 Tahun 1961 tertanggal 9 November 1961. Sebagian rujukan biografis menyebut penganugerahan itu terjadi pada Agustus 1961; tulisan ini berpegang pada data resmi Setneg.

JejakKeterangan
Universitas Sam Ratulangi (Unsrat)Universitas negeri di Manado
Bandara Internasional Sam RatulangiGerbang udara utama Sulawesi Utara
Uang kertas Rp20.000Wajahnya tampil di emisi 2016 (diluncurkan Bank Indonesia 19 Desember 2016) dan emisi 2022 (diluncurkan 18 Agustus 2022)
Patung dan nama jalanPatung di Manado, Jakarta, Serui, hingga Davao (Filipina); nama jalan di Manado, Bitung, Tomohon, dan Tondano

Bagi warga Tondano, Ratulangi menjadi bagian dari sejarah panjang perlawanan Minahasa, berdampingan dengan kisah Perang Tondano dan Benteng Moraya. Hari lahirnya pada 5 November dan Hari Pahlawan 10 November menjadi momen tepat bagi sekolah di Sulut untuk mengenalkan kisahnya kepada pelajar.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan dan di mana Sam Ratulangi lahir?

Ia lahir di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, pada 5 November 1890.

Apa arti Si Tou Timou Tumou Tou?

Secara bebas berarti manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain; seseorang menjadi manusia seutuhnya bila menghormati dan mengangkat martabat sesamanya.

Apa jabatan penting Sam Ratulangi?

Anggota Volksraad (1927), anggota PPKI mewakili Sulawesi (1945), dan Gubernur Sulawesi pertama.

Di mana Sam Ratulangi dimakamkan?

Setelah sempat dimakamkan di Tanah Abang, Jakarta, jenazahnya dimakamkan kembali di Tondano pada awal Agustus 1949.

Penutup

Sam Ratulangi menunjukkan bahwa ilmu, keberanian politik, dan rasa kemanusiaan dapat berjalan bersama. Dari Tondano ke Zurich, dari Volksraad ke pembuangan di Serui, ia meninggalkan pesan sederhana yang tetap relevan bagi generasi muda Sulut: hidup baru bermakna bila berguna bagi sesama.

Foto: Potret Dr. G.S.S.J. Ratulangi (arsip). IPPHOS / Wikimedia Commons (Public domain)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *