CHISINAU, LENSA-INDO.COM – Pemerintah Moldova menggelar pertemuan Dewan Keamanan Nasional menyusul serangan siber berskala besar yang menargetkan sistem informasi negara. Peretasan yang berlangsung pada 19-23 Oktober 2026 ini berhasil mengakses sekitar 750.000 kumpulan data pribadi warga dari satu juta nomor identitas yang dibidik peretas.
Badan Pemerintahan Elektronik Moldova (AGE) mengonfirmasi insiden tersebut dan merinci jenis data yang dicuri mencakup nama, tanggal lahir, status asuransi, informasi kesehatan, hingga nomor rekening bank internasional (IBAN). Jumlah data yang bocor sangat signifikan mengingat total populasi Moldova hanya sekitar 2,4 juta jiwa.
Dugaan Keterlibatan Negara Asing
Perdana Menteri Moldova Vasile Tofan dalam rapat pemerintah pada Rabu (28/10/2026) menyatakan kecurigaan adanya campur tangan pihak luar. “Ada indikasi kampanye yang lebih luas yang melibatkan aktor negara asing,” ujarnya seperti dikutip Manila Times. Namun, Tofan tidak menyebutkan secara spesifik negara mana yang dicurigai berada di balik serangan tersebut.
Pihak berwenang Moldova saat ini tengah melakukan penyelidikan menyeluruh terkait kemungkinan keterlibatan aktor negara asing dalam insiden peretasan ini. Proses investigasi masih berlangsung untuk mengungkap dalang di balik serangan siber yang menargetkan infrastruktur digital pemerintah tersebut.
Pemecatan Direktur AGE
Sebagai respons atas kebobolan keamanan ini, Perdana Menteri Tofan secara resmi memecat Direktur AGE Nicoleta Colomeet. Ia menginstruksikan lembaga tersebut untuk meningkatkan fokus pada keamanan layanan digital secara drastis guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Presiden Maia Sandu dijadwalkan memimpin pertemuan Dewan Keamanan Nasional dalam beberapa hari ke depan untuk mengevaluasi dampak kerusakan dari serangan dan merumuskan langkah tanggapan yang tepat terhadap ancaman keamanan siber ini.
Konteks
Serangan siber terhadap infrastruktur pemerintah semakin menjadi ancaman serius bagi negara-negara di seluruh dunia, termasuk Eropa Timur. Peretasan data pribadi dalam skala masif membuka peluang bagi pelaku kejahatan untuk melakukan penipuan dan manipulasi daring. Pihak AGE memperingatkan bahwa risiko utama dari kebocoran data ini adalah penyalahgunaan informasi pribadi warga untuk berbagai modus kejahatan siber dan penipuan finansial.
Foto: Ilustrasi. Morey J. Haber and
Brad Hibbert / Wikimedia Commons (Public domain)
Sumber:


