Upacara Adat Tulude Sangihe: Sejarah, Makna, Rangkaian, dan Tips Menyaksikannya

Pemain memainkan alat musik kolintang khas Minahasa Pemain kolintang, arsip 2008. Sakurai Midori / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

TAHUNA, LENSA-INDO.COM – Upacara adat Tulude adalah ritual syukur tahunan masyarakat Nusa Utara, yakni Kepulauan Sangihe, Talaud, dan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), di Sulawesi Utara. Lewat Tulude, warga berterima kasih kepada Tuhan atas tahun yang sudah lewat, melepas hal buruk yang menyertainya, lalu memohon perlindungan untuk tahun berikutnya. Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, puncak acaranya umumnya jatuh pada 31 Januari, dengan kue adat tamo sebagai pusat perhatian.

Asal-usul dan Arti Nama Tulude

Kapan Tulude pertama kali digelar tidak tercatat dengan pasti. Kajian Sumenda, Takalumang, dan Latuni di jurnal Kompetensi Universitas Negeri Manado (2024) memperkirakan tradisi ini sudah ada sejak orang Sangihe-Talaud mengenal penanggalan, kira-kira abad ke-17. Kajian yang sama mencatat bahwa ritual ini semula lekat dengan kepercayaan lama terhadap roh, lalu isinya bergeser menjadi syukur kepada Tuhan setelah agama Kristen dan Islam masuk ke kepulauan tersebut.

Soal asal kata, ada beberapa penjelasan. Republika menulis bahwa Tulude berasal dari kata suhude, artinya melepaskan atau meluncur ke bawah, yang kemudian maknanya meluas menjadi menolak. Kajian Lombeng, Rumengan, dan Kaunang (2025) menyebut kata dasarnya suhudi, artinya menolak, yakni menolak tahun lama dan menyambut tahun baru. Kajian itu juga mencatat tafsir lain yang membaca Tulude sebagai akronim dari tulung (penolong), lukade (penjaga), dan dendingang (penyertaan). Semua tafsir ini sama-sama mengarah pada gagasan meninggalkan masa lalu dan memasuki tahun baru dengan harapan.

Perubahan tanggal penyelenggaraan

Menurut kajian Sumenda dkk., Tulude dahulu digelar setiap 31 Desember. Atas pertimbangan para tetua daerah, tanggalnya kemudian dipindah ke 31 Januari dan dirayakan bersamaan dengan hari jadi Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kajian itu juga mencatat bahwa pada 1993 bupati meminta tata cara Tulude diseragamkan, dan pada 1994 seminar serta temu budaya di Tahuna menghasilkan pola pelaksanaan yang disepakati bersama. Alasan rinci pemindahan tanggal itu tidak dijelaskan. Kajian lain hanya menyebut “akhir Januari” atau tanggal 31 Januari, bahkan ada yang menulis akhir Januari hingga awal Februari.

Baca juga: Mengenal Kabasaran, Tari Perang Minahasa Warisan Para Waraney

Makna di Balik Upacara Adat Tulude

Inti Tulude adalah syukur. Kajian Mangare, Matey, dan Londonaung (2025) menyebut syukur itu ditujukan kepada Mawu Ruata Ghenggonalangi, sebutan bagi Tuhan Yang Maha Tinggi dalam bahasa Sangihe. Lombeng dkk. menambahkan bahwa syukur ini mencakup hasil laut, perikanan, dan pertanian, dan bahwa Tulude juga berfungsi sebagai penolak bala serta permohonan ampun atas kesalahan sepanjang tahun.

Tulude juga punya sisi sosial. Upacara ini memperkuat rasa kebersamaan dan identitas orang Sangihe. Mangare dkk. mencatat bahwa upacara terbuka untuk semua warga tanpa memandang agama atau status sosial, dan warga dari segala usia ikut serta, dari anak-anak sampai orang tua.

Rangkaian Upacara: Dari Tagonggong hingga Pemotongan Tamo

Urutan acara di tiap pulau bisa sedikit berbeda karena Sangihe-Talaud terdiri atas puluhan pulau dengan ragam adatnya sendiri. Berdasarkan kajian-kajian Universitas Negeri Manado, rangkaian di tingkat kabupaten umumnya berjalan seperti ini:

  1. Pemberitahuan pagi. Tambur adat tagonggong ditabuh sekitar pukul 04.30 pada 31 Januari, dimulai dari rumah dinas bupati, sebagai tanda bahwa hari Tulude sudah tiba.
  2. Penjemputan tamu. Tetua adat menyambut tamu kehormatan, mengalungkan kain adat kofo, dan memayungi mereka dengan payung adat. Anak-anak perempuan lalu menyuguhkan sirih pinang.
  3. Pemberitahuan kedua. Tagonggong kembali ditabuh pada sore hari, dan upacara inti dimulai sekitar pukul 17.00 WITA. Satu kajian mencatat jam yang sedikit berbeda.
  4. Tari dan sastra lisan. Tari salo dan tari gunde dipentaskan. Sasambo, nyanyian adat berbahasa Sangihe, dilantunkan dengan iringan tagonggong.
  5. Doa-doa adat. Rangkaian ini mencakup mangumbaede (syukur dan permohonan maaf) dan menahulending, doa untuk “mendinginkan” keadaan bagi pemerintah, masyarakat, dan alam, sambil memercikkan air ke empat penjuru mata angin.
  6. Penyerahan dan pemotongan tamo. Tamo diserahkan secara adat, lalu dipotong oleh pentua adat (menuwang tamo) dan dibagikan kepada hadirin.
  7. Penutup. Acara ditutup dengan sambutan pejabat, makan bersama, dan tari masamper.

Kue tamo, simbol syukur bersama

Tamo adalah kue adat berbentuk kerucut atau gunung. Bahan utamanya beras ketan. Sumenda dkk. menyebut bahan lain seperti beras biasa, pisang, pepaya, kelapa muda, gula, umbi-umbian, dan minyak kelapa, sedangkan Good News From Indonesia menyebut ketan, gula aren, dan santan. Puncak tamo dihias telur rebus dan bendera merah putih. Bentuknya yang bersusun dimaknai sebagai kemajuan yang dicapai setahap demi setahap. Dulu ukurannya dibedakan menurut tingkat sosial, tetapi kini ukurannya mengikuti besar kecilnya acara. Republika menyebut tamo sebagai lambang syukur atas hasil bumi dan semangat gotong royong.

Tulude Kini: Dari Tahuna hingga Davao

Di Sangihe, pemerintah kabupaten bersama tokoh adat menggelar Tulude secara resmi, dan versi yang lebih kecil diadakan di tingkat kecamatan. Tradisi ini juga dibawa para perantau. GNFI mencatat Tulude dirayakan di Manado, Bitung, dan Jakarta, sementara Tribratanews Polda Kaltim melaporkan perayaan oleh Persatuan Sangihe Talaud di Kabupaten Berau.

Tulude bahkan sampai ke Filipina. Pada Maret 2025, Republika memberitakan bahwa Sekolah Indonesia Davao menggelar Tulude. Murid sekolah itu sebagian besar keturunan WNI asal Sangihe dan Talaud. Dalam acara tersebut, siswa yang berperan sebagai tetua memotong tamo sambil berdoa dalam bahasa Sangihe, dan acara ditutup dengan tari masamper bersama. Menurut perwakilan KJRI Davao yang dikutip Republika, itulah Tulude pertama di kota tersebut.

Mengenai status Warisan Budaya Takbenda Indonesia, redaksi belum menemukan sumber resmi yang dapat diverifikasi. Pembaca dapat memeriksanya langsung di laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id.

Tips Menyaksikan Tulude di Sangihe

  • Pastikan jadwal. Patokannya 31 Januari, tetapi tanggal dan lokasi bisa disesuaikan. Tanyakan lebih dulu ke Pemkab Kepulauan Sangihe atau dinas pariwisata setempat.
  • Datang sebelum sore. Upacara inti biasanya mulai sekitar pukul 17.00 WITA. Jika ingin mendengar tagonggong pertama, Anda perlu bangun sebelum subuh.
  • Hormati jalannya doa. Bagian doa dan menahulending bersifat sakral. Jangan berbicara keras, dan jangan menghalangi jalan prosesi.
  • Minta izin sebelum memotret tetua adat atau penari dari jarak dekat.
  • Berpakaian sopan, karena acara ini dihadiri pejabat dan tokoh adat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa arti kata Tulude?

Umumnya Tulude diartikan menolak atau melepaskan, yaitu melepas tahun lama dan menyambut tahun baru. Ada pula tafsir yang membacanya sebagai akronim tulung, lukade, dan dendingang.

Kapan Tulude dilaksanakan?

Di Sangihe, Tulude umumnya digelar 31 Januari. Perantau sering merayakannya pada tanggal lain menurut kesempatan masing-masing.

Siapa yang memotong kue tamo?

Dalam upacara resmi, tamo dipotong oleh pentua adat. Sebagian sumber menyebut tokoh masyarakat juga bisa mendapat peran tersebut.

Apakah pengunjung luar daerah boleh ikut?

Boleh. Kajian akademik mencatat upacara ini terbuka bagi semua warga tanpa memandang agama atau latar belakang.

Tulude mempertemukan doa, seni, dan kebersamaan dalam satu hari. Asal kata dan detail tata caranya punya beberapa versi, tetapi pesan utamanya sama di Tahuna, Berau, maupun Davao: bersyukur atas tahun yang lewat dan memulai tahun baru dengan harapan.

Foto: Ilustrasi – pemain kolintang, alat musik tradisional Sulawesi Utara, arsip 2008. Sakurai Midori / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *