MINAHASA, LENSA-INDO.COM – Tabuhan tambur bertalu, lalu sekelompok pria berpakaian merah menyala melangkah maju sambil mengacungkan pedang dan tombak. Mata mereka melotot, wajah tanpa senyum. Itulah Kabasaran, tari perang khas Minahasa yang hingga kini menjadi salah satu penanda paling kuat identitas tou (orang) Minahasa di Sulawesi Utara.
Kabasaran kerap tampil menyambut tamu kehormatan, memeriahkan upacara adat, hingga parade festival budaya. Di balik gerakannya yang garang, tarian ini menyimpan cerita panjang tentang keberanian, kehormatan, dan cara leluhur Minahasa menjaga tanahnya.
Tarian Para Waraney
Kabasaran, yang di sejumlah tempat juga disebut Kawasaran, berakar dari tradisi para waraney, sebutan bagi kaum pria pemberani di tanah Malesung atau Minahasa. Dalam kehidupan sehari-hari mereka adalah petani, pemburu, nelayan, atau perajin. Ketika kampung terancam perang, mereka berubah menjadi prajurit; ketika damai, mereka menari dalam upacara adat.
Kajian di jurnal Historia IAIN Manado menggambarkan Kabasaran sebagai tarian yang mengisahkan peperangan dan kemenangan, sekaligus melambangkan kekuatan dan keberanian. Penelitian lain di jurnal Santhet menyebut tarian ini sudah hidup di Minahasa setidaknya sejak masa kolonial dan lahir dari tradisi perang para waraney.
Peran waraney sebagai prajurit memudar pada masa pemerintahan kolonial Belanda, yang membentuk pasukan sendiri. Namun, tariannya bertahan dan bergeser fungsi menjadi seni pertunjukan adat. Arsip foto Tropenmuseum dari awal abad ke-20 bahkan merekam tarian perang kuno yang dipentaskan di jalanan Tondano.
Tiga Babak, Beragam Tafsiran
Secara umum, Kabasaran terdiri atas tiga babak utama. Meski urutannya relatif seragam, makna tiap babak dijelaskan agak berbeda oleh sejumlah sumber.
- Cakalele (Sumakalele). Babak pembuka dengan gerakan menyerupai persiapan perang. Sebagian sumber mengaitkan namanya dengan kata saka (bertarung) dan lele (melompat atau mengejar). Dulu, babak ini dibawakan saat prajurit berangkat atau pulang dari medan perang.
- Kumoyak (Kumayak). Babak berisi ayunan senjata. Satu versi menyebutnya sebagai gerakan untuk meredakan amarah setelah bertempur, sedangkan penelitian di jurnal Santhet menafsirkannya sebagai penggambaran kemenangan perang.
- Lalayaan. Babak penutup yang penuh suka cita. Penari bertepuk tangan, bergandengan, dan membentuk lingkaran. Hanya di bagian inilah penari boleh tersenyum.
Sejumlah tulisan menyebut dahulu jumlah babaknya lebih banyak, tetapi kini umumnya hanya tiga yang dipentaskan. Seluruh gerakan dipandu seorang pemimpin yang disebut tumu-tuzuk dalam bahasa Tombulu atau sarian dalam bahasa Tonsea, dengan aba-aba dalam bahasa subetnis setempat.
Busana Merah dan Pedang Pusaka
Kostum Kabasaran didominasi warna merah. Penari mengenakan penutup kepala yang dihiasi sayap dan paruh burung, kalung, serta gelang. Sejumlah sumber menyebut aksesori tradisionalnya juga memakai bagian tubuh hewan, termasuk tengkorak monyet, yang menegaskan kesan garang para penari.
Senjata yang dibawa adalah pedang (santi atau kelewang), yang kerap merupakan pusaka turun-temurun, tombak (wengkouw), dan perisai (kelung). Ada aturan tak tertulis yang dijaga: pedang tidak untuk menangkis, tombak hanya untuk menusuk, dan perisai untuk bertahan. Sejumlah kelompok juga melarang penari minum minuman keras sebelum pentas atau menyeret senjata di jalan. Gerakannya mengikuti hitungan empat ketukan, dua langkah ke kiri dan dua ke kanan, diiringi tabuhan tambur.
Nilai yang Diwariskan
Kabasaran bukan sekadar pertunjukan yang memikat wisatawan. Penelitian dalam jurnal Santhet menyebut nilai kearifan lokal Minahasa tampak pada gerak, syair yang dinyanyikan, warna busana, aksesori, hingga perlengkapan perang. Keberanian, kebersamaan, dan rasa syukur menjadi pesan yang terus diulang setiap kali tarian ini ditampilkan.
Simbol burung manguni, yang lekat dengan identitas Minahasa, juga sering dikaitkan dengan tarian ini sebagai lambang kewaspadaan dan perlawanan terhadap kejahatan.
Tantangan Regenerasi
Seperti banyak seni tradisi lain, Kabasaran menghadapi tantangan regenerasi. Para peneliti mendorong kerja sama berbagai pihak: pemerintah daerah mendukung sanggar dan lomba, sekolah serta kampus menjadikannya kegiatan ekstrakurikuler, dan para pelaku seni membuka ruang latihan bagi anak muda.
Karena sumber lisan dan tulisan tentang Kabasaran beragam antardaerah dan antarkelompok, pembaca dianjurkan menghargai perbedaan versi tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya Minahasa. Bila menyaksikan Kabasaran, perhatikan aba-aba pemimpinnya, ekspresi penarinya, dan perubahan suasana dari babak ke babak. Di situlah kisah para waraney masih hidup hingga hari ini.
Foto: Penari Kabasaran pada Parade Manado Fiesta, arsip 2018. Anggadk / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Sumber:
