Pendapatan INET Melonjak 2.154 Persen Jadi Rp1,55 Triliun hingga September 2026, Margin Menipis

Ilustrasi ruang server pusat data, terkait pendapatan INET Ilustrasi: ruang server pusat data. Wikimedia Commons

JAKARTA, LENSA-INDO.COM – Pendapatan INET, kode saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk, melonjak 2.154 persen menjadi Rp1,55 triliun sepanjang Januari–September 2026, dari hanya Rp68,60 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan yang tercantum dalam laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026 itu membuat nama emiten penyedia layanan internet dan infrastruktur digital ini ramai dicari warganet, termasuk masuk daftar tren Google Indonesia pada Senin (2/11/2026).

Menurut laporan IDX Channel, laba kotor perseroan naik 564,99 persen menjadi Rp215,59 miliar, sedangkan laba usaha tumbuh 410,70 persen menjadi Rp129,05 miliar. Databoks Katadata mencatat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp58,1 miliar, naik sekitar 200 persen secara tahunan.

Dari Mana Pendapatan INET Berasal

Rincian pendapatan menunjukkan perubahan besar profil bisnis perseroan. Berdasarkan data yang dihimpun Databoks, jasa alih daya (outsourcing) menyumbang Rp1,26 triliun atau sekitar 81 persen dari total pendapatan. Adapun jasa penyediaan internet—bisnis yang selama ini identik dengan INET—menyumbang Rp281,94 miliar atau sekitar 18 persen.

Komposisi itu juga menjelaskan mengapa beban pokok pendapatan naik jauh lebih cepat, yakni 3.578 persen menjadi Rp1,33 triliun. Hasil hitungan redaksi, margin laba kotor INET pada sembilan bulan pertama 2026 sekitar 13,9 persen, jauh di bawah sekitar 47 persen pada periode yang sama 2025. Artinya, skala usaha membesar pesat, tetapi setiap rupiah pendapatan kini menghasilkan laba kotor yang lebih tipis.

Direktur Utama INET Muhammad Arif, seperti dikutip IDX Channel, menyebut pertumbuhan itu mencerminkan skala bisnis yang lebih besar pada 2026. Ia menambahkan perseroan akan berfokus pada kualitas pendapatan, pengendalian biaya, dan profitabilitas.

Konteks: Aset Naik Delapan Kali Lipat

Lonjakan kinerja sejalan dengan ekspansi agresif sepanjang tahun. Total aset per 30 September 2026 tercatat sekitar Rp6,5 triliun, naik 755,06 persen dibanding akhir 2025 yang sebesar Rp760,37 miliar. Liabilitas mencapai Rp2,55 triliun dan ekuitas Rp3,95 triliun.

Laporan Emitennews pada September lalu menunjukkan tren yang sama sudah terlihat sejak semester I-2026, ketika pendapatan INET mencapai Rp926,45 miliar atau naik 1.958,68 persen. Dengan demikian, pendapatan pada kuartal III saja diperkirakan sekitar Rp620 miliar. Pada Agustus 2026, perseroan melalui anak usahanya, PT Sinergi Inti Data Indonesia, juga meresmikan pusat data JKT01 di Jakarta Selatan.

Yang Perlu Dicermati Investor Ritel

Pertumbuhan persentase yang sangat tinggi terutama dipicu basis pembanding yang kecil serta masuknya lini usaha baru. Karena itu, angka 2.154 persen tidak bisa dibaca sebagai pertumbuhan organik bisnis internet semata. Investor ritel perlu mencermati laporan keuangan lengkap di situs Bursa Efek Indonesia, terutama komposisi pendapatan, margin, dan arus kas, sebelum mengambil keputusan.

Bagi pembaca di daerah, termasuk Sulawesi Utara, perkembangan emiten infrastruktur digital seperti INET menjadi gambaran makin besarnya investasi pada jaringan internet dan pusat data, di tengah upaya pemerataan akses digital. Ulasan terkait kondisi pasar modal dapat dibaca dalam laporan IHSG anjlok ke level 5.266 dan penjelasan tentang kurs JISDOR.

Tulisan ini bersifat informasi, bukan ajakan membeli atau menjual saham.

Foto: Ilustrasi, ruang server pusat data. Kontributor Wikimedia / Wikimedia Commons (lisensi bebas, lihat halaman berkas)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *