Kampung Jawa Tondano: Jejak Kyai Modjo, Lahirnya Orang Jaton, dan Tradisi Lebaran Ketupat

Makam Kyai Modjo di Kampung Jawa Tondano, Minahasa Makam Kyai Modjo, Tondano. Wikimedia Commons

TONDANO, LENSA-INDO.COM – Kampung Jawa Tondano adalah permukiman muslim di tengah tanah Minahasa yang lahir dari pengasingan Kyai Modjo, panglima sekaligus penasihat agama Pangeran Diponegoro, setelah Perang Jawa (1825–1830). Hampir dua abad kemudian, keturunan para buangan itu dikenal sebagai orang Jaton—singkatan Jawa Tondano—yang memadukan identitas Jawa, ajaran Islam, dan budaya Minahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Secara administratif, Kampung Jawa kini berstatus kelurahan di Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa. Wilayahnya hanya sekitar 0,45 kilometer persegi, tetapi dengan 2.692 penduduk pada 2023, kelurahan ini menjadi yang paling padat penduduknya di kecamatan tersebut. Identitas Jaton juga melekat pada lingkungan Tegalrejo yang secara administratif masuk Kelurahan Tonsea Lama.

Sejarah Kampung Jawa Tondano: Dari Medan Perang Jawa ke Tepi Danau

Kyai Modjo—dalam sejumlah literatur ditulis Kyai Maja, bernama asli Muslim Mochammad Khalifah—lahir sekitar 1792 di Desa Mojo, wilayah Kasunanan Surakarta. Ia menjadi salah satu komandan terpenting Diponegoro dan rujukan sang pangeran dalam urusan agama. Pada November 1828, ia meninggalkan markas Diponegoro dengan sekitar 500 prajurit. Tak lama kemudian, pada 10 November 1828, pasukan Belanda mengepungnya di lereng Gunung Merapi dan ia menerima tuntutan menyerah tanpa syarat.

Belanda lalu mengasingkannya ke Minahasa. Wilayah pedalaman sekitar Danau Tondano sendiri sudah berada di bawah kendali Belanda sejak 1809, seusai Perang Tondano. Menurut catatan sejarah yang dihimpun Wikipedia, rombongan Kyai Modjo singgah di Makassar dan Ambon sebelum tiba di Manado pada 1 Mei 1830, lalu bergerak ke Tondano. Tanggal kedatangan mereka, 3 Mei 1830, kini diperingati sebagai hari jadi Kampung Jawa.

Belanda punya dua perhitungan. Para buangan diharapkan tetap terawasi oleh masyarakat Minahasa di sekitarnya, sekaligus membuka sawah untuk meningkatkan hasil pertanian di dataran Tondano.

Versi yang Berbeda

Sumber-sumber tidak sepenuhnya seragam. Wikipedia menyebut Kyai Modjo diasingkan bersama 62 pengikut, sedangkan jurnal UNTAG Law Review (Rohmatul Faizah, 2020) dan Mongabay Indonesia menyebut 63 pengikut dan tahun pengasingan 1828—merujuk pada tahun penangkapannya. Situs resmi Indonesia.travel menyebut rombongan diasingkan ke Tondano pada akhir 1829. Perbedaan ini wajar karena perjalanan dari Jawa ke Minahasa memakan waktu berbulan-bulan dengan beberapa persinggahan.

Pernikahan dengan Perempuan Minahasa dan Lahirnya Orang Jaton

Mongabay Indonesia mencatat para pengikut Kyai Modjo seluruhnya laki-laki. Mereka kemudian menikahi perempuan Tondano, dan dari perkawinan itulah lahir generasi Jawa Tondano. Sepanjang abad ke-19, kampung ini juga menerima gelombang buangan lain: pengikut Diponegoro yang tidak diizinkan ikut ke Makassar, serta tahanan politik dari Cirebon, Banten, Padang, dan Banjarmasin.

Pada 1902, penduduk Kampung Jawa sudah melampaui 1.000 jiwa, baik karena pertambahan alami maupun kedatangan pendatang, termasuk orang Minahasa sendiri. Kampung ini juga pernah dikenal sebagai sentra pandai besi hingga abad ke-20.

Kyai Modjo wafat pada 20 Desember 1849 dan dimakamkan di tepi Danau Tondano. Makamnya hingga kini menjadi tujuan ziarah dan wisata sejarah.

Masjid Al-Falah Kyai Modjo dan Jejak Arsitektur Jawa

Warisan paling mencolok di Kampung Jawa adalah Masjid Agung Al-Falah Kyai Modjo. Menurut iNews, masjid ini dibangun sekitar 1856, berawal dari musala sederhana berdinding bambu dan beratap rumbia. Setelah beberapa kali dipugar, dindingnya kini beton, tetapi bentuknya tetap bergaya joglo dengan atap limasan bertingkat yang mengingatkan pada Masjid Agung Demak.

Sejumlah elemen asli masih dipertahankan, antara lain:

  • empat tiang utama (soko guru) setinggi sekitar 18 meter;
  • dinding sisi barat, mimbar, bedug, dan kentongan;
  • plafon kayu dengan ukiran halus di bagian tengah yang berasal dari bangunan awal.

Makam Kyai Modjo berada sekitar satu kilometer dari masjid, sehingga keduanya kerap dikunjungi dalam satu perjalanan.

Bahasa, Adat, dan Tradisi Ba’do Katupat

Mayoritas warga Kampung Jawa beragama Islam, berbeda dengan masyarakat Minahasa sekitarnya yang mayoritas Kristen. Namun, sehari-hari mereka berbahasa Minahasa yang diperkaya kosakata serapan Jawa, dan masih mengenakan busana Jawa dalam upacara adat. Penelitian Rohmatul Faizah dalam UNTAG Law Review (2020) menyimpulkan bahwa hukum Islam dan hukum adat dalam masyarakat Jaton saling berkaitan dan tidak bertentangan.

Tradisi yang paling dikenal adalah Lebaran Ketupat atau ba’do katupat, dirayakan sepekan setelah Idulfitri, setelah puasa sunah enam hari Syawal. Menurut Mongabay Indonesia yang mengutip peneliti Kinayati Djojosuroto, kata ba’do berasal dari bahasa Arab ba’du yang berarti “sesudah”. Hidangan wajibnya ketupat, dodol, dan nasi jaha, sementara rumah-rumah dibuka bagi tamu siapa saja, termasuk yang berbeda agama.

Ketupat dibuat dalam beragam bentuk, seperti katupat panggang, katupat luar, katupat bawang, katupat roa, dan katupat jantong. Bentuk jantong yang menyerupai hati dianggap bentuk asli, melambangkan hati yang bersih setelah saling memaafkan.

Jejak Jaton di Gorontalo hingga Lampung

Dari Tondano, keturunan Jaton menyebar. Mongabay mencatat sebagian bermigrasi ke Gorontalo pada 1904 dan mendirikan desa-desa seperti Yosenegoro, Reksonegoro, Kaliyoso, dan Mulyonegoro—tempat tradisi Lebaran Ketupat kini meluas ke hampir seluruh Gorontalo. Hingga 1981, tercatat enam desa di Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Halmahera didirikan oleh migran asal Kampung Jawa. Ada pula yang kembali ke Jawa; salah satu keturunannya, Kusno Danupoyo, pernah menjabat Gubernur Lampung.

Kisah Kampung Jawa Tondano melengkapi potret keberagaman Minahasa, sejalan dengan semangat yang tampak di Bukit Kasih Kanonang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa arti Jaton?
Jaton adalah singkatan Jawa Tondano, sebutan bagi keturunan Kyai Modjo dan para pengikutnya yang menikah dengan perempuan Minahasa di Tondano.

Di mana letak Kampung Jawa Tondano?
Di Kelurahan Kampung Jawa, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, tidak jauh dari Danau Tondano.

Kapan Kyai Modjo tiba dan wafat?
Ia tiba di Manado pada 1 Mei 1830 lalu menetap di Tondano; kedatangannya diperingati setiap 3 Mei. Ia wafat pada 20 Desember 1849.

Kapan Lebaran Ketupat dirayakan?
Sekitar satu pekan setelah Idulfitri, seusai puasa sunah enam hari di bulan Syawal.

Penutup

Dari sebuah pengasingan kolonial, Kampung Jawa Tondano tumbuh menjadi komunitas yang memadukan dua akar budaya tanpa kehilangan salah satunya. Masjid Al-Falah, makam Kyai Modjo, dan tradisi ba’do katupat menjadi pengingat bahwa sejarah Minahasa juga ditulis oleh pertemuan antarbudaya yang berlangsung damai hampir dua abad.

Foto: Makam Kyai Modjo di Tondano, Minahasa. Kontributor Wikimedia / Wikimedia Commons (lisensi bebas, lihat halaman berkas)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *