MANADO, LENSA-INDO.COM – Kata “dolar” kembali masuk daftar pencarian terpopuler di Indonesia setelah rupiah bertahan di atas Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, rupiah di pasar spot berada di Rp18.147 per dolar AS, melemah 0,06 persen dari Rp18.137 sehari sebelumnya, menurut Kontan. Untuk memahami angka itu, ada satu istilah yang perlu dikenal: kurs JISDOR, kurs referensi resmi yang diterbitkan Bank Indonesia (BI).
Tulisan ini menjelaskan apa itu kurs JISDOR, bedanya dengan kurs yang terpampang di bank atau money changer, apa yang membuat rupiah melemah belakangan ini, dan apa artinya bagi keuangan rumah tangga.
Apa Itu Kurs JISDOR?
JISDOR adalah singkatan dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate. Menurut laman resmi BI, kurs ini diterbitkan sejak 20 Mei 2013 sebagai kurs referensi dolar AS terhadap rupiah yang mencerminkan pasar valuta asing domestik.
Cara penghitungannya:
- Dasar data: transaksi spot dolar AS/rupiah antarbank yang benar-benar terjadi, termasuk dengan bank di luar negeri, dan dilaporkan ke sistem pemantauan valas BI (SISMONTAVAR).
- Metode: rata-rata tertimbang berdasarkan volume transaksi.
- Jendela waktu: transaksi pukul 09.00–15.00 WIB, sesuai Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 7 Tahun 2026.
- Publikasi: pukul 15.15 WIB setiap hari kerja di situs BI. Bila tidak ada data transaksi, BI menampilkan JISDOR hari kerja sebelumnya.
Bedanya dengan Kurs Transaksi BI dan Kurs di Bank
Selain JISDOR, BI juga menerbitkan Kurs Transaksi BI, yaitu kurs jual dan beli valas terhadap rupiah yang menjadi acuan transaksi BI dengan pihak ketiga, misalnya pemerintah. Kurs ini terbit pukul 08.00 WIB, dan nilai tengah dolar AS-nya mengacu pada JISDOR hari kerja sebelumnya. BI juga menerbitkan kurs acuan rupiah terhadap 17 mata uang lain, antara lain dolar Australia, euro, yen, yuan, ringgit, dan dolar Singapura.
Kurs yang dilihat warga di papan bank atau money changer berbeda lagi. Setiap pelaku usaha menetapkan kurs jual dan beli sendiri dengan selisih tertentu, sehingga angkanya bisa sedikit berbeda dari JISDOR maupun kurs spot yang diberitakan media.
| Jenis kurs | Penerbit | Waktu terbit | Kegunaan |
|---|---|---|---|
| JISDOR | Bank Indonesia | 15.15 WIB | Referensi dolar AS/rupiah pasar domestik |
| Kurs Transaksi BI | Bank Indonesia | 08.00 WIB | Acuan transaksi BI dengan pihak ketiga |
| Kurs spot penutupan | Pasar (diberitakan media) | Sore hari | Gambaran pergerakan harian |
| Kurs bank/money changer | Masing-masing pelaku | Berubah sepanjang hari | Harga riil saat warga membeli atau menjual valas |
Cara Membaca Perubahan Kurs
Media biasanya menyebut perubahan kurs dalam “poin” dan persen. Contohnya, dari Rp18.137 ke Rp18.147 per dolar AS berarti rupiah melemah 10 poin. Persentasenya dihitung dengan membagi selisih itu dengan kurs sebelumnya: 10 dibagi 18.137, hasilnya sekitar 0,06 persen. Angka sekecil ini masih tergolong pergerakan harian biasa. Yang lebih penting untuk dicermati adalah arah dalam beberapa pekan, misalnya apakah rupiah terus bertahan di atas level tertentu atau mulai berbalik menguat. Ingat pula, kata “melemah” untuk rupiah berarti angka kurs per dolar AS justru naik.
Mengapa Rupiah Melemah Akhir-akhir Ini?
Pada 27 Oktober lalu, kurs dolar AS menembus Rp18.100, level terlemah rupiah sejak Juni. Sepanjang pekan lalu rupiah bertahan di kisaran itu, bahkan ketika mayoritas mata uang Asia menguat pada 30 Oktober.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, seperti dikutip Okezone, menyebut beberapa faktor. Dari luar negeri, pasar kembali bergejolak oleh ketegangan AS–Iran. Data ekonomi AS juga kuat: inflasi inti PCE naik menjadi 3,1 persen secara tahunan dan ekonomi kuartal III tumbuh 3,4 persen. Akibatnya, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember sekitar 83 persen menurut CME FedWatch. Dari dalam negeri, gelombang demonstrasi mahasiswa sejak awal Oktober dinilai menambah ketidakpastian bagi investor.
Secara umum, suku bunga AS yang lebih tinggi membuat aset berdenominasi dolar lebih menarik, sementara ketidakpastian mendorong investor mencari aset yang dianggap aman. Kombinasi keduanya cenderung menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. BI sendiri mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen pada Oktober.
Dampaknya bagi Rumah Tangga di Sulut
Pelemahan rupiah tidak langsung terasa di pasar tradisional, tetapi dapat merambat lewat beberapa jalur:
- Barang impor dan berbahan baku impor, seperti gawai, suku cadang kendaraan, sebagian obat, dan pakan ternak, berpotensi naik harga bila pelemahan berlangsung lama.
- Biaya ke luar negeri, misalnya kuliah, berobat, atau perjalanan wisata, menjadi lebih mahal dalam rupiah.
- Eksportir komoditas Sulut yang dibayar dalam dolar, seperti produk kelapa dan perikanan, justru dapat menerima pendapatan rupiah yang lebih besar.
Beberapa langkah bijak yang bisa dilakukan:
- Tidak perlu panik membeli dolar. Valas bukan kebutuhan sebagian besar rumah tangga, dan kurs bisa berbalik arah.
- Bila memang perlu valas, misalnya untuk biaya sekolah atau perjalanan, belilah bertahap dan bandingkan kurs jual di bank atau kegiatan usaha penukaran valuta asing yang berizin BI.
- Periksa JISDOR di situs resmi BI sebagai patokan, bukan hanya angka dari media sosial.
- Tetap prioritaskan dana darurat dan anggaran kebutuhan pokok, misalnya dengan metode 50/30/20.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah JISDOR sama dengan kurs di bank?
Tidak. JISDOR adalah kurs referensi BI dari rata-rata transaksi antarbank, sedangkan bank dan money changer menetapkan kurs jual-beli sendiri.
Jam berapa JISDOR diumumkan?
Pukul 15.15 WIB atau 16.15 WITA setiap hari kerja, di situs Bank Indonesia.
Berapa posisi rupiah terakhir?
Pada penutupan pasar spot 30 Oktober 2026, rupiah berada di Rp18.147 per dolar AS. Angka ini dapat berubah setiap hari perdagangan.
Apakah rupiah lemah selalu buruk?
Tidak selalu. Pelemahan menekan importir dan konsumen barang impor, tetapi menguntungkan eksportir dan sektor yang pendapatannya dalam dolar.
Penutup
Kurs JISDOR membantu warga membaca pergerakan dolar dari sumber resmi, bukan dari kabar simpang siur. Di tengah ketidakpastian global dan domestik, sikap yang paling aman bagi rumah tangga adalah tetap tenang, mengatur anggaran, dan memantau informasi dari Bank Indonesia.
Foto: Ilustrasi uang kertas satu dolar AS. Bureau of Engraving and Printing / Wikimedia Commons (Public domain)
Sumber:


