Klenteng Ban Hin Kiong Manado: Sejarah Sejak 1819, Arti Nama, Cap Go Meh, dan Tips Berkunjung

Klenteng Ban Hin Kiong di Jalan D.I. Panjaitan, Manado Klenteng Ban Hin Kiong, Manado (arsip 2009). Wikimedia Commons

MANADO, LENSA-INDO.COM – Klenteng Ban Hin Kiong di Jalan D.I. Panjaitan, Manado, adalah kelenteng tertua di kota ini dan disebut sebagai kelenteng pertama yang berdiri di tanah Minahasa. Sumber sejarah dan ensiklopedia sepakat bahwa rumah ibadah Tridharma ini didirikan pada 1819. Lebih dari dua abad kemudian, bangunan merah berarsitektur Tionghoa itu tetap menjadi pusat ibadah, titik awal perayaan Cap Go Meh, sekaligus penanda panjangnya sejarah warga Tionghoa di Sulawesi Utara.

Arti Nama dan Lokasi Klenteng Ban Hin Kiong

Nama Ban Hin Kiong (万兴宫) berasal dari dialek Hokkian. Menurut iNews dan Wikipedia, “Ban” berarti banyak atau sepuluh ribu, “Hin” berarti berkat atau kemakmuran yang melimpah, dan “Kiong” berarti istana. Secara harfiah, namanya dapat dimaknai sebagai istana dengan berkat yang berlimpah. Warga sering menyingkatnya menjadi BHK, dan di sejumlah tulisan nama ini juga dieja Ban Hing Kiong atau Bang Hin Kiong.

Klenteng berdiri di Jalan D.I. Panjaitan, kawasan yang dikenal sebagai Kampung Cina Manado. Di sekitarnya terdapat toko-toko lama dan kelenteng lain, sehingga kawasan ini menjadi salah satu ruang kota tertua yang masih hidup di Manado. Klenteng ini melayani umat Tridharma, yaitu penganut Konghucu, Tao, dan Buddha.

Sejarah: Dari Bangunan Kayu dan Bambu

Kehadiran warga Tionghoa di Manado jauh lebih tua dari klentengnya. Sejarawan Universitas Sam Ratulangi, Ivan R. B. Kaunang, dalam Jurnal Sejarah Citra Lekha (2020) mencatat bahwa orang Tionghoa sudah berada di kawasan ini sejak abad ke-17. Permukiman mereka terkait dengan pembangunan Benteng Amsterdam pada masa VOC. Meski begitu, kelenteng pertama baru muncul pada 1819, dan perkembangan kelenteng di Manado berjalan lambat hingga 2018.

Pada masa Hindia Belanda, pemerintah kolonial menata permukiman berdasarkan kelompok etnis agar mudah diawasi. Budayawan Tionghoa Manado, Sofyan Jimmy Yosadi, kepada iNews menjelaskan bahwa kebijakan ini melahirkan kawasan seperti Kampung Cina, Kampung Arab, Kampung Tomohon, dan Bantik. Di Kampung Cina itulah Ban Hin Kiong berdiri.

Bangunan awalnya sederhana. Dindingnya dari papan kayu dan sebagian lain dari bambu. Kemudian dibangun pula sebuah rumah abu atau balai leluhur bernama Tek Kong Su (dalam ejaan lain Kong Tek Su). Di titik ini terdapat versi berbeda: Wikipedia bahasa Indonesia mencatat tahun 1839, sedangkan Wikipedia bahasa Inggris menyebut 1893.

Kebakaran 1970 dan Pembangunan Kembali

Sejak 1935, pengelolaan klenteng dipegang perkumpulan Sam Khauw Hwee, yang dirintis Yo Sio Sien dan Que Boen Tjen. Babak paling berat terjadi pada 14 Maret 1970, ketika klenteng dibakar oleh sekelompok orang. Pembangunan kembali dipimpin Nyong Loho (Soei Swie Goan), yang menjabat ketua pembangunan sekaligus ketua klenteng.

Renovasi berikutnya menambah lantai hingga bangunan menjadi tiga tingkat dan memperluas halaman. Ornamen naga di atap, pilar, dan patung singa batu di depan pintu kini menjadi ciri yang paling mudah dikenali pengunjung.

TahunPeristiwa
Abad ke-17Warga Tionghoa sudah bermukim di Manado, terkait pembangunan Benteng Amsterdam
1819Klenteng Ban Hin Kiong didirikan dengan bangunan kayu dan bambu
1839 / 1893Balai leluhur Tek Kong Su dibangun (sumber berbeda soal tahun)
1935Pengelolaan oleh perkumpulan Sam Khauw Hwee
14 Maret 1970Klenteng dibakar sekelompok orang
Sesudah 1970Dibangun kembali di bawah Nyong Loho, lalu diperluas menjadi tiga lantai

Pusat Perayaan Cap Go Meh Manado

Bagi banyak warga Sulut, nama Ban Hin Kiong lekat dengan Cap Go Meh, hari ke-15 setelah Imlek, yang di Manado juga disebut Goan Siau dan dikenal warga sebagai perayaan Toa Pe Kong. Menurut catatan budaya-tionghoa.net, arak-arakan biasanya dimulai dari klenteng ini. Barisan pikulan atau tandu membawa tokoh legenda Tionghoa, figur kepercayaan Tridharma, dan rupang dewa; peran-peran itu umumnya dimainkan anak-anak.

Arak-arakan juga menampilkan Tang Sin atau Ince Pia, peserta ritual yang menusukkan benda tajam ke pipi atau tubuh. Situs resmi pariwisata Indonesia membandingkannya dengan tradisi tatung di Singkawang. Bedanya, jumlah Tang Sin di Manado jauh lebih sedikit, sekitar sepuluh orang menurut catatan tahun 2011, sejalan dengan jumlah kelenteng Tridharma di Manado yang saat itu tercatat enam.

Yang membuat Cap Go Meh Manado khas adalah perpaduannya dengan budaya Minahasa. Barongsai dan liong tampil berdampingan dengan musik bambu dan tarian perang Kabasaran. Pada pembukaan perayaan Imlek 2017 di Tugu Lilin, misalnya, Maengket, Katrili, dan Kabasaran dipentaskan bersama barongsai dan kungfu. Perpaduan ini sering disebut sebagai cermin semangat hidup berdampingan di Sulut, seperti yang juga tampak di Bukit Kasih Kanonang.

Tips Berkunjung

Klenteng Ban Hin Kiong adalah rumah ibadah yang aktif, bukan sekadar objek wisata. Beberapa hal umum yang patut diperhatikan:

  • Kenakan pakaian sopan dan jaga ketenangan, terutama saat umat sedang bersembahyang.
  • Mintalah izin pengurus sebelum memotret bagian dalam atau umat yang beribadah.
  • Jangan menyentuh altar, persembahan, atau perlengkapan sembahyang.
  • Bila ingin melihat arak-arakan Cap Go Meh, pantau jadwal dari pengurus klenteng atau Pemkot Manado karena tanggalnya mengikuti kalender lunar dan berubah setiap tahun.
  • Gabungkan kunjungan dengan menyusuri kawasan Kampung Cina dan pusat kota lama Manado.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan Klenteng Ban Hin Kiong didirikan?

Pada 1819. Tahun ini disebut konsisten oleh ensiklopedia, iNews, dan kajian sejarah Universitas Sam Ratulangi tentang kelenteng di Manado.

Apa arti nama Ban Hin Kiong?

Ban berarti banyak, Hin berarti berkat yang melimpah, dan Kiong berarti istana, sehingga dapat dimaknai sebagai istana penuh berkat.

Siapa yang beribadah di sana?

Umat Tridharma, yaitu penganut Konghucu, Tao, dan Buddha.

Apa kaitannya dengan Cap Go Meh?

Klenteng ini menjadi titik awal arak-arakan Cap Go Meh atau Goan Siau di Manado, yang memadukan ritual Tionghoa dengan kesenian Minahasa.

Penutup

Dari bangunan kayu dan bambu pada 1819 hingga gedung tiga lantai hari ini, Klenteng Ban Hin Kiong merekam perjalanan panjang warga Tionghoa Manado, termasuk masa sulit pada 1970. Bersama kisah Toar dan Lumimuut serta tradisi Minahasa lainnya, klenteng ini menjadi bagian dari mozaik sejarah Sulawesi Utara yang layak dikenal dan dijaga bersama.

Foto: Klenteng Ban Hin Kiong, Manado (arsip 2009). Kontributor Wikimedia Commons / Wikimedia Commons (lisensi bebas sesuai halaman berkas)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *