Waspada DBD Jelang Musim Hujan: Kenali Fase Kritis, Tanda Bahaya, dan Cara Mencegahnya

Nyamuk Aedes aegypti, penular virus dengue Ilustrasi – nyamuk Aedes aegypti. James Gathany, CDC / Wikimedia Commons (Public domain)

MANADO, LENSA-INDO.COM – Peralihan dari musim kemarau ke musim hujan membawa satu ancaman kesehatan yang berulang setiap tahun: demam berdarah dengue (DBD). Genangan air yang muncul di sekitar rumah menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak. Karena itu, memahami gejala, fase kritis, dan cara pencegahannya penting bagi setiap keluarga, termasuk warga Sulawesi Utara.

Catatan: artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan. Bila Anda atau anggota keluarga mengalami gejala, segera periksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

Bagaimana DBD Menular?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi, terutama Aedes aegypti. Nyamuk ini umumnya menggigit pada siang hari. Nyamuk dapat tertular virus dari orang yang terinfeksi, baik yang bergejala maupun tidak, sehingga satu kasus di lingkungan bisa menjadi awal penularan lebih luas.

Gejala biasanya muncul 4–10 hari setelah tergigit nyamuk pembawa virus dan berlangsung 2–7 hari. Gejala yang umum antara lain demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, pembengkakan kelenjar, serta ruam. Banyak infeksi dengue juga tidak menimbulkan gejala sama sekali.

Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa DBD tidak hanya menyerang anak-anak. “DBD tidak hanya pada anak-anak, orang dewasa juga,” kata Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril dalam sebuah siaran edukasi, seperti dilaporkan Antara.

Kenali Fase “Pelana Kuda”

Salah satu hal yang paling sering menjebak adalah pola demam DBD yang dikenal sebagai fase “pelana kuda”. Berdasarkan penjelasan Kemenkes:

  • Hari ke-1 sampai ke-3: demam tinggi mendadak.
  • Sekitar hari ke-4: suhu tubuh turun. Banyak orang mengira penderita sudah sembuh, padahal justru di sinilah fase kritis dimulai.
  • Fase kritis (sekitar 2–3 hari): dapat muncul bintik-bintik merah, ruam, hingga perdarahan seperti mimisan. Pada fase ini terjadi kebocoran plasma yang bisa berbahaya bila tidak ditangani.
  • Fase pemulihan: kondisi berangsur membaik bila fase kritis terlewati dengan penanganan yang tepat.

Karena itu, turunnya demam tidak boleh langsung diartikan sebagai kesembuhan. Penderita tetap perlu dipantau ketat, terutama anak-anak.

Tanda Bahaya: Segera ke Fasilitas Kesehatan

WHO menyebut tanda bahaya dengue berat sering muncul justru setelah demam mereda. Segera bawa penderita ke fasilitas kesehatan bila muncul:

  • Nyeri perut hebat.
  • Muntah terus-menerus.
  • Napas cepat.
  • Perdarahan dari gusi atau hidung.
  • Darah pada muntahan atau tinja.
  • Gelisah, rasa haus berlebihan, kulit pucat dan dingin, serta lemas.

WHO juga mencatat bahwa infeksi dengue untuk kedua kalinya meningkatkan risiko penyakit menjadi lebih berat.

Soal Obat: Hindari Sembarangan Minum Pereda Nyeri

Hingga kini belum ada obat khusus untuk dengue. Menurut WHO, nyeri dan demam dapat diredakan dengan parasetamol, sementara obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen dan aspirin sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko perdarahan. Pastikan penderita cukup minum dan ikuti anjuran dokter. Kasus berat umumnya memerlukan perawatan di rumah sakit.

Hindari pula mengandalkan ramuan atau klaim “obat penyembuh DBD” yang beredar di media sosial tanpa dasar ilmiah, apalagi sampai menunda pemeriksaan medis.

Cegah dengan 3M Plus

Pencegahan tetap menjadi senjata utama. Kemenkes mengampanyekan gerakan 3M Plus:

  1. Menguras tempat penampungan air secara rutin, seperti bak mandi dan tempayan.
  2. Menutup rapat semua tempat penampungan air.
  3. Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan, seperti botol, kaleng, dan ban bekas.
  4. Plus: mencegah gigitan dan perkembangbiakan nyamuk.

Langkah “plus” dapat berupa penggunaan kelambu, kawat kasa di jendela, pakaian yang menutup tubuh, serta losion antinyamuk. WHO menyebut penolak nyamuk yang mengandung DEET, picaridin, atau IR3535 efektif. Bersihkan juga wadah penampungan air setidaknya sekali seminggu dan buang sampah yang bisa menampung air.

Bagaimana dengan Vaksin?

WHO mencatat satu vaksin dengue, QDenga, telah mendapat izin di sejumlah negara dan direkomendasikan untuk anak usia 6–16 tahun di wilayah dengan tingkat penularan tinggi. Keputusan vaksinasi sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter, karena ketersediaan dan rekomendasinya dapat berbeda di tiap daerah.

Gerakan Bersama di Lingkungan

Nyamuk tidak mengenal batas pagar rumah. Upaya satu keluarga akan kurang efektif bila tetangga sekitar membiarkan genangan air. Karena itu, kegiatan kerja bakti membersihkan saluran air dan lingkungan, yang di Minahasa dikenal dengan semangat mapalus, bisa menjadi langkah sederhana namun berdampak besar menjelang musim hujan.

Foto: Ilustrasi – nyamuk Aedes aegypti, penular utama virus dengue. James Gathany, CDC / Wikimedia Commons (Public domain)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *