TONDANO, LENSA-INDO.COM – Di banyak desa di Minahasa, bunyi tiupan bambu yang berpadu dengan dentuman tambur masih menjadi penanda pesta kampung, ibadah syukur, hingga pawai hari besar. Musik bambu Minahasa adalah orkestra tiup yang lahir dari pertemuan tradisi lokal dengan musik Eropa, lalu tumbuh menjadi identitas kesenian rakyat Sulawesi Utara. Berbeda dengan kolintang yang dipukul, musik bambu mengandalkan napas para peniupnya.
Asal-Usul Musik Bambu Minahasa
Sejarah musik bambu tidak tercatat dalam satu versi. Tulisan sejarawan lokal yang dimuat Malesung memperkirakan musik ini mulai berkembang sekitar 1850-an melalui sekolah-sekolah zending (misi Protestan). Para nyora, istri guru jemaat, mengajarkan suling bambu kepada murid sebagai bagian dari pelajaran musik gereja. Catatan lain yang dihimpun komunitas pegiat bambu menyebut suling lima lubang kemungkinan sudah dikenal lebih awal melalui jalur perdagangan dengan Ternate, dan pada 1840-an misi Belanda mulai mengganti peran gong dengan suling.
Versi berbeda datang dari para pemain sendiri. Kepada The Jakarta Post pada 2012, Pietro Menteng, pemimpin orkes bambu di Desa Tara-Tara, menyebut musik ini dibawa seorang misionaris Katolik Belanda pada awal 1900-an yang bersama warga membuat alat-alat bambu untuk orkestra bergaya Barat. Perbedaan ini wajar untuk tradisi lisan yang tumbuh di banyak desa sekaligus. Satu hal yang disepakati: musik bambu adalah hasil perjumpaan budaya, atau dalam istilah Pietro, musik dari budaya yang bercampur.
Dari Melulu ke Seng dan Klarinet
Seiring waktu, musik bambu berkembang menjadi beberapa jenis yang dikenal hingga kini:
- Musik bambu melulu. Seluruh alat tiupnya terbuat dari bambu, mulai suling, korno, hingga bas. Catatan sejarah lokal menyebut grup Oranje Wioi dari Ratahan pada 1923 sudah memakai bas, tuba, dan kornet bambu yang memainkan akor.
- Musik bambu seng. Sejak 1930-an, sebagian alat diberi corong resonansi dari seng atau aluminium agar bunyinya lebih nyaring. Jenis ini mencapai masa keemasan pada 1950-an ketika lomba dan festival kerap digelar.
- Musik bambu seng klarinet. Mulai 1960-an, klarinet makin lazim dipakai, kemudian disusul saksofon dan trombon. Pada era berikutnya, sebagian grup beralih ke bahan logam yang lebih awet.
Sumber-sumber lokal juga mencatat nama grup legendaris seperti Uluna dari Tondano, Orion dari Tomohon, dan Victoria dari Tanawangko pada era 1930-an.
Alat dan Susunan Orkes
Satu orkes musik bambu biasanya terdiri atas puluhan pemain. Barisan depan diisi suling bambu bernada tinggi, disusul korno dan alat tiup bernada tengah, lalu tuba dan bas besar di bagian belakang. Ritme dijaga oleh tambur, simbal, dan perkusi lainnya. Orkes bambu di Bunaken yang diliput The Jakarta Post, misalnya, beranggotakan sekitar 32 pemain dari beragam latar, mulai nelayan, pembuat perahu, guru, hingga pensiunan. Konduktornya menegaskan orkes itu sama sekali tidak memakai alat musik elektrik.
Repertoarnya pun luas: lagu rohani, lagu daerah Minahasa, lagu perjuangan, hingga lagu populer yang diaransemen ulang. Banyak alat masih dibuat perajin lokal di sekitar Tondano.
Rekor Dunia dari Tondano
Kebanggaan warga Minahasa terhadap musik bambu tercermin pada 31 Oktober 2009. Saat itu, 3.011 pemain musik bambu tampil bersama di Stadion Maesa, Tondano, dan tercatat di Guinness World Records sebagai orkestra dengan alat musik bambu terbesar. Acara tersebut diprakarsai Benny J. Mamoto.
Tantangan Pelestarian
Di balik kebanggaan itu, musik bambu menghadapi tantangan. The Jakarta Post mencatat sebagian warga di Tomohon dan Tondano mulai kurang antusias, salah satunya karena banyak warga muda merantau mencari pekerjaan. Di sisi lain, desa-desa seperti Bunaken menunjukkan latihan rutin justru menjadi perekat sosial: warga berkumpul, anak-anak menonton, dan generasi muda ikut bergabung.
Pelestarian musik bambu bisa dimulai dari hal sederhana: mengundang orkes bambu dalam acara keluarga dan gereja, memasukkannya dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah, mendokumentasikan aransemen para tetua, serta mendukung perajin alat. Pemerintah daerah juga dapat terus menghadirkan musik bambu dalam festival budaya agar bunyi tiupan bambu tetap terdengar di tanah Minahasa.
Foto: Ilustrasi – pemandangan desa di Tondano, salah satu pusat perkembangan musik bambu, arsip koleksi Tropenmuseum. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Sumber:


