Gunung Marapi Erupsi 7 November 2026, Abu Vulkanik Ganggu Warga Sungai Pua

Arsip Gunung Marapi dari Biaro, Agam, 15 Agustus 2026, bukan dokumentasi erupsi 7 November. Arsip Gunung Marapi dari Biaro, Agam, 15 Agustus 2026, bukan dokumentasi erupsi 7 November. Foto: Afdhal Sy / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

LENSA-INDO.COM, BUKITTINGGI — Gunung Marapi di Sumatera Barat mengalami erupsi pada Sabtu, 7 November 2026 pukul 09.55 WIB. Material abu terpantau mencapai kawasan Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam. Sejumlah warga melaporkan gangguan penglihatan dan pernapasan akibat abu vulkanik yang turun ke area permukiman maupun kebun.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi Ahmad Rifandi mencatat erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 15,6 milimeter dan durasi sekitar 48 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati dari pos pengamatan pada waktu kejadian. Gunung Marapi masih berada pada Level II atau Waspada menurut laporan yang diberitakan ANTARA pada Sabtu siang.

Abu turun di wilayah pertanian

Ketua Kampung Siaga Bencana Sariak, Ismail Damar, menyampaikan adanya hujan abu di Nagari Sariak, Sungai Pua. Abu dilaporkan mengganggu penglihatan dan membuat pernapasan tidak nyaman. Material vulkanik juga menutupi sebagian lahan pertanian dan kebun warga di lereng gunung.

Kepala dusun setempat, yang juga bernama Ismail, memilih berlindung di pondok ketika hujan abu terjadi saat ia berada di kebun. Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak erupsi dapat dirasakan warga yang beraktivitas cukup jauh dari area puncak, bergantung arah angin dan kondisi sebaran abu.

Radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek harus dihindari

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan masyarakat, pengunjung dan pendaki tidak memasuki atau beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Kawah Verbeek. Imbauan tersebut merupakan langkah perlindungan dari bahaya yang dapat terjadi di sekitar kawah.

Larangan mendekati pusat aktivitas tidak berarti semua tempat di luar radius tiga kilometer pasti bebas risiko. Abu dapat terbawa angin ke berbagai arah, sementara aliran air yang berhulu dari gunung memiliki potensi bahaya berbeda. Warga tetap harus mengikuti arahan petugas berdasarkan perkembangan pemantauan terbaru.

Ancaman lahar saat hujan

PVMBG juga mengingatkan warga di sekitar lembah, aliran sungai dan bantaran yang berhulu dari Gunung Marapi untuk mewaspadai kemungkinan lahar, terutama ketika terjadi hujan di kawasan puncak. Material vulkanik yang mengendap dapat bercampur air hujan lalu bergerak mengikuti aliran sungai.

Ketika hujan deras turun di hulu, warga sebaiknya menjauhi aliran sungai yang berubah keruh atau meningkat debitnya dengan cepat. Hindari menyeberang, menonton dari jarak dekat, atau memasuki daerah yang sudah diberi larangan oleh petugas. Informasi banjir lahar dan jalur evakuasi harus diperoleh dari pemerintah daerah serta lembaga penanggulangan bencana.

Langkah warga menghadapi hujan abu

Untuk mengurangi paparan abu, warga dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan bila memungkinkan dan memakai pelindung pernapasan yang sesuai ketika harus keluar. Makanan serta air bersih perlu dijaga agar tidak tercemar. Pengendara harus memperhatikan jarak pandang karena abu dapat mengurangi visibilitas dan mengganggu kondisi jalan.

Pembersihan atap dan halaman harus dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan. Abu yang menumpuk dapat menjadi berat saat basah. Jangan naik ke atap tanpa penilaian kondisi dan perlengkapan yang memadai. Apabila muncul sesak napas atau gejala berat, masyarakat sebaiknya mencari bantuan medis.

Tidak ada dasar untuk memprediksi letusan berikutnya

Data amplitudo dan durasi erupsi membantu petugas menggambarkan aktivitas yang telah terjadi. Angka tersebut tidak dapat digunakan masyarakat untuk menyimpulkan waktu pasti letusan selanjutnya. Berbagai informasi di media sosial yang mengklaim mengetahui jam erupsi berikutnya harus diperiksa dengan sangat hati-hati.

Masyarakat diminta tetap tenang, tidak menyebarkan kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan mengacu pada informasi PVMBG, BPBD serta pemerintah daerah. Hingga laporan yang diperiksa, informasi mengenai jumlah korban atau kerusakan bangunan akibat erupsi ini belum cukup untuk disimpulkan; redaksi tidak mengarang angka dampak.

Informasi peristiwa dapat diperbarui

Berita ini mencatat kondisi yang diketahui pada 7 November 2026, bukan menyatakan ancaman telah berakhir. Status gunung api dan batas aktivitas aman dapat berubah setelah evaluasi pemantauan. Warga di Kabupaten Agam, Tanah Datar, Kota Padang Panjang dan Bukittinggi perlu mengikuti pembaruan otoritas yang berwenang.

Sumber: ANTARA, 7 November 2026; MAGMA Indonesia/PVMBG. Foto unggulan: arsip Gunung Marapi pada Agustus 2026, bukan foto erupsi hari ini. Afdhal Sy / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *