Bulog Salurkan 180 Ton Jagung SPHP bagi Peternak Sulut, Pembelian Telur Juga Diperkuat

Ilustrasi peternakan ayam di Indonesia, bukan dokumentasi penyaluran jagung SPHP dan pembelian telur di Sulut. Ilustrasi peternakan ayam di Indonesia, bukan dokumentasi penyaluran jagung SPHP dan pembelian telur di Sulut. Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

LENSA-INDO.COM, TUMPAAN — Perum Bulog bersama Badan Pangan Nasional memperkuat dukungan bagi peternak ayam petelur skala mikro di Sulawesi Utara lewat program jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta pembelian hasil produksi telur. Kegiatan berlangsung di Peternakan Siane Sophia Karauan, Desa Tumpaan Baru, Kecamatan Tumpaan, Kabupaten Minahasa Selatan, dan dilaporkan ANTARA pada Sabtu, 7 November 2026.

Kepala Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo Dody Syahrial menyebut kolaborasi tersebut ditujukan menjaga kesinambungan usaha peternak. Pada kegiatan itu dilakukan penyerahan simbolis 180 ton jagung SPHP kepada 18 perwakilan koperasi peternak mikro. Istilah penyerahan simbolis penting dipertahankan karena tidak dengan sendirinya berarti seluruh jagung telah sampai ke masing-masing kandang pada hari yang sama.

Jagung SPHP ditawarkan Rp5.000 per kilogram

Bulog menyatakan jagung pakan melalui program SPHP disediakan dengan harga Rp5.000 per kilogram di gudang Bulog bagi peternak mikro sesuai ketentuan. Harga tersebut merujuk pada titik penyerahan gudang sehingga biaya pengangkutan menuju lokasi peternakan, apabila ada, perlu diperhitungkan secara terpisah.

Jagung merupakan bahan penting dalam formulasi pakan ternak unggas. Perubahan harga komoditas tersebut dapat memengaruhi struktur biaya produksi telur, terutama bagi usaha kecil yang memiliki keterbatasan modal untuk menyimpan stok dalam jumlah besar. Kepastian pasokan dapat membantu peternak mengatur pembelian bahan pakan dan jadwal pemeliharaan.

Pembelian telur bernilai Rp30 miliar merupakan program nasional

Selain jagung, Bulog dan ID FOOD mengumumkan program pembelian telur ayam dari peternak mikro. Nilai yang disebut dalam kegiatan tersebut adalah Rp30 miliar untuk program secara nasional, dengan pelaksanaan bertahap sampai Desember 2026.

Angka Rp30 miliar tidak boleh diartikan sebagai pembayaran yang seluruhnya dilakukan di Minahasa Selatan, maupun dana yang diterima oleh 18 koperasi dalam satu kegiatan. Besaran penyerapan per wilayah dan realisasi pembayarannya perlu dilihat dari laporan lanjutan penyelenggara. Pembedaan ini penting agar pembaca tidak mendapat kesan keliru tentang nilai bantuan daerah.

Menjaga sisi hulu dan hilir usaha peternakan

Pola dukungan pemerintah diarahkan pada dua sisi usaha. Dari hulu, penyediaan jagung pakan dengan harga terjangkau diharapkan menahan tekanan biaya. Dari hilir, program pembelian telur dimaksudkan memperluas saluran penjualan hasil peternak.

Peternak kecil dapat menghadapi kesulitan apabila harga pakan naik, sementara harga jual telur turun atau penyerapan pasar tidak stabil. Karena itu, penyaluran bahan pakan dan mekanisme pembelian hasil produksi perlu dievaluasi bersama. Program yang hanya menyediakan jagung tanpa memastikan distribusinya lancar mungkin belum cukup membantu peternak yang tinggal jauh dari gudang.

Transparansi distribusi tetap penting

Peternak yang hendak mengakses program sebaiknya memastikan syarat penerima, prosedur pengambilan, jumlah yang dialokasikan dan harga yang berlaku melalui Bulog maupun koperasi resmi. Dokumentasi berat barang, pembayaran, serta biaya logistik akan membantu mencegah sengketa di kemudian hari.

Informasi mengenai nilai subsidi atau jumlah peternak penerima secara keseluruhan belum dapat disimpulkan dari penyerahan simbolis yang diberitakan. Untuk menilai dampaknya, diperlukan data distribusi aktual, harga pakan di tingkat peternak dan jumlah telur yang benar-benar diserap. Dengan demikian, keberhasilan program bisa diukur berdasarkan manfaat yang diterima pelaku usaha, bukan semata seremoni peluncuran.

Peluang bagi peternakan rakyat Sulut

Minahasa Selatan merupakan salah satu wilayah yang memiliki kegiatan peternakan rakyat. Dukungan terhadap peternak mikro juga berhubungan dengan kestabilan pasokan pangan dan pendapatan rumah tangga produsen. Namun, dampak nyata program tidak otomatis sama bagi semua peternak. Ukuran usaha, akses gudang, kapasitas koperasi dan perubahan harga pasar dapat membuat hasilnya berbeda.

Sumber: ANTARA Sulawesi Utara, 7 November 2026. Foto unggulan adalah ilustrasi peternakan ayam di Indonesia, bukan dokumentasi kegiatan di Tumpaan. Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *