Petani Kamojang Manfaatkan Uap Panas Bumi untuk Produksi Pupuk Organik

Ilustrasi Petani Kamojang Manfaatkan Uap Panas Bumi untuk Produksi Pupuk Organik Ilustrasi. Nasa / Wikimedia Commons (Public domain)

BANDUNG, LENSA-INDO.COM – Seorang petani muda di lereng Kamojang, kawasan perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, Jawa Barat, memanfaatkan teknologi panas bumi untuk mengeringkan pupuk organik buatannya. Hendro, lulusan SMK yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan Cikondang, menggunakan sisa uap dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang sebagai sumber energi pengering pupuk.

Hendro dinobatkan sebagai local hero oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang karena perannya sebagai mitra binaan program pemberdayaan masyarakat yang aktif berbagi pengetahuan kepada petani lainnya. Di lahan seluas sekitar 1.400 meter persegi, ia membudidayakan berbagai komoditas termasuk cabai rawit yang dalam bahasa Sunda disebut cengek.

Hasil Panen Bertahap

Tanaman cabai rawit milik Hendro telah dipanen empat kali dengan hasil yang terus meningkat. Panen pertama menghasilkan 6 kilogram, kemudian naik menjadi 8 kilogram, 14 kilogram, dan terakhir mencapai 18 kilogram. Aktivitas panen dilakukan seminggu sekali dengan sebagian besar hasil dijual kepada pengepul.

Selain cabai rawit varietas domba dan stroberi, Hendro juga menerapkan sistem tumpang sari dengan menanam kentang di sela-sela cabai keriting. Metode ini memastikan tanah tidak menganggur setelah masa panen cabai keriting berakhir karena kentang sudah mulai berumbi.

Inovasi Pupuk Organik GeO-Fert

Keunikan usaha tani Hendro terletak pada gudang fermentasi di ujung lahannya. Di sana, ia meramu pupuk organik bernama GeO-Fert dengan mencampurkan kotoran ayam, sapi, dan domba bersama bahan organik seperti jerami, pangkasan daun kidayang, dan sisa panen kubis dengan perbandingan 1:1 antara kotoran dan hijauan.

Setelah diaduk dan difermentasi selama 21 hari hingga satu bulan, adonan pupuk tidak dijemur seperti metode konvensional. Hendro membawa pupuk basah tersebut ke ruang pengering khusus yang memanfaatkan uap dari perut bumi.

Teknologi Panas Bumi untuk Pertanian

Sepanjang jaringan pipa PLTP Kamojang terpasang steam trap, katup pembuang kondensat dan kelebihan uap agar aliran menuju turbin tetap kering. Sisa energi panas bersuhu sekitar 60 hingga 70 derajat Celsius dialirkan melalui pipa-pipa kecil di dalam ruang tertutup untuk mengeringkan pupuk organik. Fasilitas pengering bertenaga panas bumi ini merupakan teknologi yang jarang dimiliki petani di Indonesia, menjadikan Hendro perintis dalam mengintegrasikan teknologi energi terbarukan dengan praktik pertanian berkelanjutan.

Foto: Ilustrasi. Nasa / Wikimedia Commons (Public domain)


Sumber:

One thought on “Petani Kamojang Manfaatkan Uap Panas Bumi untuk Produksi Pupuk Organik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *