Politisi Malaysia Tegaskan Karhutla Bukan Konflik RI-Malaysia, Tekankan Tanggung Jawab Perusahaan

Ilustrasi Politisi Malaysia Tegaskan Karhutla Bukan Konflik RI-Malaysia, Tekankan Tanggung Jawab Perusahaan Ilustrasi. Nick Archibald / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

KUALA LUMPUR, LENSA-INDO.COM – Anggota Parlemen Malaysia Syed Saddiq Syed Abdul Rahman menegaskan bahwa permasalahan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bukanlah pertentangan antara kedua negara. Politisi muda tersebut menekankan pentingnya meminta pertanggungjawaban perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran, tanpa memandang asal negara perusahaan tersebut.

Pernyataan Syed Saddiq disampaikan melalui video di media sosial, sebagai respons terhadap komentar mantan Menteri Perdagangan Indonesia M Lutfi yang menanggapi kritik negara tetangga terkait masalah asap lintas batas. Dalam video tersebut, politisi Malaysia itu menyampaikan pesan bahwa ini bukanlah pertarungan Malaysia melawan Indonesia.

Fokus pada Dampak Kesehatan Masyarakat

Syed Saddiq menekankan bahwa isu utama yang harus diselesaikan adalah dampak kebakaran hutan terhadap warga di kawasan Asia Tenggara, khususnya gangguan kesehatan akibat paparan asap. Ia menolak untuk melindungi perusahaan mana pun yang terbukti menyebabkan pencemaran lingkungan, dengan menyatakan bahwa bendera bukan alasan untuk merusak alam.

Menurut pandangannya, perusahaan yang terbukti membakar hutan harus menghadapi tindakan tegas. Identitas atau asal negara perusahaan tidak boleh menjadi pembenaran untuk membebaskan pihak yang bertanggung jawab dari sanksi yang seharusnya mereka terima.

Usulan Kerja Sama Regional dan Tekanan Diplomatik

Sebelumnya, Syed Saddiq telah mengusulkan agar Malaysia bekerja sama dengan Singapura dan negara-negara ASEAN lainnya untuk memberikan tekanan diplomatik serta finansial kepada perusahaan yang terkait dengan kebakaran hutan di Indonesia. Ia juga mendorong penghentian pembiayaan terhadap perusahaan yang terbukti terlibat dalam praktik pembakaran lahan.

Politisi tersebut menilai bahwa pendekatan diplomatik yang selama ini ditempuh belum cukup efektif untuk menyelesaikan persoalan kabut asap yang terjadi berulang kali. Ia menyoroti dampak kabut asap terhadap anak-anak di kedua negara, mengingatkan bahwa masyarakat Malaysia dan Indonesia sama-sama membutuhkan udara bersih.

Konteks

Pernyataan Syed Saddiq muncul setelah mantan Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi mengkritik narasi yang dinilainya menyudutkan Indonesia dan seruan agar Indonesia dikucilkan oleh ASEAN. Lutfi berpendapat bahwa persoalan karhutla seharusnya berfokus pada pertanggungjawaban perusahaan, bukan menjadikan seluruh rakyat Indonesia sebagai sasaran kecaman.

Menanggapi polemik tersebut, Syed Saddiq kembali menegaskan bahwa penegakan tanggung jawab harus didasarkan pada bukti, bukan sentimen kebangsaan. Ia menekankan bahwa penyelesaian persoalan karhutla harus berfokus pada penindakan terhadap pihak yang bertanggung jawab serta perlindungan masyarakat dari dampak pencemaran udara.

Foto: Ilustrasi. Nick Archibald / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *