Warga India Timur Laut Tolak Bendungan Raksasa di Tengah Ketegangan dengan China

Ilustrasi Warga India Timur Laut Tolak Bendungan Raksasa di Tengah Ketegangan dengan China Ilustrasi. Cj.samson / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

ITANAGAR, LENSA-INDO.COM – Pemerintah India mengerahkan pasukan paramiliter ke sejumlah wilayah di Arunachal Pradesh, negara bagian timur laut India, setelah terjadi gelombang protes warga yang menolak rencana pembangunan bendungan pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 11.200 megawatt. Demonstrasi yang berlangsung pekan lalu di Lembah Siang, wilayah yang berbatasan dengan Tibet, berujung bentrokan antara pengunjuk rasa dengan polisi hingga menyebabkan empat perempuan mengalami luka-luka.

Kekhawatiran Warga Lokal

Masyarakat setempat, terutama komunitas suku Adi, menentang Proyek Multiguna Siang Upper (SUMP) karena khawatir pembangunan bendungan akan menenggelamkan desa-desa leluhur mereka, merusak lahan pertanian, serta menyebabkan penggusuran dalam skala besar. Kelompok Pemuda Adi Bane Kebang (ABKU), sebuah gerakan akar rumput lokal, memperingatkan dampak yang dapat ditimbulkan proyek tersebut terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Dalam aksi demonstrasi tersebut, sejumlah pengunjuk rasa dilaporkan merusak kendaraan polisi dan melempari petugas keamanan dengan batu, menurut keterangan kepolisian setempat.

Rivalitas Infrastruktur dengan China

Rencana pembangunan bendungan India ini tidak terlepas dari konteks geopolitik kawasan. Pada Desember 2024, China mengumumkan rencana membangun Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Medog dengan kapasitas 60.000 MW di bagian hulu Sungai Siang yang sama, yang di wilayah Tibet dikenal sebagai Yarlung Zangbo. Pemerintah India memandang bendungan SUMP sebagai fasilitas strategis untuk mengatur aliran sungai sekaligus memperkuat ketahanan air dan energi nasional, mengingat ancaman dari proyek China di hulu sungai. Wakil Ketua Menteri Arunachal Pradesh, Chowna Mein, menjelaskan melalui platform X bahwa bendungan India dirancang tidak hanya untuk menghasilkan listrik tetapi juga menyimpan dan mengelola aliran air guna mengurangi risiko banjir jika terjadi pelepasan air secara tiba-tiba dari bendungan China.

Sengketa Wilayah dan Respons Politik

Persoalan pembangunan bendungan juga berkaitan erat dengan sengketa teritorial antara India dan China atas Arunachal Pradesh, yang oleh Beijing disebut Zangnan dan diklaim sebagai bagian dari Tibet selatan. Pemerintah negara bagian Arunachal Pradesh menyebut rencana bendungan China sebagai ancaman eksistensial bagi wilayah mereka. Sementara itu, Partai Kongres sebagai oposisi utama di New Delhi mengaitkan demonstrasi ini dengan gerakan generasi muda yang lebih luas untuk melindungi hak lingkungan dan masyarakat setempat. Pimpinan Partai Kongres Pawan Khera menyatakan, “Generasi Z di seluruh negeri turun ke jalan. Di Arunachal Pradesh, mereka menuntut perlindungan hutan, sungai, dan ekosistem yang telah menjadi sandaran masyarakat Adi selama berabad-abad.” Mantan Ketua Menteri Arunachal Pradesh, Gegong Apang, turut menyerukan pembatalan proyek tersebut.

Konteks

Proyek bendungan di Sungai Siang pertama kali diusulkan sebagai proyek nasional pada 2008 oleh pemerintah yang dipimpin Partai Kongres dan sejak itu menjadi salah satu proyek infrastruktur paling kontroversial di Arunachal Pradesh. Pemerintah daerah kini meningkatkan pengamanan untuk mengantisipasi demonstrasi lanjutan sekaligus menilai bahwa kekhawatiran masyarakat dipengaruhi oleh informasi yang salah dan kesalahpahaman mengenai proyek. Bendungan SUMP yang direncanakan memiliki ketinggian sekitar 280-300 meter dengan kapasitas penyimpanan aktif sekitar 9,2 miliar meter kubik, sementara bendungan China diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 2.000 meter dengan kapasitas penyimpanan 5,5 miliar meter kubik.

Foto: Ilustrasi. Cj.samson / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *