LENSA-INDO.COM, HALMAHERA BARAT — Badan Geologi Kementerian ESDM menaikkan status Gunung Gamkonora di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Perubahan status berlaku sejak 6 November 2026 pukul 16.00 WIB setelah pemantauan menunjukkan kenaikan aktivitas kegempaan vulkanik.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Gamkonora, Ridwan Jalil, dalam keterangan yang diberitakan ANTARA pada Sabtu, 7 November, menegaskan aktivitas pendakian ke puncak ditutup sementara. Masyarakat, pengunjung, serta wisatawan diminta tidak memasuki atau beraktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat erupsi.
Kenapa status Gunung Gamkonora dinaikkan?
Pengamatan Badan Geologi menunjukkan frekuensi gempa vulkanik dangkal meningkat sejak 29 Oktober 2026. Rata-rata kejadian yang semula kurang dari dua kali per hari bertambah menjadi sekitar sembilan kali per hari. Gempa vulkanik dalam juga mengalami peningkatan, dari rata-rata kurang dari empat menjadi lima kejadian per hari.
Data aktivitas seismik merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk memahami dinamika di bawah gunung. Peningkatan frekuensi tidak otomatis berarti erupsi besar pasti akan terjadi pada tanggal tertentu. Akan tetapi, perubahan pola tersebut menjadi dasar bagi otoritas untuk meningkatkan kewaspadaan serta membatasi kegiatan di lokasi berisiko.
Catatan pemantauan Oktober dan awal November
Selama Oktober 2026, peralatan pemantauan mencatat 129 gempa Tornillo, lima gempa frekuensi rendah, 28 gempa vulkanik dangkal, 79 gempa vulkanik dalam, 105 gempa tektonik lokal, dan 475 gempa tektonik jauh. Pada periode 1–5 November, pemantauan mencatat 13 gempa Tornillo, tiga gempa frekuensi rendah, satu gempa vulkanik dangkal, delapan gempa vulkanik dalam, 23 gempa tektonik lokal, dan 70 gempa tektonik jauh.
Rincian tersebut menjelaskan mengapa evaluasi dilakukan berdasarkan rangkaian data, bukan hanya satu getaran yang dirasakan warga. Jenis gempa yang berbeda memberikan petunjuk berbeda pula kepada petugas, sehingga penafsirannya harus dilakukan oleh tenaga pemantauan yang berwenang.
Pendakian ditutup, radius dua kilometer dihindari
Ridwan menyampaikan bahwa dalam kondisi sebelumnya, masyarakat dan pendaki masih dapat melakukan kegiatan dengan mengikuti batas tertentu. Setelah status dinaikkan, semua aktivitas pendakian tidak diperbolehkan untuk sementara.
Badan Geologi juga merekomendasikan larangan kegiatan dalam radius dua kilometer dari pusat erupsi. Pengunjung tidak sebaiknya mendatangi tepi kawah demi mengambil gambar, walaupun gunung tampak tenang. Risiko yang tidak langsung terlihat, seperti perubahan emisi gas, aktivitas kawah, dan kondisi medan, memerlukan kewaspadaan tersendiri.
Asap kawah masih teramati
Secara visual, kawah utama mengeluarkan asap putih berintensitas tipis dengan ketinggian sekitar 30–50 meter dari puncak pada pengamatan yang dilaporkan. Gunung juga dapat tertutup kabut, sehingga pengamatan visual pada waktu tertentu memiliki keterbatasan. Karena itu, pemantauan instrumental tetap dibutuhkan ketika kondisi cuaca mengurangi jarak pandang.
Informasi tentang asap kawah tidak boleh diklaim sebagai erupsi baru jika laporan resmi hanya menyebut pengamatan emisi. Perubahan status Gamkonora kali ini terutama terkait peningkatan aktivitas kegempaan yang dievaluasi oleh Badan Geologi.
Arahan bagi warga di Halmahera Barat
Masyarakat perlu mematuhi pembatasan akses yang diterapkan petugas, tidak mempercayai pesan berantai berisi prediksi waktu letusan, dan mengikuti kanal resmi pemerintah daerah maupun PVMBG. Pelaku wisata serta pengelola perjalanan sebaiknya memperbarui informasi sebelum menerima tamu atau menyusun rencana pendakian.
Penilaian tingkat aktivitas akan dilakukan berkala atau sewaktu-waktu jika terjadi perubahan penting. Karena itu, Level II Waspada bukan keterangan permanen. Informasi yang diberitakan pada 7 November dapat diperbarui mengikuti pengamatan sesudahnya.
Sumber utama: ANTARA, 7 November 2026 — Keterangan Pos Pengamatan Gamkonora. Informasi pemantauan: MAGMA Indonesia. Foto arsip Gamkonora tahun 1984, A. Solihin / Volcanological Survey of Indonesia, Wikimedia Commons; bukan dokumentasi November 2026.

