JAKARTA, LENSA-INDO.COM – Gletser Thwaites di Antartika, salah satu gletser terbesar di dunia, mencair jauh lebih cepat dari proyeksi sebelumnya dan dapat menyumbang kenaikan permukaan laut global hingga dua kali lipat prediksi terdahulu menjelang akhir abad ini, menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pekan ini.
Studi tersebut mengungkapkan bahwa gletser seluas 192.000 kilometer persegi ini kehilangan massa es secara cepat akibat intrusi air laut hangat yang menembus hingga beberapa kilometer di bawah lapisan es dan mencairkannya dari dasar. Berdasarkan temuan baru, Gletser Thwaites diperkirakan menyumbang kenaikan muka laut hingga 30 milimeter pada tahun 2100, bahkan tanpa adanya pemanasan tambahan di luar kondisi terkini.
Revisi Proyeksi Kenaikan Laut
Angka proyeksi terbaru ini melonjak signifikan dibandingkan model konvensional sebelumnya yang memperkirakan kontribusi gletser ini hanya sekitar 15 milimeter terhadap kenaikan permukaan laut global hingga 2100. Gletser yang dijuluki “Gletser Kiamat” ini mencakup area lebih luas dari negara bagian Florida di Amerika Serikat dan memiliki potensi dampak serius jika runtuh.
Saat ini, Gletser Thwaites menyumbang sekitar 4 persen dari kenaikan muka laut global. Sejak tahun 2000, gletser ini telah kehilangan lebih dari 1 triliun ton es, dengan laju kehilangan mencapai 50 miliar ton setiap tahunnya. Para ilmuwan mulai memantau gletser ini secara intensif sejak penemuan pada 1980-an bahwa es di kawasan tersebut mengalami kemunduran pesat.
Mekanisme Pemompaan Pasang Surut
Penelitian terbaru berfokus pada zona landasan Thwaites, area tempat es yang awalnya bertumpu pada batuan dasar mulai mengapung di atas laut. Mattia Poinelli, ilmuwan proyek dari University of California, Los Angeles (UCLA) yang menjadi penulis utama studi, menjelaskan bahwa proses pemompaan pasang surut memungkinkan air hangat menjangkau bagian bawah es yang jauh lebih dalam dan memicu pencairan intensif, seperti dikutip Antara.
Berbeda dengan model sebelumnya yang memperlakukan garis landasan sebagai batas tetap, penelitian ini memodelkan zona lebih luas di mana pasang surut berulang kali mengangkat dan menurunkan lapisan es sehingga air laut hangat dapat meresap lebih jauh ke bawahnya. Perubahan iklim akibat aktivitas manusia, khususnya pemanasan terkait emisi bahan bakar fosil, meningkatkan suhu laut dan memperbesar tekanan terhadap gletser di berbagai belahan dunia.
Risiko Pelepasan dari Punggung Bawah Laut
Pemodelan baru juga menimbulkan kekhawatiran bahwa Gletser Thwaites dapat kehilangan kontak dengan Punggung Mouginot, struktur bawah laut yang saat ini berfungsi menahan pergerakan gletser. Simulasi yang selaras dengan pengamatan terbaru menunjukkan peluang sekitar 60 persen bahwa gletser akan terlepas dari punggung tersebut pada 2100, bahkan berpotensi terjadi sejak akhir 2030-an.
Konteks
Gletser Thwaites merupakan bagian dari Lapisan Es Antartika Barat yang jauh lebih luas. Bersama gletser lain termasuk Gletser Pine Island, Thwaites berfungsi sebagai penahan yang membatasi aliran es dalam jumlah besar dari daratan menuju laut. Para peneliti memperingatkan bahwa perubahan pada gletser ini dapat mempercepat kemunduran dan meningkatkan risiko kenaikan muka laut serta banjir bagi masyarakat pesisir di seluruh dunia, melebihi perkiraan sebelumnya.
Konteks bagi Sulawesi Utara
Bagi Sulawesi Utara, kenaikan muka laut bukan isu yang jauh. Provinsi kepulauan ini memiliki banyak pulau kecil dan garis pantai panjang, termasuk Kepulauan Sangihe, Talaud, Sitaro, serta kawasan pesisir Manado, Bitung, dan Minahasa Utara, yang rentan terhadap abrasi dan banjir rob bila permukaan laut terus naik.
Foto: Ilustrasi. Vincent van Zeijst / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Sumber:
