MINAHASA, LENSA-INDO.COM — Ladang-ladang di Desa Senduk, Kecamatan Tombariri, bukan sekadar hamparan tanah pertanian. Dari tempat itulah Bripda Rafael Warouw Polonsakan menanam nilai pengabdian tentang pangan, budaya, dan kedekatan aparat negara dengan masyarakat.
Terlahir dari keluarga petani, Rafael tumbuh dengan kebiasaan membantu orang tua mengolah tanah. Pengalaman masa kecil di ladang membentuk karakter kerja keras dan kepedulian sosial yang kini ia bawa dalam tugasnya sebagai anggota Polri di Polda Sulawesi Utara Resor Bitung.

Dalam mendukung program pemerintah di bidang ketahanan pangan, Rafael terlibat langsung mendampingi masyarakat mengelola lahan produktif dan kegiatan pertanian berbasis kebersamaan di wilayah desa. Baginya, ketahanan pangan dimulai dari ladang-ladang kecil yang dikelola dengan kesadaran dan semangat gotong royong.
“Ketahanan pangan itu lahir dari desa. Kalau ladang terjaga dan petani sejahtera, maka masyarakat akan kuat. Di situ peran kami hadir, bukan hanya menjaga keamanan, tetapi ikut menguatkan,” ujar Rafael.

Di luar tugas kepolisian dan kegiatan pangan, Rafael juga aktif melestarikan budaya Minahasa melalui Tari Kawasaran, Tari Maengket, Musik Kolintang, dan Musik Bambu. Ia percaya budaya adalah akar yang menjaga identitas masyarakat di tengah perubahan zaman.

“Sebagai anak muda, kita harus bangga dengan ladang dan budaya sendiri. Keduanya adalah warisan yang harus dijaga agar tidak hilang,” katanya.

Melalui keterlibatannya dalam kegiatan kepemudaan dan sosial, Rafael mengajak generasi muda desa untuk mencintai pertanian, menjaga budaya, dan berani berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya. Dari ladang desa, ia menegaskan bahwa ketahanan pangan dan jati diri bangsa tumbuh bersama melalui pengabdian yang tulus.

LensaIndo #HumanInterest #KetahananPangan #BudayaMinahasa #PengabdianPolri #PolriPresisi #PanganDesa #BudayaLokal #PemudaMinahasa #SulawesiUtara
