JENEWA, LENSA-INDO.COM – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan konsentrasi karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca utama lainnya di atmosfer mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2025, memperburuk laju pemanasan global yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Angka Rekor yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan WMO Greenhouse Gas Bulletin, rata-rata konsentrasi CO2 secara global pada 2025 mencapai 482,8 parts per million (ppm), atau setara dengan 153 persen dibanding tingkat pra-industrialisasi tahun 1750. Laju kenaikan rata-rata tahunan CO2 juga meningkat tiga kali lipat sejak era 1960-an, dari 0,8 ppm menjadi 2,4 ppm per tahun selama periode 2011–2020.
Tidak hanya CO2, dua gas rumah kaca berumur panjang lainnya juga mencetak rekor baru. Rata-rata konsentrasi metana global pada 2025 mencapai 1.948 parts per billion (ppb) — setara 267 persen dibanding tahun 1750 — sementara dinitrogen oksida (N2O) mencapai 339,1 ppb, atau 126 persen lebih tinggi dari tingkat pra-industrialisasi.
Indeks Gas Rumah Kaca Tahunan dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) menunjukkan efek pemanasan akibat gas rumah kaca berumur panjang meningkat 56 persen selama periode 1990–2025, dengan CO2 menyumbang sekitar 81 persen dari kenaikan tersebut.
Peringatan Para Ilmuwan WMO
Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barrett menegaskan bahwa sebelas tahun terakhir merupakan periode terpanas yang pernah tercatat, dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut. Ia memperingatkan bahwa gas rumah kaca kini “merangkap panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya,” seperti dikutip CNN Indonesia.
Pejabat ilmiah senior WMO, Oksana Tarasova, menjelaskan bahwa kenaikan konsentrasi CO2 sebesar 2,8 ppm pada periode 2024–2025 sedikit lebih rendah dibanding lonjakan 2023–2024. Hal itu disebabkan pemulihan kemampuan ekosistem daratan menyerap karbon dan berkurangnya emisi akibat kebakaran hutan setelah fenomena El Niño kuat pada 2023–2024. Namun, Tarasova memperingatkan konsentrasi CO2 berpotensi kembali melonjak pada 2026 seiring tumbuhnya El Niño berikutnya dan kelanjutan pembakaran bahan bakar fosil.
Konteks
WMO menerbitkan buletin tahunan ini sebagai acuan ilmiah bagi para negosiator dalam konferensi iklim PBB, termasuk pertemuan COP31 yang akan datang. Temuan menunjukkan sekitar separuh dari total CO2 yang dilepaskan setiap tahun tetap terakumulasi di atmosfer, sementara sisanya diserap ekosistem darat dan lautan.
WMO juga menyoroti dua gas dengan jumlah lebih kecil namun berdampak besar: sulfur heksafluorida (SF6) yang memiliki potensi pemanasan global sekitar 24.300 kali lebih besar dibanding CO2 dengan masa bertahan di atmosfer lebih dari 1.000 tahun, serta hidrogen molekuler yang penggunaannya terus meningkat seiring transisi energi global. Laporan ini menjadi pengingat bahwa upaya dekarbonisasi harus turut memperhatikan gas-gas tersebut agar target iklim jangka panjang dapat tercapai.
Foto: Ilustrasi. National Oceanic and Atmospheric Administration Earth System Research Laboratory / Wikimedia Commons (Public domain)
Sumber:


