MOSKOW, LENSA-INDO.COM – Ukraina melancarkan serangan udara masif dengan mengirimkan lebih dari seribu pesawat nirawak ke wilayah Rusia pada akhir pekan lalu, Sabtu hingga Minggu (17-18/10) waktu setempat. Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan berhasil melumpuhkan 1.015 drone Ukraina yang menyerang 15 wilayah Rusia, Semenanjung Krimea, dan perairan Laut Hitam.
Serangan itu menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai lima lainnya, khususnya di St. Petersburg. Terminal minyak serta depot bahan bakar Ruchi di distrik Kolpinsky, bagian selatan kota pelabuhan tersebut, terbakar hebat. Petugas pemadam kebakaran terus berjibaku memadamkan api yang melanda infrastruktur minyak, gudang industri, sejumlah bangunan hunian, dan dua rumah.
Lumpuhkan Bandara dan Pusat Data
Gubernur St. Petersburg Alexander Beglov menyebut ofensif Kyiv kali ini sebagai serangan “besar-besaran”. Operasional bandara utama St. Petersburg—salah satu yang tersibuk di Rusia—terpaksa dibatasi demi alasan keamanan. Perusahaan e-commerce Ozon melaporkan kebakaran di pusat logistik mereka, sementara perusahaan internet VK menyatakan pusat data di wilayah Leningrad yang lebih luas juga diserang drone, meski layanan kepada pengguna tetap normal.
Gubernur Leningrad Alexander Drozdenko mengatakan 145 drone berhasil ditembak jatuh di wilayah tersebut. Serangan menyebabkan sekitar 20.000 warga kehilangan pasokan listrik.
Trump Murka, Zelensky Tegaskan Upaya Damai
Serangan Ukraina memicu kemarahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu, Trump mengkritik tajam Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dengan mengatakan bahwa Zelensky “tidak ingin mengakhiri perang ini, dan mungkin memang tidak pernah menginginkannya.” Trump kesal karena Ukraina tetap menyerang terminal minyak Rusia meski sudah diingatkan untuk tidak menghantam infrastruktur tersebut.
Trump menegaskan tidak ingin melakukan langkah yang dapat menjauhkan Rusia dari perundingan damai, seraya menambahkan bahwa “kemajuan besar sedang dicapai” dalam proses tersebut. Meski demikian, Zelensky membantah tuduhan Trump. Dalam wawancara dengan program “Meet the Press” di NBC News, Zelensky memperingatkan bahwa jika AS berpihak pada Rusia, hal itu akan menjadi “kesalahan bersejarah.”
Konteks
Ketegangan antara Ukraina dan AS memanas setelah Trump mengeluarkan kebijakan pengecualian yang membebaskan Rusia dari sanksi ekonomi menyeluruh seperti diamanatkan Kongres AS. Pengecualian tersebut dilakukan menyusul kesepakatan antara Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin agar Rusia menjual bahan bakar diesel kepada AS.
Zelensky mengungkapkan telah berbicara dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, pada Minggu sebagai bagian dari “komunikasi tanpa henti” guna mencapai perdamaian. Dalam unggahan di platform X, Zelensky menulis: “Kami melakukan segala upaya dari pihak kami untuk mewujudkan hal ini, serta memastikan posisi Amerika tetap kuat guna membantu mempercepat tercapainya perdamaian.”
Foto: Ilustrasi. United States Army Reserve Command / Wikimedia Commons (Public domain)
Sumber:


