LENSA-INDO.COM, NEW DELHI — Ibu kota India, Delhi, menempati posisi teratas dalam pemeringkatan langsung kota-kota besar dengan kualitas udara terburuk pada Sabtu pagi, 7 November 2026, menurut perusahaan pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir. Peningkatan polusi terjadi menjelang perayaan Diwali pada Minggu, ketika penggunaan petasan dikhawatirkan menambah beban pencemaran udara.
Reuters melaporkan IQAir mencatat angka indeks kualitas udara berbasis standar Amerika Serikat sebesar 581 untuk Delhi pada pukul 10.35 waktu setempat. Sebagai perbandingan pada waktu yang sama, Lahore di Pakistan tercatat 285 dalam sistem pemantauan tersebut. Peringkat ini bersifat langsung dan dapat berubah seiring kondisi cuaca serta konsentrasi polutan.
Perbedaan angka IQAir dan indeks resmi India
Pada Sabtu pukul 10.00, Badan Pengendalian Pencemaran Pusat India atau Central Pollution Control Board (CPCB) mencatat indeks kualitas udara Delhi sebesar 363, yang termasuk kategori sangat buruk dalam sistem India. Perbedaan antara angka 581 dan 363 bukan berarti salah satu sumber pasti keliru.
Reuters menegaskan bahwa indeks yang digunakan IQAir dan indeks resmi India memiliki skala serta metode penghitungan berbeda, sehingga angkanya tidak dapat dibandingkan secara langsung. Ketika membaca berita pencemaran udara, masyarakat perlu memperhatikan sumber pengukuran, waktu pencatatan, dan sistem indeks yang dipakai.
Sekolah diminta menyediakan pembelajaran daring
Otoritas di wilayah Delhi dan sekitarnya telah mengarahkan sekolah untuk menyediakan pilihan kelas daring ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat juga didorong bekerja dari rumah apabila memungkinkan dan mempertimbangkan penundaan kegiatan yang mengumpulkan banyak orang di luar ruangan.
Langkah tersebut bertujuan mengurangi paparan polusi sekaligus membatasi aktivitas yang dapat menambah pencemaran. Walaupun pembelajaran daring bisa mengurangi perjalanan harian sebagian keluarga, penerapannya juga memerlukan kesiapan perangkat, jaringan internet, dan pendampingan bagi siswa yang membutuhkan.
Diwali dan tekanan terhadap kualitas udara
Diwali merupakan festival cahaya yang dirayakan luas di India. Dalam beberapa perayaan, penggunaan petasan menghasilkan asap serta partikel yang dapat memperburuk kondisi udara untuk sementara waktu. Namun, pencemaran Delhi tidak hanya muncul akibat perayaan tahunan itu.
Setiap awal musim dingin, kondisi udara yang lebih dingin dan stabil dapat menahan polutan lebih dekat ke permukaan tanah. Emisi kendaraan, debu proyek konstruksi, aktivitas industri, dan pembakaran sisa tanaman di sejumlah wilayah turut menjadi faktor. Kombinasi banyak sumber emisi membuat penanganan kualitas udara memerlukan kebijakan lintas sektor dan lintas wilayah.
Menurut laporan Reuters, kualitas udara Delhi pada Jumat menjelang Diwali disebut sebagai yang terburuk dalam delapan tahun terakhir untuk periode serupa, berdasarkan pemberitaan media lokal yang merujuk pada data resmi. Klaim tersebut perlu dilihat sesuai periode pembandingnya, bukan diartikan bahwa Jumat adalah hari dengan polusi terburuk sepanjang sejarah Delhi.
Risiko kesehatan bagi masyarakat
Partikel halus di udara dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk gangguan kesehatan tertentu. Orang dengan asma, penyakit paru, penyakit jantung, serta anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang perlu lebih berhati-hati ketika polusi meningkat tajam.
Dalam kondisi udara sangat buruk, warga sebaiknya mengikuti anjuran otoritas kesehatan, mengurangi olahraga berat di luar ruangan, dan menjaga kualitas udara di dalam rumah sejauh memungkinkan. Penggunaan pelindung pernapasan yang sesuai saat harus keluar rumah dapat membantu mengurangi sebagian paparan, tetapi tidak menghilangkan seluruh risiko pencemaran.
Tantangan kebijakan jangka panjang
Perubahan jadwal sekolah atau anjuran bekerja dari rumah dapat membantu mengurangi paparan pada hari-hari kritis. Namun, upaya semacam itu tidak menggantikan pengendalian emisi dari kendaraan, industri, konstruksi, dan pembakaran terbuka. Masalah kabut polusi di wilayah utara India berulang setiap tahun sehingga penanganannya membutuhkan pengukuran yang konsisten dan kerja sama antardaerah.
Masyarakat juga perlu mengetahui bahwa peringkat kualitas udara berubah dari jam ke jam. Penyebutan Delhi sebagai kota besar paling berpolusi dalam berita ini merujuk pada pengamatan Sabtu pagi, 7 November 2026, bukan peringkat permanen untuk sepanjang tahun.
Perkembangan yang perlu diperhatikan
Otoritas setempat dapat menyesuaikan pembatasan kegiatan jika polusi membaik atau memburuk. Warga sebaiknya memantau indeks kualitas udara resmi, pengumuman sekolah, dan imbauan kesehatan sebelum membuat rencana kegiatan luar ruangan. Kondisi pada hari perayaan Diwali pun dapat berbeda dari angka yang tercatat sehari sebelumnya.
Sumber: Reuters, 7 November 2026 — Delhi world’s most polluted major city on eve of Diwali; Reuters via The News — Kebijakan sekolah daring di Delhi.
Foto unggulan merupakan arsip kabut polusi di Delhi tahun 2016, bukan rekaman kondisi pada 7 November 2026. AnkClix / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.


