BENGKULU, LENSA-INDO.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Pulau Baai Bengkulu mengeluarkan imbauan kepada para nelayan dan masyarakat pesisir agar tidak memaksakan diri melaut di tengah kondisi gelombang yang berpotensi membahayakan keselamatan, Selasa (27/10/2026).
Gelombang Capai Tiga Meter, Angin Kencang Jadi Pemicu
Berdasarkan pemantauan BMKG, tinggi gelombang di perairan Bengkulu saat ini diperkirakan berada di kisaran dua hingga tiga meter. Meski masuk kategori sedang, kondisi tersebut dinilai tetap perlu diwaspadai karena dapat membahayakan nelayan yang sedang beraktivitas di laut.
Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Pulau Baai Bengkulu, Anang Anwar, menyebutkan bahwa gelombang tersebut dipicu oleh kecepatan angin yang cukup kencang akibat pengaruh angin kering dari Australia yang masih melintasi wilayah Indonesia. Kecepatan angin rata-rata di wilayah Bengkulu saat ini tercatat antara 10 hingga 15 knot, dan berpotensi meningkat hingga 20–25 knot.
“Tinggi gelombang laut di perairan Bengkulu saat ini menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai para nelayan,” kata Anang, seperti dikutip Antara.
Nelayan Diminta Pantau Informasi Cuaca Secara Berkala
BMKG meminta seluruh nelayan dan masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan Bengkulu untuk terus memperbarui informasi cuaca sebelum memutuskan turun ke laut. Pemantauan berkala dinilai penting agar nelayan dapat menentukan waktu yang aman untuk berlayar dan menghindari risiko kecelakaan akibat perubahan cuaca yang tiba-tiba.
Anang menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap aktivitas di perairan. BMKG juga menyediakan peringatan dini terkait potensi angin kencang dan gelombang tinggi yang dapat diakses oleh masyarakat.
Konteks
Fenomena angin kering dari Australia atau yang dikenal sebagai Monsun Australia merupakan siklus tahunan yang umumnya berlangsung pada pertengahan hingga akhir tahun. Angin ini kerap mempengaruhi kondisi laut di pesisir barat dan selatan Indonesia, termasuk perairan Bengkulu, dengan meningkatkan kecepatan angin permukaan dan memicu gelombang lebih tinggi dari kondisi normal.
Kondisi serupa berpotensi terjadi pula di perairan wilayah lain yang masih berada dalam jalur pengaruh Monsun Australia. Nelayan di berbagai daerah pesisir Indonesia dianjurkan untuk selalu merujuk informasi resmi BMKG sebelum melaut guna meminimalkan risiko kecelakaan di laut.
Foto: Ilustrasi. www.twin-loc.fr / Wikimedia Commons (CC BY 2.0)
Sumber:


