Berapa Lama Anak Boleh Main Gawai? Ini Panduan Screen Time dari IDAI dan Tips Menerapkannya

Anak-anak menggunakan komputer tablet Ilustrasi: anak-anak menggunakan tablet. Intel Free Press / Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0)

MANADO, LENSA-INDO.COM – Ponsel dan tablet kini menjadi bagian dari keseharian keluarga. Gawai bisa membantu anak belajar dan tetap terhubung dengan kerabat yang jauh, tetapi waktu layar (screen time) yang berlebihan juga membawa risiko bagi tumbuh kembang. Lalu, berapa lama sebenarnya anak boleh menatap layar? Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah memberikan panduan yang bisa dijadikan pegangan orang tua.

Panduan Screen Time Menurut Usia

Dalam seminar media IDAI bertajuk “Digital Safety pada Anak” dan sejumlah kesempatan lain, dokter spesialis anak dr. Farid Agung Rahmadi, Sp.A, Subsp.TKPS(K) menjelaskan batasan berikut:

  • Di bawah 1 tahun: tidak dianjurkan terpapar layar sama sekali.
  • 1–2 tahun: layar hanya untuk panggilan video dengan keluarga dekat, dan tetap didampingi orang tua.
  • 2–6 tahun: maksimal sekitar satu jam per hari, dengan pendampingan aktif serta konten yang edukatif, berkualitas, dan bebas kekerasan.
  • Semua usia: hentikan penggunaan layar setidaknya satu jam sebelum tidur, dan jangan jadikan gawai satu-satunya cara menenangkan anak.

“Anak umur 2 sampai 6 tahun ini screen time-nya jangan lebih dari satu jam dan harus didampingi,” kata dr. Farid seperti dikutip Metro TV.

Untuk anak usia sekolah dan remaja, tidak ada satu angka baku yang berlaku untuk semua keluarga. Yang lebih penting adalah memastikan waktu layar tidak menggeser kebutuhan dasar seperti tidur cukup, aktivitas fisik, belajar, dan waktu bersama keluarga.

Mengapa Perlu Dibatasi?

Usia dini adalah masa emas perkembangan otak. Pada periode ini, anak paling banyak belajar dari interaksi langsung: berbicara, bermain, menyentuh, dan mengamati lingkungan sekitarnya. Menurut penjelasan IDAI, paparan layar yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan tersebut sehingga kemampuan perkembangan anak tidak terstimulasi secara optimal.

Gambar yang berganti dengan cepat di layar juga dikaitkan dengan perilaku anak yang tampak serba cepat atau terlihat hiperaktif. Selain itu, penggunaan gawai menjelang tidur dapat mengganggu kualitas istirahat anak.

dr. Farid juga menepis kekhawatiran bahwa anak akan tertinggal bila tidak dikenalkan teknologi sejak dini. Mengutip American Academy of Pediatrics, ia menyebut anak yang baru dikenalkan pada teknologi di usia 3–4 tahun pun bisa mempelajarinya dengan cepat.

7 Tips Menerapkan Batas Screen Time di Rumah

  1. Dampingi, bukan sekadar menemani. Ajak anak berbicara tentang apa yang ia tonton, tanyakan pendapatnya, dan kaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
  2. Pilih konten yang interaktif. Utamakan tayangan yang mengajak anak merespons, bernyanyi, atau bergerak, bukan sekadar menonton pasif.
  3. Buat jadwal yang jelas. Tentukan kapan dan berapa lama gawai boleh dipakai, misalnya setelah tugas sekolah selesai, lalu konsisten menjalankannya.
  4. Tetapkan zona dan waktu bebas gawai. Contohnya tidak ada ponsel saat makan bersama dan di kamar tidur pada malam hari, termasuk untuk orang tua.
  5. Siapkan kegiatan pengganti. Mainan balok, buku cerita, menggambar, berkebun, atau bermain di luar rumah bisa menjadi alternatif yang menyenangkan.
  6. Jadilah contoh. Anak meniru kebiasaan orang tua. Bila orang tua terus menatap ponsel, anak akan menganggap hal itu wajar.
  7. Manfaatkan fitur kontrol orang tua. Sebagian besar ponsel, tablet, dan aplikasi video menyediakan pengatur batas waktu serta filter konten sesuai usia.

Tanda Waktu Layar Mulai Berlebihan

Orang tua perlu waspada bila anak mudah marah atau tantrum saat gawai diambil, sulit tidur, kurang tertarik bermain dengan teman sebaya, atau mengalami keterlambatan bicara. Bila tanda-tanda ini muncul, kurangi waktu layar secara bertahap dan konsultasikan dengan dokter anak atau tenaga kesehatan di puskesmas terdekat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah video call dengan nenek atau kakek termasuk screen time?
Ya, tetapi IDAI menilai panggilan video dengan keluarga dekat masih boleh untuk anak 1–2 tahun karena bersifat interaktif, asalkan didampingi orang tua.

Bagaimana jika anak harus belajar daring?
Waktu belajar daring biasanya dihitung terpisah dari waktu layar untuk hiburan. Tetap beri jeda istirahat mata, atur posisi duduk, dan batasi tontonan hiburan di luar jam belajar.

Apakah tontonan edukatif boleh lebih lama?
Untuk anak 2–6 tahun, batas sekitar satu jam per hari tetap disarankan, termasuk untuk konten edukatif. Nilai belajarnya akan jauh lebih besar bila orang tua ikut mendampingi.

Foto: Ilustrasi — anak-anak menggunakan tablet. Intel Free Press / Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *